28 Juli 2014
Aku berlari cepat menyusuri koridor sekolah yang dingin. 'Duh, udah telat nih.' Aku berlari sambil menunduk mengutuki kebiasaanku yang sering telat. 'Bakalan kena marah si Kaisar, astaga.' Kaisar, panggilan untuk kepala sekolahku.
Aku sekolah di SMA Swasta ternama di Surabaya. Aku masih kelas 1. MOS baru selesai beberapa hari lalu. Tapi hebatnya guru-guru bahkan cleaning service dan satpam pun sudah mengenalku. Dan yang lebih hebat, aku terkenal bukan karena prestasi, tapi karena kebiasaanku telat. Aku sering keluar masuk kantor guru dan BK.
Brukk
"ANJING! LU PUNYA MATA GA SIH?!"
Degg~
'Suara berat itu.. astaga.. jangan-jangan..'
Aku mengangkat kepalaku.
'Shit. Beneran dia. Kak Rei.'
"E.. ehh.. ma.. maaf kak. Aku ga sengaja," aku menunduk takut.
"Untung lu cewek. Kalo bukan, udah gue tebas pala lu," ujarnya dingin. Aku tetap menundukkan kepalaku. Lalu aku merasakan tangannya menyentuh daguku, mengangkat kepalaku supaya aku menatapnya. Dan mata kami bertemu.
Ia menatapku tajam. Tatapannya sangat menusuk. Ditambah dengan alis tebal, mata yang bulat, dan manik mata coklat pekat sangat mendukung kesan dinginnya. Bibirnya tipis dan hidungnya mancung. Sangat sempurna. Lebih tepatnya, sangat tampan.
"Udah selesai ngeliatin gue?" tanyanya sinis menyadarkanku dari lamunan.
"Ih geer. Siapa juga yang liatin kakak," kataku kesal.
"Lu ga minta maaf tadi udah nabrak gue?"
"Lah, tadi kan udah minta maaf anj- kakak.." hampir saja aku mengumpat.
"Kapan? Gue ga denger."
'Dasar tuli. Masa aku minta maaf lagi. Huft.. dasar cowok. Yaudah sih ya, orang cakep mah bebas,' keluhku dalam hati.
"Maaf ya kak.."
"Gue ga maafin lu," ia menyeringai lalu langsung pergi. Ia menabrak pundakku keras.
Aku tersentak mundur. 'ANJIR!' umpatku dalam hati. Kalau saja dia bukan kakak kelas, udah ku jitak abis palanya.
***
"Telat lagi ya, Len," tegur Bu Sinta, wali kelasku.
"Hehe, iya bu," kataku dengan cengiran kuda.
"Duh.. kamu itu. Kemarin telat, sekarang telat, mau sampai kapan kamu telat terus. Untung disini cuma ada ibu. Kalau sampai kepala sekolah lihat kamu ada di sini beliau bisa marah besar."
'Ughh.. iya. Untung si Kaisar lagi ga disini.'
Di ruang guru sekarang cuma ada aku dan bu Sinta.
"Iya deh bu. Kapan-kapan saya gabakal telat lagi deh.. janji."
"Enak aja kapan-kapan. Pokoknya mulai besok kamu gaboleh telat lagi. Titik. Kalau sampai kamu telat lagi, ibu akan serahkan kamu ke Kais- ehh maksudnya kepala sekolah," aku terkekeh pelan karena Bu Sinta hampir saja keceplosan bilang Kaisar.
"Iya, bu." Bu Sinta menyuruhku masuk ke kelas.
***
Ternyata hari ini Bu Ani ga masuk. Sampai di bangku aku langsung cerita ke sahabatku tentang tabrakan maut yang terjadi antara aku dan Kak Reihan tadi pagi.
"Kak Rei? Siapa? Yang mana?" tanya Vanca.
"Duhh.. yang lu bilang ganteng itu, pas MOS."
"Yang ganteng mah banyak keles, hehehe. Yang mana sih?"
"Yang badannya tinggi, bego. Yang lu bilang mirip orang Arab," aku mendengus kesal. Yah, aku sih maklum dia ga ingat. Soalnya dia ngeliat banyak cogan, jadi ya wajar lah.
Jovanca itu cantik, kurus, dan tinggi. Kulitnya sawo matang dengan hidung mancung, mata bulat, bulu mata lentik, rambut panjang dan suara yang merdu. Manis. Beda jauh sama aku yang nerd dan ga peduli penampilan. Walaupun badanku proporsional, tapi mukaku ga mendukung. Bukan jelek, tapi ga terawat. Aku ga pernah perawatan. Dan hasilnya ya gini, muka kumel kayak beha kangguru.
Banyak kakak kelas yang suka Vanca. Tapi semuanya ditolak mentah-mentah. Katanya sih, dia mau fokus belajar. Bullshit. Padahal dia nolak soalnya dia ngincer cogan kelas 3, Kak Sam sohibnya Kak Reihan.
"ANJAY! LU NABRAK REI TEMENNYA SAM ITU KAN?! BUSET DAH, REJEKI NOMPLOK TUH NAMANYA. HARUSNYA GUE YA-" aku membekap mulutnya. Seisi kelas langsung menatapku dengan tatapan membunuh. Seakan berkata 'BERISIK LU ANJING!' Aku membungkuk minta maaf tanpa bersuara. Aku menatap Vanca sebal.
"Ehehe.. sori say. Eh beneran deh, lu seriusan?" tanyanya nyengir.
Aku mengangguk.
"Trus dia ngajak kenalan ga? Dapet nomernya?"
"Kaga. Jijay. Dingin banget orangnya."
"Jangan gitu, ntar suka loh."
***
Dan emang bener. Aku jadi suka sama Kak Rei. Walaupun dinginnya ngalahin kutub utara tapi aku tetep suka. Entah kenapa, sikapnya itu kayak candu. Dingin, tapi bikin aku lebih tertarik.
Akhirnya aku nyatain perasaanku ke dia lewat chat. Walaupun cuma TOD, tapi ya at least aku bakalan tau gimana reaksi dia. And you know what? Dia nolak MENTAH-MENTAH. Dia bilang, 'Lu rese ya, berisik banget dah. Gue block aja ya.' CUIH. Dasar ga punya perasaan.
Setelah itu aku ga mau lagi suka sama cowok kayak dia. Lalu akhirnya dia lulus. Dan pergi entah kemana.
-
Ceritanya garing ya? Hehe.. maafkan hamba.
Chapter selanjutnya janji deh, bakalan lebih seru.
Jangan lupa comment and vote ya..
❤
YOU ARE READING
Your Bad Side
Romance[H I A T U S] "Ini cuma pemanasan, permainan yang sesungguhnya belum dimulai."-Sam. "Karena aku sudah jatuh. Jatuh pada cinta yang sama."-Alena. "You are mine. Selama jantung ini masih berdetak, aku akan melindungi apa pun yang jadi kepunyaanku."-Re...
