Musibah atau Anugerah

1.9K 142 31
                                        

Naru pov

Aku tak tahu ini musibah atau anugerah. Menikah di usia 22 tahun. Setelah upacara wisudaku. Ayahku, Namikaze Minato langsung menikahkanku.

Mungkin jika hanya menikah dengan satu pria, aku tak sefrustasi ini. Kalian tahu, ayahku sepertinya sudah gila. Yah, gila karena menikahkan putri semata wayangnya dengan dua laki-laki sekaligus.

Aku ingat mereka bukanlah anak kembar atau kakak adik. Tapi kenapa aku harus menikahi keduanya. Dan kenapa pula mereka mau saja menikah denganku. Ini gila. Bener-benar gila.

Semua ini terjadi karena janji konyol ayahku dengan kedua sahabatnya hingga membuatku terjebak seperti ini.

Saat ini aku sedang di ruang rias. Menunggu ayahku datang. Semua orang sudah menunggu di altar. Sementara aku masih termangu di depan cermin dengan gaun pengantin membalut tubuhku. Wajahku pun sudah di rias sedemikian cantik. Tapi aku tidak tahu akan berekspresi apa. Dan akan bagaimana hidupku ke depannya pun aku tak tahu.

" Naru, ayo sayang. Semua sudah menunggu loh." itu ayahku. Dia sangat tampan dengan setelan jas yang membalut tubuh tegapnya.

" tousan, tousan yakin."

Senyum di wajah ayahku menghilang. Dia menghampiriku.

" ku rasa kita sudah berulang kali membahasnya sayang. Jadi tousan harap kau tidak mengulangi pertanyaan yang sama." peringat ayahku. Tatapannya menyiratkan tak ingin di bantah. Aku menatap safir ayahku dalam. Sebelum mengangguk pelan. Dengan wajah menunduk. Ku rasakan ayahku menggenggam tanganku. Dan ayahku menuntunku menuju altar.

Tiba di altar aku berdiri di antara dua laki-laki yang sangat tampan. Dapat ku lihat mereka tersenyum atau bisa di bilang menyeringai padaku. Ugh, ini menyebalkan.

Aku tidak menyangka. Senior angkatan yang dulu bersaing. Kini keduanya malah menjadi suamiku. Ku rasakan pipiku memanas. Entah kenapa aku merasa jadi penjahat cinta. Karena harus berpoligami. Bahkan ku dengar beberapa orang berbisik-bisik tentangku. Tapi sepertinya kedua pria tampan di samping kiri kananku tidak perduli. Mereka hanya terus menatapku dengan senyumnya yang terlihat err...seksi.

Sibuk dengan lamunanku. Aku tidak sadar suamiku, kedua laki-laki yang berdiri di kiri kananku, entah bagaimana sudah mengucap janji suci. Dan sekarang giliranku untuk menjawab janji suci ini. Aku tidak tahu sang pendeta mengucap nama siapa duluan di antara mereka yang menjadi suamiku, yang jelas aku menjawab.

" a-aku bersedia." ugh sial, kenapa aku sangat gugup. Dan kalian tahu apa yang kedua lelaki itu lakukan padaku setelah kami bertiga resmi. Yah, kedua laki-laki tampan itu dengan gilanya langsung menciumku. Dan akhirnya kami bertiga pun berciuman. INI GILA! BENER-BENER GILA.

Dan saat kami berciuman. Ku dengar teriakkan histeris dari orang-orang. Dan beberapa ada yang pingsan dengan nosebleen.

Sap

Aku terkesiap. Tiba-tiba aku merasa tubuhku meringan. Rupanya salah satu suamiku yang bernama Itachi menggendongku.

" ap-apa yang kau lakukan?." gugupku. Mencengkram jas toxedonya. Aku juga merasa pipiku memanas.

" melaksanakan ritual malam kita." senyumnya charming. Aku hanya bisa melongo dengan wajah bodohku. Dan dia melebarkan seringainya. Yang sialnya membuatnya terlihat semakin tampan.

" hei mana boleh. Acara kita belum selesai." itu protesan suamiku yang satu lagi, namanya Sasori.

" kalo kau tidak mau. Itu lebih baik." ucap Itachi sebelum membawaku kabur. Astaga! Aku hanya bisa diam menurut, akan kegilaan yang di buat suamiku. Saking malunya, aku menyembunyikan wajahku ke dada Itachi.

" eh tunggu. Aku ikut." oke sepertinya kedua suamiku sudah gila. Tanpa perduli teriakkan semua orang yang menyuruh kami untuk kembali. Aku dan kedua suamiku tetap kabur. Kami menaiki mobil hitam milik Itachi. Bahkan di dalam mobil Itachi dan Sasori sudah menyerangku. Tanpa perduli sang supir yang tiba-tiba spot jantung karena melihat kelakuan kami bertiga. Dan meski aku sudah memberontak. Karena bagaimana pun aku malu, kedua suamiku yang tampan itu tidak perduli. Dan saat tiba di apartemen milik Sasori, kami bertiga melakukannya. Mereka sangat liar. Aku pun di buat pingsan oleh mereka. Jadi aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Musibah atau AnugerahStories to obsess over. Discover now