MEMORI

118 6 5
                                        

"Ayo, Katrina, kau akan melewatkan bagian terbaiknya! Ingat, untuk tidak melewatkan bagian terbaiknya!".

Seorang bocah, kira-kira usia 10 tahun, rambut hitam legam dan bergelombang tertiup angin tanpa ia hiraukan. Kemeja tipis yang ia gunakan seakan tidak mampu menghentikan belaian dari angin kala itu, padahal termasuk angin yang sepoi-sepoi. Matanya yang besar dan hitam, pasti bisa menghipnotis siapa saja yang melihatnya dan segera memujinya. Pujian klasik, jika itu maksudmu. Tapi, ya, ia terlalu indah untuk dilewatkan.

Kau tidak akan bosan hanya dengan melihat matanya. Karna, matanya tidak sendu melainkan tegas seperti elang yang siap mengambil mangsanya. Kulitnya yang putih sedikit memerah. Apakah karna sinar matahari yang akan tenggelam atau terbakar oleh sinarnya. Tetap saja. Sinar matahari. Untung aku menyukainya.

"Tunggu, George".

Kaki mungil seorang perempuan mengejar jejak kaki bocah laki laki itu yang setengahnya sudah terhapus oleh hempasan ombak. Terlihat ada bekas kaki mungil yang baru tercetak di pasir seperti perangko di amplop.

Bocah perempuan itu terlihat seumuran dengan bocah laki-laki itu, George dan Katrina. Ya, mungkin hanya berselisih beberapa tahun saja. Bocah perempuan itu terlihat lusuh,pakaiannya yang warnanya sudah pudar dan tidak menarik, rambutnya yang berantakan, dan terlihat lebih mengerikan ketika mengejar jejak sang bocah laki- laki. Aku tak dapat menilainya, karna aku merasa kasihan olehnya. Oh sayang, kasihan kau.

Kicauan burung menghantarkan mereka pada tawa untuk menyambut peristiwa-yang-banyak-disebut-sebagai-mukjizat-atau-keajaiban-dunia. Norak, pikirku. Tapi, tanpa sadar, aku juga menyukainya. Seperti coklat di roti tawarku di Minggu pagi. Kedua anak itu bersenda gurau di bawah pohon kelapa yang lebat buahnya. Jelas terlihat bahwa mereka sangat menikmati suasana saat itu. Mereka mabuk akan keindahan panorama yang bernafas di sekeliling mereka. Kicauan burung itu tersebut dibalas oleh suara hempasan ombak yang sudah menghapus jejak kaki mereka.

" Sudah ku bilang, kau akan melewatkan bagian terbaiknya" ujar George.

" Huh, kau sudah tau kalau aku sangat menyukai sunset, aku tak perlu merasa terkejut jika kau mengajakku ke pantai ini hanya untuk melihat sunset" ujar Katrina dengan setengah cemburut.

"Tapi, kali ini berbeda" bela George.

" Kali ini terakhir kita melihat sunset bersama ya?" ujar Katrina dengan polos.

Menunggu jawaban seperti kau meminta permen ke rumah-rumah pada saat Halloween. Momen itu sungguh menegangkan, dilihat dari raut wajah mereka. Tiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan wujudan dari moment mereka. Jadi, tidak heran kalau hal sesederhana itu bisa menjadi masalah bagi mereka.

Bocah laki laki itu kehabisan kata kata, walaupun dia memiliki jawabannya. Ia hanya perlu berkata kata. Kau harusnya menjadi lelaki sejati, George. Tapi, belum, kau belum pantas untuk mengatasi masalah ini. Aku maklum. Kau selamat.

" Ayo, kita pulang." ujar George mengakhiri.

George menelan ludahnya sendiri. Sudah ia katakan bahwa mereka akan melewati bagian terbaiknya, tapi malah ia yang melewatinya. Huh, aku bakalan kesal jika jadi Katrina. Tapi, Katrina tidak, ia cuma diam membisu. Wajahnya sudah pucat,seperti ia kehilangan sesuatu dan orang tua nya sudah siap siaga di depan pintu, berkacak pinggang, dan siap memarahinya. Ia ingin menangis, aku tau itu, matanya sudah berkaca- kaca. Matanya sudah sendu.

Iba mungkin melihatnya, George mengenggam tangan Katrina. Entah malu atau apa, sepertinya darah Katrina menemukan jalannya ke wajah Katrina. Wajahnya sudah sedikit berwarna. Warna merah muda. Seperti bunga yang George berikan sebelumnya. George menunjukkan sosok lelaki sejati. Aku padamu, George. Ya, benar, kau harus seperti itu. Lakukan dengan benar.

Ketegangan itu semakin lama semakin memudar. Hingga kaki mungil mereka terhenti di sebuah beranda rumah. Di depan mereka sudah ada pintu berwarna merah menyala seperti api yang siap menyambar tubuh mungil mereka. Seorang lelaki, berperawakan besar dan tegap, dengan mata yang sinis membuka pintu itu. Percayalah, kejadian itu seperti neraka dan lelaki itu sebagai pejaganya.

" Pergi kamu!".

Jelas, ucapannya itu tertuju kepada Katrina. Karna, ia adalah ayah dari bocah laki-laki itu. Katrina gentar, ia sedikit terkejut dan melangkah mundur perlahan, namun tangan George masih mengenggamnya.

" Kau tidak seharusnya mengucapkan itu, Ayah. Dia temanku.".

Berbeda dengan Katrina, George tidak sedikit pun gentar. Ia seperti ksatria yang membela untuk membebaskan rakyatnya dari perbudakan. Ya, seperti itu.

" Dia bukan temanmu! " ujar pria itu dengan membentak.

" Apa salahku, Pak?" ujar Katrina. Sedikit keberanian yang diberikan George ada gunanya juga. Namun, tetap saja, muka Katrina masih tertunduk. Aku sangat yakin, pria itu sangat marah. Wajahnya seram dengan brewokan yang dicukur dengan rapi.

Pria itu segera menarik tangan George, memutuskan genggaman George yang tadinya menenangkan Katrina. George meringis kesakitan. Badannya hampir terjatuh, dan ia sudah ada di dalam 'neraka' itu.

" Kau itu musibah bagi keluargaku, pergi kamu! Jangan pernah berani untuk tampil di depanku dengan semua kehinaan yang ada pada dirimu!" teriak pria itu dengan menghantam pintu itu dengan keras.

Katrina sontak menangis. Ia kehilangan harapan. Ia kehilangan seorang teman. Ia telah dipermalukan. Ia telah hancur. Hancur lebur. Seperti jejak kaki mereka yang hilang lenyap oleh hempasan ombak. Ia menangis dalam diam. Lalu berhenti. Ketika kamu bersedih, namun tidak menangis untuk hal itu, maka itulah bagian tersakitnya, melebihi dari tangis dalam diam.

Katrina tidak pulang ke rumahnya malam itu, ia kembali ke pantai dimana menjadi perpisahan terakhirnya dengan George. Sebuah kenangan perpisahan termanis yang pernah ia rasakan. Sebuah peristiwa berakhirnya harapan.

Katrina masih diam, masih duduk di pohon kelapa. Dinginnya, ia tidak hiraukan. Hatinya sudah panas cukup untuk menghangatkan tubuhnya. George akan segera pergi, cepat atau lambat, ia tau itu. Namun, ia belum siap. Sungguh, ia belum siap. Ia belum siap menyongsong hari dengan penuh kekosongan. Ia belum siap berlari dengan kakinya sendiri. Ia masih buta arah. Hanya George yang membantunya. Hanya George. Dan selamanya akan hanya selalu George.

Wajah Katrina seperti membeku.
Tidak ada ekspresi yang menghangatkan ketika kau melihat seorang anak kecil. Ia terlihat sangat kacau. Terlihat sangat hancur. Akhirnya, ia menitikkan air mata lagi. Mungkin perasaannya sudah lega. Tapi tidak, hanya setitik. Lalu dalam sendu dan di tengah kepurukkannya ia berkata,

" Jangan pergi, George."

Halo semua! Terima kasih sudah mampir untuk membaca, ini cerita pertamaku, jadi mohon bantuannya, vote dan comment ya! XOXO! ❤❤

Other HalfHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora