Prolog.

41 10 9
                                        


Purnama selalu menjadi sahabatku.

Aku berada disebuah gua, bersiap diri menghadapi malam terpenting bersama kedua orang tuaku. Malam ini purnama akan menghiasi langit. Ketika aku dan kedua orang tuaku berdiri di bawahnya, cahaya bulan akan menghujam, aku--Seliseya Flynnci dan kedua orang tuaku akan berubah menjadi... serigala.

Kemudian, satu-satunya tetua--guru para werewolf dan serigala lainnya menghampiri kami yang berada sepuluh langkah dari bibir gua dengan raut wajah yang tak seperti biasa.

Tetua itu berseru, "Cepat, manusia datang!"

Melihat wajah tetua dan mendengar seruannya itu membuat kami terheran-heran. Bahkan Ayah membalas seruan sang tetua, "Guru, apa yang kau lihat?!"

"Mereka ingin pedang emas itu... Seliseya, kau harus ikut denganku!" Jelas sang tetua.

Kedua orang tuaku membulatkan kedua matanya dan berlutut. Perlahan-lahan cahaya bulan membahasi tubuh keduanya dan beberapa detik kemudian wujud serigala mereka berubah menjadi manusia. Lalu Kedua orang tuaku menyuruhku untuk ikut pada tetua, namun aku bersikeras untuk meyakinkan mereka agar aku ikut menjaga pedang emas para kaum serigala.

Sang tetua memaksaku pergi untuk bersembunyi--masih dalam wujud serigala, sedangkan kedua orang tuaku masih tetap berdiam diri tegap untuk bersiap-siap melawan para manusia yang memiliki niat api membara.

Lalu kemudian manusia-manusia itu berlari bagai guntur menghampiri bibir gua yang dilawan oleh kedua orang tuaku--berusaha untuk meraih leher para manusia, namun usaha itu sia-sia. Salah satu pria mendekati Ayahku dan menikam perut ayah dengan pisau yang ia genggam. Darah mengalir deras, panas membara di sekujur tubuhnya, rontokan bulu-bulu serigala miliknya berhamburan dengan bercakan darah, kulitnya berkilau pucat seperti terdapat dari waktu yang ia habiskan di alam bebas.

Raut wajah ibu layaknya api membara melihat sang suaminya tewas seketika oleh pria tua itu. Rambut pirang ibu yang pucat tergerai di bahu. Jubah putih lembut yang ia kenakan mengusap kulitnya, dan amarah kini memuncak. Ia mengambil kayu dan hendak memukul tengkuk wanita tua dari belakang, namun tanpa hitungan detik ibu terlihat lunglai dan terjatuh di tanah layaknya kertas tertiup angin. Pria muda berjubah hitam tersenyum licik melihat keadaan ibu dan ayah.

Aku berteriak histeris, namun dibungkam oleh tetua. Manusia-manusia itu memasuki gua sambil tersenyum senang--berhasil memenangkan sebuah drama dengan catatan... mendapatkan semua yang ingin mereka miliki. Sang tetua hanya mengerungkan alis tak tahu harus berbuat apa lalu melirikku diam-diam.

Pertarungan ini sangat singkat tak seperti yang pernah kubayangkan sebelumnya, pikirku mulai menitikkan air mata. Sang tetua menatap wajahku sekilas mengisyaratkan untuk pergi dan berusaha melawan para manusia-manusia. Tak ada ucapan dariku, tetua itu berlalu meninggalkanku.

Aku tetap berada dalam semak liar belukar menatapi jenazah kedua orang tuaku tewas dibunuh oleh manusia-manusia jahat itu. Kulihat tetua pun seakan-akan berlutut dihadapan wanita berjubah hitam gelap seperti mendapat sihir hitam pembunuh segalanya. Sang tetua memejamkan matanya seperti melawan segala tekanan sihir yang mengujamnya bagai puluhan tombak menusuk tepat pada jantungnya--bahkan hingga ribuan. Kulihat napasnya memburu tak beraruran karena tekanan sihir tersebut.

Setelah itu, seorang pemuda bersorak kegirangan dengan apa yang ia dapatkan. Wajahnya mengisyaratkan seluruh kawannya untuk pergi dari tempat kami, dan berhasil membuat kecemasan merayapiku. Langkah demi langkah para pembunuh itu meninggalkan tempat kami dengan membawa sebuah barang berharga bagi para kaum serigala.

Dengan mengatakan mereka mengotori tempat ini sudah sangat cukup untuk menggambarkannya. Darah yang bergelimang, rontokan bulu-buru halus, dan bercakan darah yang terseret oleh beberapa sepasang sepatu. Tetua tersebut lemas seperti tak bernyawa tergeletak berbantal tanah dan hamparan rerumputan dengan cahaya bulan menyinari. Aku menghampiri tetua itu setelah para manusia itu pergi.

Ibu dan ayah telah dibunuh hanya karena untuk menjaga sebuah pedang emas pusaka milik para serigala. Aku bisa mencium aroma tubuh kedua orang tuaku yang membumi saat ini. Aku menghampiri kedua orang tuaku itu, meringkuk dalam pelukannya, menatap keduanya tajam, sementara tetua menatapku dalam diam--masih dalam keadaannya yang lemah akibat sihir mematikan.

Aku menoleh pada tetua, kemudian tetua menyahut, "Seliseya, lihat, lihat telapak tangan dan mata mereka masing-masing. Dan kau harus membalaskan dendamnya untuk mereka."

Aku mengiyakan perkataan tetua, melihatnya sambil menitikkan air mata yang tak sanggup kubendung lebih lama lagi. Suatu hal yang menakjubkan--hal yang tak pernah kuketahui tentang werewolf ataupun serigala. Kulihat seperti rekaman tersimpan dalam mata dan telapak tangan mereka. Para pembunuh yang merenggut nyawa kedua orang tuaku hanya karena kepentingan mereka, bahkan para pembunuh itu jelas terlihat olehku.

Maut melayang dalam bayang-bayang gelapnya malam dengan cahaya bulan. Semua terlihat jelas. Kembali kutatap langit berhiaskan bintang-bintang. Bulan yang menentukan takdir nyata dalam hidup para kaum kami sekarang. Aku memejamkan mata dan membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang penjaga pedang emas pusaka, seperti kedua orang tuaku.

Tetuaku kembali menyahut yang kini memegang pundakku dengan hangat seperti wajahnya saat menatapku, "Kau harus bersumpah, Seliseya bahwa kau akan membalaskan dendam pembunuhan ini!"

Mata kehijauanku berubah menjadi hitam pekat karena suasana hati bisa mengubah segala kepribadianku. Diriku yang masih berusia 8 tahun sudah mendapati kenyataan pahit--resiko para werewolf, khususnya werewolf yang memiliki takdir untuk menjaga pedang emas pusaka. Sulit untuk dibayangkan bahwa aku--Seliseya Flynnci bisa membalaskan 6 pembunuh yang berhasil merenggut nyawa kedua orang tuaku dalam waktu singkat.

Angin berhembus melewati rambut coklat tuaku--membuatnya berantakan tak beraturan. Dendam kini menjalari seluruh isi otakku dengan ganas, sehingga membuatku semakin menggila untuk membunuh manusia bersalah itu.

Aku berdiri dari posisi dudukku dan menunjukkan taring gigiku serta perubahan warna iris mataku menjadi abu-abu. Aku mendekati sebuah danau di lembah dekat tempatku berdiam diri disini. Dengan mata berapi-api aku bersumpah di bawah gelapnya malam, cahaya bulan yang menerobos hingga masuk ke dalam tubuh gadis kecil, dan nyanyian kecil yang selalu terdengar saat menatap danau ini.

Demi Dewi Bulan sekalipun, aku bersumpah akan membalaskan semua dendam orang tuaku, mengambil harta tahta yang berharga bagi kaum serigala dari manusia-manusia tak bertanggung jawab seperti mereka. Aku akan membunuh seluruh keluarga mereka tanpa menyisakan sedikitpun keturunan dari mereka. Tepatnya pada saat usiaku genap 25 tahun, aku akan berusaha mati-matian untuk menemukan para penjahat-penjahat itu.

Aku--mulai detik ini aku akan berjanji. Janjiku. Kematian orang tuaku. Akan. Terbalaskan.

Seliseya Flynnci.

Guru Tetua kaum serigala.

Revenge Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang