Dinda terus memperhatikan lelaki itu melalui ponselnya, alibinya ia berpura-pura selfie padahal ia memperhatikan seseorang yang berada dibelakang nya. Sudah belasan foto baru memenuhi galerinya, tapi fokus pada gambar itu tepat dimana lelaki itu duduk.
"Udah selesai selfie nya?" Tanya seorang lelaki yang kini duduk disamping Nasya.
"Hah? Eh?" Dinda terlihat salah tingkah dengan kehadiran sosok lelaki itu. Lelaki yang sejak dari tadi ia foto.
"Hapus aja foto-fotonya, jelek tuh gue lagi mangap-mangap."
"Apaan si, orang gue lagi selfie juga."
"Mending langsung aja foto berdua, sini mana hp lo?" Tanpa meminta izin pada Dinda, lelaki itu langsung mengambil ponsel Dinda yang berada di atas tangannya yang tidak terlalu erat ia genggam.
"Ih apaan sih siapa juga yang mau foto bareng lo."
"Ck. Malu-malu tai kucing."
Setelah itu Dinda pergi meninggalkan lelaki itu dengan pipinya yang sudah seperti tomat masak. Rencana nya kini tertangkap basah. Bego banget sih Din, batin Dinda. Ia terus merutuki dirinya karena kejadian memalukan tadi.
Hari ini Dinda pulang 1 jam lebih cepat dari hari biasanya karena guru-guru nya sedang melaksanakan rapat dadakan. Dinda lebih memilih pergi ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Itu yang selalu ia lakukan setiap harinya, karena jika sudah di rumah mood nya untuk mengerjakan tugas sudah hilang.
"Aduh ini soal kenapa gini amat sih? Dedek pusing ya Allah." Buku-buku tugasnya kini sudah menjadi bantalannya. Ia hanya memejamkan matanya, tidak sampai tidur.
"Mau gue bantu? Kebetulan kelas gue udah beres ngebahas itu." Ucap lelaki itu yang sontak membuat Dinda mendongak kan kepalanya, menatap lelaki yang tadi berbicara padanya.
"Hah? Apaan? Ga gue bisa sendiri kok. Tinggal tanya google juga beres." Jawab Dinda sedikit gugup.
"Kalo lo copas dari google yang ada lo nya ga ngerti." Lelaki itu berpindah posisi, kini ia duduk disamping Dinda. Konser akbar di jantung nya sudah mulai.
Lelaki itu mulai menjelaskan materi yang sedang Dinda kerjakan. Fokusnya pada tugas dihadapnnya hanya 50%, dan sisanya pada lelaki yang sedang serius menjelaskan materinya. Untungnya, kali ini ia tidak tertangkap basah lagi.
"Thanks ya. Btw kok lo masih disini?"
"Tadi mau pinjem buku."
"Oh."
"Lo udah lama ngelakuin itu?"
"Ngelakuin apa?" Dinda mulai berkeringat dingin, mengerti maksud dari perkataan lelaki itu.
"Pura-pura selfie padahal malah fokusin kameranya ke gue." Ucapnya dingin.
"Apaan sih lo ge-er banget. Gue emang bener-bener selfie kali." Iya, tangannya mulai dingin.
"Gausah ngeles lagi deh. Gue udah berkali-kali liat kelakuan konyol lo itu. Dan tadi adalah waktu yang tepat buat gue negur lo."
"Ehm apaan sih."
"Foto bareng yah, lo senyum." Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dan beberapa foto baru telah masuk digalerinya. Didalam foto itu senyuman dari keduanya tampak manis dan tulus.
"Lo pulang bareng siapa?"
"Dijemput."
"Oh oke deh. Gue duluan yah." Lalu lelaki itu pergi meninggalkan Dinda yang hatinya saat ini sedang menjerit bahagia. Dinda terus menepuk, lebih tepatnya menampar pipinya karena ia takut ini hanyalah sebuah khayalan belaka. Tapi ternyata tidak, ini sangat nyata.
YOU ARE READING
Misunderstand
Teen Fiction||HIATUS|| "Udah selesai selfie nya?" Tanya seorang lelaki yang kini duduk disamping Dinda. "Hah? Eh kok lo?" Dinda terlihat salah tingkah dengan kehadiran sosok lelaki itu. Lelaki yang sejak dari tadi ia foto. "Hapus aja foto-fotonya, jelek tuh g...
