Penjodohan

762 56 5
                                        

"minggir. ini tempatku." ujar namja kelewat putih pada sesosok orang yang tengah duduk di kursinya.

Sosok itu memandang Sehun, si namja kelewat putih yang baru saja menegurnya.

"pinjam dulu bangkumu, Sehun." sahut Luhan, sosok yang tengah duduk di bangku Sehun dan kembali melanjutkan pembicaraannya dengan temannya.

"minggir." ujar Sehun lagi dengan wajah datar.

"kenapa kau selalu mencari ribut denganku, eoh?" tanya Luhan tak santai yang segera minggir dari bangku Sehun.

"Cih." Sehun berdecih. ia tak mengindahkan perkataan Luhan. Dan langsung duduk ditempatnya setelah Luhan berdiri.

"Kenapa kau tidak bisa berhenti membuatku kesal, eoh?" Gerutu Luhan.

"Memangnya kapan aku membuatmu kesal?" Perkataan Sehun membuat Luhan benar benar naik pitam.

"Hey, kau tuan muka datar, kunci saja mulutmu itu!" Dengus Luhan.

Sehun berdecih dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Sehun terlihat sedang melamun. Memikirkan kejadian kemarin bersama appa-nya saat ia baru pulang sekolah.

~~~
Sehun keluar dari mobil sport miliknya yang telah terparkir sempurna di halaman rumahnya.

Cklek.
Pintu terbuka. Seisi rumah mewah bak istana nampak jelas dimata namja albino itu.

"Halo, Sehun. Bagaimana sekolahmu?" tanya namja berumur yang tengah menyeruput kopinya.

"Baik saja, appa." jawab Sehun datar.

"Ah, Sehunna," tuan Oh bangun dari duduknya menghampiri anak semata wayangnya itu. "Appa berniat menjodohkanmu."

Kalimat yang terlontar dari mulut sang Appa membuat Sehun kaget. Tapi rasa kagetnya tertutup karena wajahnya yang datar sedatar papan triplek.

"Mwo? Penjodohan?" Sehun terlihat masih memproses perkataan appa-nya barusan.

"ANIYA! Aku tidak mau dijodohkan!" teriak Sehun setelah 'berhasil' memproses perkataan appa-nya.

"Appa juga sebenarnya tidak mau menjodohkanmu, Sehun." sang Appa menghela nafas. "Tapi ini demi kepentingan kedua pihak." Lanjut tuan Oh.

"Ha? Maksud appa apa?" Sehun masih terlihat bingung.

"Yah, kau tahu kan, Sehun. Kalau permasalahan perusahaan kita dengan perusahaan Lu Corp semakin memanas?" Sehun mengangguk. "Yah, jadi inilah solusinya. Kau harus dijodohkan dengan anak Tuan Lu, tentu saja tanpa sepengetahuan karyawan kami." jelas sang appa.

Sehun terlonjak. Ia tidak mau dijodohkan. Dan seingatnya, anak Tuan Lu itu adalah seorang teman sekelasnya yang sama dengannya, seorang NAMJA. Tentu saja memiliki batang seperti dirinya.

"Appa! Apa yang kau lakukan!? Kau tidak tahu anak tuan Lu itu--"

"Tentu saja appa tahu Sehun!"sebelum Sehun selesai bicara, sang appa langsung memotong ucapannya.

"Tapi bukankah dia sangat cantik? Bahkan melebihi yeoja." goda appa Sehun.

"Yak! Cantik darimana?" sewot Sehun.

"Baiklah, Sehun. Appa mohon, kau harus berpacaran denganya, ne?"

~~~
Begitulah kira kira yang Sehun ingat tentang percakapannya dengan Appa-nya kemarin.

"Sial." umpat Sehun nyaris tak terdengar.

Ia melirik sosok mungil disampingnya yang tengah menyalin Materi-Materi di buku.

Sehun kembali memandang langit lepas diluar jendela. Ia masih memikirkan kata kata appa-nya kemarin.

"Ini hanya pura pura saja, Sehun. Dan hanya satu tahun saja." ujar Appa-nya.

"Hanya satu tahun..." batin Sehun.

T.B.C
Uwaa.. ini FF pertamaku😆 maaf pendek. Idenya belum berjalan mulus. Jangan lupa Vomment yaa😆
Salam, 520❤

Saranghae, LuDonde viven las historias. Descúbrelo ahora