Nineteenth Stuff

28 3 0
                                    

"Jadi, apa rencana lo?"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Jadi, apa rencana lo?"

"Hm?" Satya menoleh ke Tiara, seperti orang kebingungan.

"Kita mau kemana?"

Satya diam, ia mengalihkan pandangan matanya di sepanjang jalan. Pedagang berjejer rapi di trotoar. Temaram lampu dari pikulan gerobak seperti lilin yang menghiasi tipis-tipis kegelapan malam.

"Lo nggak pa-pa, Ya?"

Satya yang semula memandang lurus, kini menoleh lagi pada Tiara. "Nggak, gue nggak pa-pa."

Tiara menunduk, memperhatikan langkahnya dengan Satya yang beriringan. "Sekarang lo tau, kan, rasanya tempur sama papa gue?"

"Lo mau kerak telor?" Satya tidak menjawab karena ia sangat tidak suka pembicaraan seperti ini. Hal ini akan membuatnya ingat dengan Lukas.

"Hah?" Tiara mendongak.

Mata Satya berpendar terkena cahaya tipis. "Gue yang traktir."

Tiara tersenyum. Keduanya duduk di trotoar jalan menunggu makanan khas Betawi yang baru saja dipesan Satya. Mereka berdua terkelu kala membesuk malam, memutus lupa betapa payahnya satu bulan tanpa kabar.

"Sebulan itu lama banget, Ra." Satya memecah kekeluan. "Maaf gue baru berani sekarang."

Tiara terkekeh. Ia berlarat-larat, tapi segera saja tertutupi saat penjual kerak telor datang mengantarkan. Tiara dan Satya mengucapkan terima kasih bersamaan, menoleh satu sama lalin lalu tertawa sebentar. Bapak itu tersenyum lalu mengangguk, kembali menjuali pelanggan yang lain.

Tiara berujar sambil mengunyah. "Gue berani sumpah kangen banget sama makanan kayak gini. Gue selalu makan daging kalo pergi sama Darren."

"Ya udah, kita makan anaknya sebelum jadi daging."

Tiara tertawa, Satya ikut tertawa. Cowok itu terus tertawa sambil mengamati wajah cewek di sebelahnya.

"Lo ... ternyata lebih manis dari yang gue kira. Gue baru sadar."

Kunyahan Tiara terhenti. Kontan pipi Tiara memerah, dan itu membuat Satya tertawa terpingkal-pingkal tanpa tahu kalimat Satya barusan berhasil membuat jantung Tiara melompat ke lutut lalu balik lagi ke tempatnya. Tiara mencubit pinggang Satya berkali-kali hingga Satya menghentikan tawanya susah payah.

"Tapi gue serius, Ra. Lo manis, pake banget," ujarnya lalu mengacak rambut Tiara. "Lo tau kan tentang ini; kalo cewek manis lebih menarik daripada cewek cantik. Dan lo ... sangat menarik!"

Ah, padahal Satya setengah mati mau bilang kalau Tiara lebih dari sekedar menarik dan cantik.

Tiara bisa merasakan pipinya kian merah. Ia segera membenarkan rambutnya yang diacak. Kemudian mengamati kerak telornya yang baru sekali gigit, sedangkan sekarang Satya baru saja memakan makanannya. Cepat-cepat ia mengubah topik agar tidak kentara kalau Tiara sangat berdebar hanya karena kalimat itu.

Late Night StuffsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang