Hari sudah pagi, matahari juga telah menunjukan sinarnya. Seorang wanita dengan seragam kebanggan sekolahnya telah duduk manis di kursi ruang makan sambil menyesap susu coklat buatan bundanya.
Panggil saja namanya Lea, wilea nayudya seorang siswi yang tengah duduk di bangku kelas 11 SMA Harapan Bangsa. Dia bukan seorang yang menonjol disekolahnya juga bukan golongan orang nerd. Dia hanya wanita biasa yang mencoba menjalani hidupnya dengan tenang.
"Bun, Abang weekend ini ke jogja ya?" Ucap seorang laki laki yang tengah menuruni tangga sambil menenteng tas punggungnya.
"Jogja? Jogjakarta? Mau ngapain?" Tanya bunda meli. Sekarang beliau tengah menyiapkan sarapan didapur.
"Hunting foto, Bun. Bareng temen temen club fotografi" Ujar lelaki itu menjelaskan.
"Apa bang? Jogja?" Tanya lea, yang sepertinya baru menyadari percakapan antara abang dan bundanya itu. "Lea ikut ya?" Ucapnya dengan memasang puppy eyes-nya.
"Ih apaan, enggak. Males banget" jawab abanya acuh sambil menarik kursi dan duduk di depan lea.
"Ih abang mah, Lea nggak bakal gangguin Bang Dimas deh. Yang penting Lea ikut. ya ya ya?" Ucapnya. Kini telapak tangannya sudah diletakan di depan wajahnya. Memohon.
Orang yang dimanggil itu sekarang mengamati Lea, seperti sedang memikirkan sesuatu. "Oke" ucapnya yang langsung membuat adiknya itu tersenyum lebar. "Tapi ada syaratnya" lanjutnya dengan senyum jahat diwajah Dimas, yang langsung melunturkan senyuman lebar Lea.
"Apa!!" Tanya Lea sambil membentak menahan geram.
"Eh, nggak boleh marah. Nanti nggak jadi ke Jogja loh" seringai Dimas muncul lagi yang membuat Lea gemas ingin nabok mulutnya.
"Iya iya apa syaratnya, Abangku sayang?"
"Nanti, setelah pulang dari Jogja kamu harus berangkat sekolah sendiri, gimana?" Ucapnya. Kini tangan kanannya menerima uluran tangan bunda yang memberikan sepiring nasi goreng.
"Ih kok gitu?" Lea tak terima. Bagaimana bisa berangkat sekolah sendiri, Lea saja bangunya siang. Mau telat datang ke sekolah? Cari mati banget. Kalau Lea bawa motor sendiri kan lelet kaya ulet.
"Mau tau alesannya?" Tanya dimas lagi sambil menyendok nasi gorengnya.
"Apa?"
"Abang. Males. Bangun. Pagi" jawabnya sambil menekan setiap kata pada kalimatnya.
"Bang, sama adeknya kok gitu? Kan kasihan kalau Lea naik motor sendiri" 'yes bunda belain' batin Lea dalam hati.
"Noh! Dengerin! Bunda ngomong" ucapnya penuh emosi, siapa suruh ngasih syarat begituan.
"Eh? Nggak mau ke Jogja nih?" Dimas mulai mengancam.
"Nggak papa bun, lagian Lea kan udah ada motor sendiri. Bisa berangkat sendiri kok" ujar lea. selalu seperti ini ancaman sang abang mampu membuat Lea takluk.
"Beneran?" Tanya bunda memastikan.
"Bener, bun. Udah deh udah siang berangkat yuk, Bang" ucap lea sambil memakai tasnya.
"Ya udah hati hati ya" balas bunda. Lalu dua anak tersebut mendekati bunda dan mencium punggung tangan bundanya.
-----
Bel istirahat berbunyi memanggil siswa siswi untuk sejenak melepas kepenatan setelah berperang dengan pelajaran.
Lea, Ratri, Sisi dan Rara tanpa menunggu komando mereka langsung melesat pergi ke kantin. Ya kantin, tempat yang paling digandrungi semua siswa, tempat yang paling ramai melebihi ramainya jam kosong.
"Weekend ini mau diisi apaan nih" ujar Sisi setelah memesan makanan.
Lea menggeser kursinya dan duduk di samping Sisi. "Yahh gue nggak bisa ikut. Mau ke Jogja gue"
Ratri yang tadinya sibuk memainkan handphonepun menoleh kesumber suara "Apa Jogja? Mau ngapain lo?" Tanyanya. Pasalnya Ratri sangat terobsesi dengan kota itu, jadi wajar dia kaget Lea akan berkunjung ke sana.
"Ikut Bang Dimas hanting foto" ujarnya dengan senyum lebar.
"Yaah, jadi pengen kesana deh" ujar Ratri.
"Ah elo mah kalo udah ngomongin jogja itu mulu yang keluar" sisi berkomentar. "Pengen kesana, pengen kesana" ujarnya menirukan omongan Ratri. "Tapi nggak pernah kesampean".
"Itu tuh namanya doa tau, Si. Siapa tau aja gue punya pacar orang Jogja terus diajak nikah terus tinggal di sana terus punya anakk..."
"Dan hidup bahagia selamanya" sambung sisi. "Bosen tau nggak denger lo ngomong gitu mulu" ujarnya sewot.
Lea dan Rara hanya diam sambil memakan pesanan mereka yang baru datang. Karena pasti seperti itu kalau udah kumpul Ratri sama Sisi bawaanya ribut mulu walaupun ujung ujungnya akur lagi, apalagi kalau lagi ngomongin cogan uh akur dah tuh mereka.
"Padahal gue mau ajak kalian main kerumah, masak masak bikin apa gitu" ujar Rara mengalihkan pembicaraan Ratri dan Sisi. "Tapi si Lea nggak ikut nggak seru dong kalau nggak lengkap" lanjutnya.
"Eh, batagorr gue kapan datengnya?" Tanya Sisi. Tuh kan sisi emang gitu kalau orang lagi ngomong nggak pernah di urusin. Tapi kalau udah nyangkut duit, sama shopping udah dah tuh matanya jelalatan.
"Makanya jangan ngomong aja, sampe makanan dateng aja nggak liat" jawab Lea.
"Yee sorry aja ya, gue tuh bukan lo yang kalau udah ada makanan lupa segalanya" nah loh ngajak adu mulut lagi nih anak, tadi sama Sisi sekarang Sama Lea.
"Sembarangan lo ya". Jawab Lea mencoba menghentikan adu mulut tersebut. "Ya abis gimana dong, Ra. Udah pengen banget gue. Lo sih nggak ngomong dari jauh jauh hari". Jawabnya pada Rara.
"Baru kepikiran semalem sih sebenernya" jawabnya. "Soalnya, kalo nggak ada lo bisa gawat" ujar Rara sambil memakan baksonya.
"Lah, gawat kenapa?" Tanya Ratri yang langsung mengalihkan pandangannya dari mangkuk bakso ke wajah Rara.
"Kan kalo masakannya gagal masih ada Lea yang ngabisin" jawabnya cengengesan. Emang dasar kurang ajar. Lea itu emang suka banget makan, tapi herannya badannya masih kecil aja. Dari makanan pinggir jalan sampai makanan berkelas dimakan semua sama dia, emang dasar rakus.
"Enak aja. Sembarangan, lo pikir perut gue tempat pembuangan hah?" Jelas Lea emosi, masa disuruh makan makanan nggak jadi bisa rusak organ pencernaan Lea.
"Gue pikir gitu" jawab Rara tanpa dosa.
"Rara, nggak boleh gitu tau" ujar Sisi menengahi.
"Nah tuh, nggak boleh menghina tau" kata Lea menggebu gebu.
"Tapi, kayanya Rara bener deh, Le lo kan semua makan diembat" ujar Ratri.
"Iya dari yang pinggir jalan sampe restorang bintang lima lo embat semua" sambung Sisi. Nah loh, sisi sebenernya belain siapa sih.
Rara dan ratri yang mendengar itu langung saja cekikikan. Pasalnya Sisi itu seneng banget buli Lea. Bulinya dalam artian yang beda ya. Soalnya katanya tuh kalau buli Lea ada sensasi tersendiri gitu loh.
"Ih Sisi mah, lo tuh sebenernya belain siapa sih, gue apa Rara?" Ucapnya geram "sebel deh"
Inilah yang dilakukan mereka tiap kumpul. Makan yang paling utama, buli Lea, nonton Sisi sama Ratri adu mulut, ngomongin cogan (padahal si Rara udah punya pacar, emang dasar si Rara) dan ngomongin fashion. Walaupun yang paling banyak nontonin Sisi sama Ratri berantem sih. Tapi nggak tau kenapa rasanya pas nonton mereka berantem tuh seru banget, malah kadang sampe ketawa sampe perutnya sakit. Emang dasar Ratri sama Sisi. Tapi perlu kalian tau bahagia itu sederhana, liat Sisi sama Ratri berantem aja udah bahagia. Berasa jahat banget ya temen berantem malah seneng.
YOU ARE READING
Focus
Teen Fictiondari sebuah kamera mereka didekatkan, dari selembar foto mereka dieratkan dan dari semua itu mereka disatukan.
