We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

expectations vacuum. 1

15 1 0
                                        

Awal masuk ajaran baru . semua murid terlihat bersemangat menjalani hari pertama sekolah. Teman baru, sekolah baru, dan kehidupan yang baru untuk meninggalkan kesedihan yang lalu.
Kesedihan yang ingin ia lupakan, kesedihan yang selalu datang menghampirinya dan kebahagiaan yang selalu ia harapkan hanyalah sebuah angin lalu . setiap ia mengalami kebahagiaan itu sama saja dengannya yang merasakan hembusan angin yang menerpanya.
Terasa tapi tidak lama .

Hanya sebuah senyuman tak berarti yang ia tampilkan di hadapan semua orang .

Gadis itu tersenyum miris menatap gedung sekolah yang menjulang dengan kokoh di hadapannya.
Menghela nafas pelan ia memegang tali tasnya dengan erat "kau pasti bisa" ucapnya menyemangati dirinya sendiri sebelum ia melangkah lebih jauh kedalam bangunan megah ini.
.
.

Dulwich College Manajemen Internasional atau biasa di sebut dengan DCMI adalah jaringan fasilitas pendidikan di Asia berdasarkan filsafat pendidikan salah satu sekolah terkemuka Inggris independen, Dulwich College, London

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Dulwich College Manajemen Internasional atau biasa di sebut dengan DCMI adalah jaringan fasilitas pendidikan di Asia berdasarkan filsafat pendidikan salah satu sekolah terkemuka Inggris independen, Dulwich College, London. Sekolah  bertaraf internasional ini selalu diinginkah oleh semua orang untuk bisa belajar disini. Hanya orang-orang berdompet tebal dan otak mereka yang berbasis terlampau cerdas untuk mendapatkan besiswa.
.

Luana valdez haynsworth. Gadis dengan perawakan cukup tinggi dengan rambut yang di kuncir satu ala ponytail tersebut menyusuri setiap lorong koridor yang menghubungkan setiap kelas yang berada di sini. Di setiap pintu kelas ia berhenti sejenak untuk melihat daftar nama masa hari pertama sekolah di adakan. Jemarinya menyusuri pada lembaran kertas yang tertempel pada mading di sebelahnya.
Jemari itu terhenti ketika mendapati inisial nama dengan awalan huruf L di sana. Ia tersenyum samar dan mulai memasuki kelas barunya yang cukup asing dengan wajah orang-orang yang berada di kelasnya.

Hari ini ia awali dengan senyum lebarnya yang mengembang untuk memulai sesuatu yang akan mengubah cara hidupnya yang selalu terlihat menonton.
.
.
Semuanya berjalan dengan kehendaknya. Di saat hari pertama sekolah tidak ada adanya proses belajar mengajar hanya ada penyampaian materi yang akan di ajarkan untuk minggu depan dan sesi perkenalan diri. Seharusnya luana tidak seperti sekarang yang terlihat lebih ceria dan bersemangat. Berbeda di saat waktu ia berada di sekolah menengah pertama yang terlihat seperti orang bodoh dan selalu di remehkan oleh banyak orang. Kali ini ia dengan semangatnya memperkenalkan diri dengan logat bahasa yang bisa membuat orang lain terkagum dengan keberaniannya. Dan well.. Itu membuat dirinya puas.

Di saat istirahatpun tak lepas dari gayanya yang terkesan tomboy. Langkahnya yang besar-besar membuat semua orang menganga pada gadis yang berhasil melewati mereka.
Langkah luana mendekati ujung lorong yang terdapat kelas temannya yang selalu menemaninya dari kecil. Ia bisa melihat gadis yang memakai kacamata berframe abu-abu itu tengah menatapnya dengan senyum yang terukir cantik di wajah lembutnya. Sebut saja Silva campbell astapkovich, gadis dengan sejuta candaannya serta senyum manis yang selalu bertengger di wajahnya yang cantik dan ingat!, jangan pernah membuat dia marah atau kau tau akibatnya.

Tidak memperdulikan dengan tatapan orang lain ia pun masuk dan mendekati teman seperjuangannya tersebut.

"Kau duduk disini?" tanya luana dengan pandangan heran kepada silva.

gadis dengan rambut sebahunya itu mengangguk sehingga rambutnya mengikuti gerakan kecil pada kepalanya "ya, kau tau aku kan tidak bisa melihat dengan jelas"

Luana mendengus malas mendengar alasan silva yang menurutnya sangatlah konyol. Lalu untuk apa kacamata yang bersangga pada hidungnya itu?.

Tak berserang lama pandangannya terarah kepada temannya yang lain. Yang sedang memperhatikan dirinya dan silva, dia adalah teman semasa SMP dulu yang juga mendaftar di sekolah ini.
"Hai luana, sudah lama tak bertemu" ucapnya. Luana tersenyum lalu merangkul temannya yang berada tak jauh dari dirinya.

"Seperti tak bertemu selama setahun saja" ucapnya dengan tawa yang berderai. Candaan seperti ini tidaklah sulit untuk di buat "ohoo.. Siapa ini? Teman barukah?" tanyanya menatap seorang gadis di belakang revi.

"Ah ya, dia vina" ucap revi memperkenalkan.

Luana mengulurkan tangannya dan di sambut oleh vina "senang bisa bertemu denganmu"

"Aku juga"

BRAK

"Hei!, kau tak ingat denganku!" teriakan itu berasal dari arah depan yang membuat seisi kelas menatapnya dengan pandangan mengganggu tapi luana tidak mempedulikannya. Ia menatap kesal pada seseorang yang menatapnya terkejut "dasar sombong" lanjutnya dan silva menyenggol luana memperingatkan agar tidak membuat keributan di kelasnya.

"Hehehe bukan begitu. Kau memang tak berubah. sangat kasar" luana berdecak, ia mengerucutkan bibirnya lucu ketika ucapan gadis itu seperti mengingatkannya ke masa lalu.

Netranya ia alihkan kearah barisan paling belakang.

DEG

Luana terpaku kepada seseorang yang sedang bercanda dengan teman lelakinya, entah siapa itu. Tapi arah pandangannya hanya terfokus pada seorang pria di sebelahnya. Rasa gugup serta rasa ingin di perhatikan oleh pria itu kembali ada di relung hatinya. Tak menampik bahwa ia masih terkagum dengan ketampanan serta senyuman yang masih berbekas di ingatannya. Saat dulu. sekali selama ia bersekolah di tempat yang sama untuk pertama kalinya dia memulai pembicaraan dengannya serta tanpa sengaja di saat sepulang sekolah ia berdiri berdampingan dengannya.

Kilasan-kilasan itu tampak jelas di benak luana. Mungkin karena ia tidak di perbolehkan untuk mengingat salah satu kejadian menyakitkan itu, suara berisik dari arah luar yang menandakan bel masuk berbunyi menyadarkannya dari keterdiaman dirinya yang cukup lama. Dan mungkin tidak ada yang melihat dirinya yang cukup terpaku kepada satu sosok di sana jadi tidak ada yang menyadarinya tadi di saat ia sedikit bertingkah aneh .

Setelah berbicara pada silva akhirnya luana keluar dari kelas itu dengan cepat tanpa tau ada sepasang mata yang tengah menatapnya iri beserta kagum.
.
.

Bersambung....

expectations vacuumStories to obsess over. Discover now