1

190 0 0
                                        

"Kemana sih Sovi? Tega banget sih dia ninggalin aku lama kayak gini? " kali ini aku sangat sebal dengan sahabat karibku, Poppy Sovia. Gimana engga? Dia bilang padaku, katanya mau beli Es Cincau di seberang jalan dan sekarang sudah hampir setengah jam dia tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

######

Poppy Sovia​


"Hai cinta... I'm back honey," teriak seorang wanita berambut pendek, mirip sekali dengan seorang laki-laki daripada seorang wanita. Namun, jari lentik yang membawa 2 gelas plastik tak bisa mengelabui siapapun. Tubuh langsing ditunjang dengan tinggi tubuh yang semampai, menambah kesan macho tapi cantik terpancar dari wanita yang kini menghampiriku.

"Lu beli Es Cincau di Amrik yah, Sov?" kumanyunkan mulutku sambil menerima Es Cincau dingin yang buru-buru ku minum untuk menhancurkan neraka dahaga ini.

"Wkakakaka... ngga usah ditekuk gitu wajahnya! Mulut lu tu dah manyun-manyun gimana gitu, mending manyunin aja tu jidat biar tambah jenong," kelakarnya sambil berlalu meninggalkanku beberapa langkah.

Aku terdiam, benar-benar tak suka bila ia mulai memperolok fisikku. Oh iya, belum kenalan yah dari tadi? Aku Catherine Margaretha, mahasiswi dari sebuah Universitas Negeri di Kota Depok dan satu fakultas dengan Sovi. Kalian pasti berpikir kalau aku seorang wanita yang tidak terlalu cantik, suka marah-marah tak jelas dan jadi bahan bully-an teman-temanku.

Kalian salah! Aku cantik luar biasa. Kulitku kuning langsat, bibir merah muda selalu menghiasi wajah cantikku tanpa pernah aku menambahkan perona bibir maupun lipgloss. Hanya saja kalau aku sedang cemberut bibirku manyun seperti bibir Donald Bebek, lengkap dengan kecerewetannya. Dan ada satu lagi kelebihanku, jidatku jenong banget. Padahal kan jidat jenongkan identik dengan orang pintar.

Okey, kembali ke cerita. Jangan sampai cerita ini jadi ajang narsisku. Hahaha...
Aku terdiam, mematung. Aku tak suka dengan semua ejekannya, aku marah.
Langkah sovi terhenti, kuharap dia menyadari kesalahannya. Ia tolehkan wajahnya kepadaku, tersenyum polos. "Hehehe... maaf yah cantik," ia berbalik sepenuhnya, mendekatiku dan merangkulkan tangan kananya ke pundak kananku. "I'm so sorry... tadi kan cuma bercanda. Elu tau ndiri kan pegina gue?"

"Anjrit! Malah ngobrol meki! Item, bau terasi!!!" selalu saja dia bikin aku emosi.

"Wkakakakaka... tapi elu suka kan?" tawa Sovi menggelegar, orang-orang di sekitarnya melirik dengan tatapan curiga. Curiga dengan status sovi, cowok kah? Cewek kah?

"Elu itu yah, musti bikin banyolan mulu!!!" bibir indahku semakin mirip Donald Bebek.

"Hehehe... iyah... maaf...," bibirnya mendarat di keningku. Cukup meyakinkanku bahwa ia sungguh-sungguh meminta maaf.

"Jangan diulangi lagi! Awas kalo sampai gini lagi," kali ini kuakhiri senyuman manis.

"Udah ah... katanya mau mampir ke apartement-ku?" senyum penuh misteri terkembang di bibir tipisnya.

######

- Lust -Donde viven las historias. Descúbrelo ahora