Ada dinding tebal yang memisahkanku denganmu.
Memisahkanku dengan duniamu.
Duniamu yang mampu aku lihat.
Tapi tidak benar - benar bisa aku masuki.
Ketika aku bisa melihat air mata orang yang kau cintai.
Ketika aku bisa melihat kau menyalahkanku.
Tapi kau?
Kau tak mampu mendengar tangisku.
Yang kau mampu hanya melihat kebisuanku.
Dan... Menyalahkan keadaan juga diriku.
"Chanyeol-a, ayo pergi ke kedai ice cream setelah pulang sekolah."
Baekhyun mengajak kekasih tingginya untuk membeli menu favoritnya itu setelah pulang sekolah. Karena akhir - akhir ini Chanyeol selalu berkata bahwa dirinya sibuk, Baekhyun merasa benar - benar merindukan pria tinggi dengan telinga peri disampingnya itu.
"Maafkan aku Baek, aku sangat sibuk, mungkin lain kali."
Jawaban yang sama setiap harinya. Selama 4 bulan mereka berpacaran, tidak pernah sekalipun Chanyeol mengajak Baekhyun pergi berkencan atau semacamnya. Dalam hati Baekhyun, terbesit kalimat "Apa benar dia mencintaiku? Mencintai seorang Byun Baekhyun?"
"Tidak masalah, aku akan menunggu itu."
Byun Baekhyun, pria mungil bersurai dark brown itu memiliki wajah yang cantik. Orang - orang berkata bahwa wajahnya bersinar. Baekhyun juga berasal dari keluarga yang berada, dirinya adalah pewaris tunggal Hyundai Corp. Baekhyun juga pintar, dan digilai banyak pria maupun wanita, tapi bagaimana dengan pria yang dicintainya? Park Chanyeol, apa dia benar - benar menyukai Baekhyun?
"Sungguh maafkan aku akhir - akhir ini sayang. Kau tak apa pulang sendirian?"
"Tenang saja, aku bisa sendiri."
Atau lebih tepatnya, Baekhyun sudah terbiasa sendiri.
Setelah bertemu dengan Chanyeol, Baekhyun memutuskan untuk kembali ke kelasnya.
"Oh hai Baek, kau darimana saja? Beruntung semua guru sedang rapat."
"Aku baru menemui Chanyeol Kyungsoo-ya."
"Ah begitu. Lalu kenapa kau begitu murung?"
"Dia... Terlalu sibuk, ah tidak, seperti berusaha agar tetap sibuk."
"Menghindarimu?"
"Ya kurasa. Aku tidak tahu apa kesalahanku."
Pria bermata bulat, bernama Kyungsoo itu hanya tersenyum lalu menepuk bahu Baekhyun, berharap mampu mengurangi gelisah dalam hati Baekhyun.
~~~
Setelah pelajaran terakhir usai, Baekhyun keluar dari kelasnya dan memutuskan pergi ke kedai ice cream sendirian. Seperti biasa, strawberry ice cream dengan strawberry asli diatasnya. Baekhyun memilih duduk di sudut ruangan, hingga sebuah suara yang sangat dikenalnya menginterupsi pendengaran Baekhyun.
"Apa yang kau lakukan pada Baekhyun?"
"Aku sudah tidak bisa seperti ini Kyungsoo, aku.. Aku mencintaimu."
DEG.
Jantung Baekhyun berhenti sesaat setelah mendengar suara itu. Itu kekasihnya, Park Chanyeol.
"Tapi sahabatku menyukaimu Park. Dia tidak pernah jatuh cinta lagi, dia kaya tapi tidak mendapat kasih say..."
"Lalu apa peduliku? Menyiksa diriku sendiri dan berpura - pura menyukainya?"
DEG
Hati Baekhyun sakit, bahkan ketika pelayan mengantar pesanannya pun Baekhyun tak bergeming. Dua orang terdekatnya, menghianatinya. Posisi Baekhyun yang membelakangi mereka dan hanya terpisah rak - rak berisi tanaman hias tentu mampu membuat Baekhyun mendengar semuanya.
"Aku mencintaimu Kyung."
"Aku juga Chan. Tapi aku tidak bisa menyakiti Baekhyun."
"Karena ayahmu sekretaris keluarga Baekhyun? Karena kau bersekolah karena bantuan Baekhyun?"
"Aku berhutang banyak kepada keluarga Baekhyun. Setelah ibunya meninggal, anak itu hanya terdiam. Kemudian setelah sosok Oh Sehun juga pergi, Baekhyun semakin kacau. Tapi tidak setelah dia melihat kau."
"Kita saling mencintai lebih dulu Kyung. Dia hanya orang baru dalam hubungan kita."
"Tidak bisakah kau membahagiakannya?"
"Dan menyakitiku? Lalu bagaimana denganmu? Apa hatimu baik - baik saja?"
"Entahlah."
"Ayo pergi, ice cream kita sudah datang."
Tes...
Air mata Baekhyun tumpah, sedari tadi dia mati - matian menahan air matanya. Dia tidak pernah menyangka, Chanyeol dan... Kyungsoo? Ice creamnya yang mulai mencair dibiarkan begitu saja oleh Baekhyun. Dirinya menatap kosong jalanan yang terlihat dari dalam kedai itu. Kenapa Baekhyun terus - menerus ditinggalkan oleh orang yang dicintainya?
~~~
"Kyungsoo-ya."
"Oh hai, Bae.. Tunggu, apa kau menangis semalaman?"
"Tidak. Kenapa?"
"Matamu mengerikan Baek."
"Kau orang kedua yang menyadarinya Kyung."
"Ayahmu orang pertama?"
"Ayahmu lebih tepatnya. Aku hanya merindukan ibuku."
Kyungsoo terdiam, dia mengenal Baekhyun sejak mereka kecil. Mereka bermain bersama. Kyungsoo tahu, air mata sebanyak itu pasti karena masalah lain. Baekhyun sangat jarang menangis. Dan pasti ada yang salah dengan ini.
"Apa ada masalah di rumah?"
"Rumahku tidak pernah ada masalah bukan. Rumahku tenang, namun begitu tenang hingga aku tak menyukainya."
Kyungsoo tahu maksud ucapan Baekhyun, ayahnya yang gila kerja hingga menyapa Baekhyun pun tak sempat.
"Kau tahu Kyung, aku melakukan banyak hal dengan ayahmu. Ayahmu yang mengantarku di hari pertama sekolah bersamamu. Dan ayahmu yang hadir di kelulusanku, ayahmu yang selalu mengambil raportku."
"Hei tak apa, ayahmu yang meminta ayahku melakukannya. Berterima kasihlah ke Tuan Byun."
"Aku ingin menjadi sepertimu. Memiliki ayah seperti Tuan Do, kurasa menyenangkan. Dan kau akan menjadi anak dari ayahku dan kekasih Park Chanyeol. Bukankah itu bagus?"
Kyungsoo terdiam, Baekhyun jelas melihat perubahan dari raut wajah sahabatnya itu. Sangat kentara, apalagi dengan mata besarnya yang membola.
"Hei aku hanya bercanda."
"Kau tidak lucu Baek."
"Kyungsoo-ya."
"Hm?"
"Kau menganggapku apa Kyung?"
"Tentu saja kau sahabatku Baek, apa aku perlu menjawabnya?"
"Tidak bisakah kau menganggapku sebagai saudaramu? Sehingga ketika aku berniat membantumu, kau tidak akan merasa berhutang budi padaku."
"Kau... Sebenarnya kau kenapa Baek? Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak, aku hanya takut niat baikku untuk membantu akan menjadi beban untukmu. Itu saja."
Kyungsoo hanya terdiam melihat mata Baekhyun. Jelas terlihat Baekhyun sedang menyimpan sesuatu, kesedihan? Atau kesepian?
"Kau berkata padaku jika kita keluarga kan, jadi beritahu aku apa ada yang mengganggumu Baek? Kau terlihat... Tidak seperti biasanya, yah kurasa sedikit aneh."
"Tidak, aku tidak apa - apa. Sungguh."
Sementara Kyungsoo yang masih setia menatap Baekhyun, Baekhyun membuang muka hingga dirinya berganti menatap jendela kaca di sampingnya. Dan suatu kebetulan, dirinya melihat Chanyeol.
"Yak! Park Chanyeol kemarilah."
Baekhyun berteriak hingga Chanyeol menoleh. Saat itu pun, Baekhyun baru menyadari, pusat dari tatapan teduh Chanyeol bukan dirinya, tapi seseorang yang berada di sampingnya, Do Kyungsoo.
"Ada apa Baek?"
"Bisakah kita bertemu saat istirahat nanti? Di taman belakang."
"Ehmm.. Baiklah, apa ada sesuatu?"
"Tentu, sesuatu yang akan membuatmu bahagia Park."
Chanyeol mengusap surai Baekhyun, tanpa Chanyeol sadari senyum Baekhyun sudah mampu membuat hatinya menghangat, meskipun jauh di dalam sana tersimpan nama Kyungsoo. Baekhyun tertegun mendapat perlakuan seperti itu dari Chanyeol, dan setelah menyadarinya Baekhyun memilih sedikit menjauh.
"Kau kenapa?"
"Ah tidak, jika kau seperti itu tatanan rambutku akan rusak."
Kyungsoo menatap mereka dalam diam, Baekhyun menyadari itu. Baekhyun tahu bagaimana posisi Kyungsoo, sama seperti dirinya. Hanya saja, Kyungsoo mampu mendapatkan hati Chanyeol, dan Baekhyun tidak.
"Kembalilah ke kelasmu. Jangan lupa nanti."
"Baik sayang."
Baekhyun hanya tersenyum miris mendengarnya, kata - kata yang bagi Baekhyun sakral terucap dengan mudah dari mulut Park Chanyeol. Semudah Chanyeol membuat Baekhyun jatuh cinta, dan semudah Baekhyun mempercayai Chanyeol.
~~~
"Baek kau mau ke kantin atau tidak?"
"Tidak, aku harus menemui Chanyeol sebentar."
"Baiklah, aku pergi dulu."
Setelah melihat Kyungsoo pergi, senyum Baekhyun memudar. Dirinya sadar, Kyungsoo terlalu banyak berkorban untuknya, sedangkan dirinya bahkan tidak pernah memahami perasaan sahabatnya itu.
Baekhyun memutuskan bangkit dan berjalan menuju taman belakang sekolahnya.
"Kau tahu kudengar ada murid baru dari Belanda."
"Benarkah?"
"Iya, dia begitu tampan."
Baekhyun tersenyum miring mendengar percakapan 2 orang gadis yang baru saja dia lewati. Belanda, negara kincir angin itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang meninggalkannya, tanpa sepatah kata, Oh Sehun.
Baekhyun duduk di salah satu bangku panjang di taman itu, menunggu Chanyeol.
"Kenapa harus serumit ini."
GREP!
Seseorang memeluknya dari belakang, dia tahu itu Chanyeol. Memang Chanyeol beberapa kali memeluknya, Baekhyun senang, sangat senang. Tapi tidak untuk sekarang.
"Apa yang ingin kau katakan Baek?"
"Kemarilah."
"Apa? Kau bilang sesuatu yang membahagiakan..."
"Mari kita akhiri semua ini."
Chanyeol terdiam. Menatap mata Baekhyun, mencari sesuatu dalam mata itu. Dan Chanyeol menemukan kesedihan dalam mata Baekhyun.
"Tapi kenapa Baek? Apa aku melakukan kesalahan?"
"Tidak. Aku yang salah, mungkin sejak awal memang hubungan ini tidak seharusnya terjadi. Jadi, lebih baik kita mengakhirinya bukan?"
"Tidak sebelum kau mengatakan alasannya."
Chanyeol terkejut, harusnya ini memang membahagiakannya, tapi ada ruang yang terasa kosong setelah Baekhyun mengatakan hal itu. Dan Baekhyun mulai kesal akan sikap Chanyeol, kenapa pria tinggi itu tetap berpura - pura sampai sekarang? Saat Baekhyun rela terluka demi kebahagiaan Chanyeol.
"Katakan Baek!"
"Kenapa kau bertanya kepadaku? Tanyakan kepada hatimu, apa hatimu milikku? Apa kau mencintaiku? Dan jawabannya tidak."
"Kau melepasku begitu saja Baek?"
Baekhyun tersenyum miring, dia benar - benar muak mendengar ucapan Chanyeol yang seakan - akan Baekhyun lah yang menyakitinya.
"Yang perlu kau tahu, aku tidak pernah melepaskan seseorang yang kucintai dalam hidupku hingga seseorang itu sendiri yang membuatku ingin melepasnya."
"KATAKAN APA MASALAHMU BAEK!"
"Masalahku adalah aku yang mencintaimu dengan tulus, kau yang berpura - pura mencintaiku, dan kau yang jatuh cinta dengan sahabatku."
Chanyeol terdiam. Dia mencerna kalimat yang terucap dari mulut Baekhyun. Pelan, lirih, tapi berhasil membuat hatinya sakit dan mulutnya bungkam.
"Kau.."
"Aku mengetahuinya. Aku akan pergi dari hidupmu, berbahagialah dengan Kyungsoo."
"Baek tapi aku.."
"Kau tidak mencintaiku, bukankah alasan yang cukup jelas untuk mengakhiri ini?"
"Baek itu tidak.."
"BERHENTILAH MEMBOHONGIKU. KATAKAN YA DAN AKU AKAN PERGI."
Air mata Baekhyun tumpah, dia merasa Chanyeol semakin memperumit segalanya. Semakin rumit dengan kalimat - kalimat kebohongan dari mulutnya.
"Kumohon katakan ya dan aku akan pergi. Apa yang membuatmu berpikir hm? Kau bahkan akan bahagia setelah ini."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku? Kau memperdulikanku?"
"Baek.."
"JIKA KAU PEDULI PADAKU TIDAK SEHARUSNYA KAU MELAKUKAN ITU PARK, DASAR SIALAN!"
Baekhyun berbalik dan berjalan pergi, tapi sebuah suara kembali menyambut pendengarannya.
"Ba.. Baek.. Baekhyun."
Itu Kyungsoo. Apa Kyungsoo mendengar semuanya? Baekhyun menatap Kyungsoo, dia menunggu apa sahabatnya ini juga akan mengatakan kebohongan - kebohongan lagi kepadanya? Dan...
"Oh Sehun kembali."
DEG.
Bagi Baekhyun ini tidak lebih baik dari kebohongan Chanyeol dan Kyungsoo. Jika seseorang dari masa lalumu datang, kau harus bersiap jatuh lagi. Jatuh cinta dan bahagia, atau jatuh kepada kesalahan yang sama satu kali lagi?
Baekhyun terdiam. Dia tidak bergeming.
"Kau bohong."
"Aku bersungguh - sungguh, dia Sehun-mu Baek."
Chanyeol yang masih berada di belakang Baekhyun mengepalkan tangannya.
"Langkahkan kakimu menemui Sehun sekarang, dan akan kuhajar Sehun."
Itu Chanyeol.
YOU ARE READING
HEALER
Fanfiction[ RANDOM PRIVATE] Byun Baekhyun dengan alter ego-nya yang muncul semenjak kematian ibunya. Pertemuannya dengan Park Chanyeol yang membuat kembalinya 'sosok' Baixian. Dan kembalinya Oh Sehun untuk menyelesaikan masalah - masalah yang seakan tiada ha...
