Aku melamun di meja perpustakaan milik nenekku sambil memperhatikan soal Bahasa Inggris. Tunggu! Seharusnya ini tidak sulit! Ini pelajaran anak SD, tapi mengapa aku tidak bisa mengerjakannya?! Hei! Ada apa denganku?
"Soal itu tidak akan terisi dengan hanya menatapnya saja, Luke, cobalah mengerjakannya," ujar nenek yang sedang membersihkan buku-buku.
Aku terbatuk-batuk menghirup debu yang beterbangan di udara. Astaga, bisakah dia tidak membersihkan buku-buku itu ketika aku sedang berusaha keras mengerjakan soal ini?!
Oke, dia nenekku! Baiklah... baiklah...
Aku meregangkan tubuh. Tidak, tidak ada ide, otakku mampet seperti ada yang menyumbatnya. Rasanya aku ingin menyedotnya dan mengeluarkan otakku dan membersihkannya dan...
"Aha!!!" teriakku tiba-tiba. Seolah ada yang melemparkan kertas contekan, aku tiba-tiba merasa dapat mengerjakan soal nomor sebelas. Aku mengambil pensilku dan menul―
"Luke, bisakah kau memijat tangan nenekmu ini?"
BUKKK!!!
Seperti ada yang memukul kepalaku dengan buku ensiklopedia super tebal, aku meletakkan pensilku dan menarik napas panjang. Ya, Tuhan! Ingat! Dia nenekmu, Luke.
Aku beranjak dari kursiku dan memijat tangan nenek. Kulitnya terasa lembek di tanganku, semuanya kriput dan... lucu.
"Apa yang kau tertawakan, heh?" tanya nenek penasaran.
"Kulit nenek lucu dan lembut," jawabku.
"Kau juga akan mempunyainya nanti saat kau tua. Cucumu akan menertawaimu juga," ujar nenek memukul kepalaku pelan.
Aku tertawa, "Itu masih lama, nek. Aku baru saja berumur 18 tahun. Aku akan merawat kulitku biar gak keriput seperti nenek."
Nenek ikut tertawa, memperlihatkan senyuman yang indah, "Lihat saja nanti. Ah, sayang sekali aku tidak akan bisa melihatnya. Aku akan mati sebentar lagi, melihatmu berubah menjadi kakek tua adalah hal yang mustahil bagiku."
Suasana pun berubah menjadi tidak enak, "Kenapa... nenek berbicara seperti itu? Jangan bicarakan kematian. Itu mengerikan."
"Apanya yang mengerikan? Itu hanya terasa seperti tidur yang panjang. Kau kan suka tidur, kau pasti akan menyukainya."
Menyukai kematian? Apa nenek sudah mulai gila?
Aku menggelengkan kepala, "No. Lagipula, nenek tahu darimana kalau itu seperti tidur? Dan... nenek gak akan mati. Nenek akan hidup seratus tahun lagi."
Nenek memukul kepalaku lagi, "Kau kira aku ini kura-kura, bisa hidup selama itu, heh?" Lalu nenek beranjak dari kursi.
"Hidup itu melelahkan, Luke. Perlu tidur yang panjang untuk melepaskan semua kelelahan itu."
Kematian seperti tidur?
Bagaimana pun... aku tidak menyukai ide itu.
***
Kakiku terus melangkah di bawah terik matahari yang panas. Aku tidak peduli. Dari kejauhan aku dapat melihat sebuah perpustakaan kecil di pinggir jalan. Kacanya yang bersih (itu aku yang membersihkan), halaman yang rapi (itu aku yang menyusun tanamannya), cat dinding yang mengkilap (yah, itu bukan aku yang mengerjakannya). Itu adalah perpustakaan nenekku.
Aku memunguti daun-daun yang berguguran satu persatu di depan perpustakaan.
Satu daun...
Dua daun...
Tiga daun...
Tali sepatu...
Eh?
Aku berdiri tegap mengerjapkan mataku dan melihat seorang gadis dengan rambut pendek sebahu berantakan, jaket, celana jins, dan sepatu kets, terlelap disana. Dia kelihatan bukan pengemis.
"Oi! Kau... bangun," ujarku sambil menggoyangkan kakinya, namun dia tidak bergeming.
"Bangun!" aku menendang kakinya perlahan. Dia belum bangun juga?
"WOI!!! BANGUUUUNNNN!!!!"
Gadis itu membuka matanya perlahan dan memandangku dengan mata menyipit, "Kamu siapa?"
Aku naik darah, "Kamu mau tahu aku ini siapa? Aku ini pemilik perpustakaan dimana kamu merebahkan tubuhmu itu di dindingnya!!! Apa kamu gak bisa membaca?" Aku meraih papan di pintu, "dilarang parkir, berjualan, makan dan minum di depan perpustakaan ini!" pekikku dengan dada naik turun.
Gadis itu hanya memandangku hampa, "Di sana gak dilarang buat tidur," ujarnya enteng.
Apa? Masa?
Aku memeriksa papan itu dan... benar! Sial!
"Aku gak peduli. Anggap saja kamu parkir di sini, memarkirkan tubuh kamu di sini. Itu menyebalkan! Pergi sekarang juga!" desisku.
Gadis kurus itu beranjak dari sana, menguap besar sekali dan... dia masuk ke dalam perpustakaan?? Apa yang dia lakukan?!
"Selamat siang, selamat datang di perpustakaanku. Kau mau meminjam buku? Oh, jadilah anggota terlebih dahulu." Nenekku sangat ambisius soal ini. Maklum, perpustakaan tua seperti ini jarang dikunjungi orang-orang.
Gadis itu menggaruk kepalanya dan menguap lagi. Dia berpikir sejenak dan mengeluarkan dompetnya, "Ini kartu identitasku, uang... apa ini cukup?"
Mata nenek berbinar ketika melakukan pencatatan. Aku baru saja ingin menghentikannya, namun sedih rasanya ketika melihat hanya ada nama gadis itu di kolom anggota.
Riley, tulis nenek.
Aku benci nama itu, aku benci gadis itu berada di perpustakaan ini.
"Nek, apa yang kau lakukan? Dia hanya ingin tidur disini," bisikku kencang pada nenek, "lihat itu! Liurnya dapat menetes di buku-buku nenek!" Aku menunjuk Riley yang sekarang sedang tidur di atas buku.
Nenek tersenyum memandang Riley, "Ingat, Luke, hidup itu melelahkan. Orang-orang perlu tidur."
Grandma, you kidding me?!!!
✨✨✨
wdyt guys?
ESTÁS LEYENDO
Don't Sleep Away × lrh
Fanfiction❝Hei, jangan tutup mata kamu! Bangunlah, jangan tidur!❞ ©sprinklescup-cake 2017
