That Ghost; I

175 8 0
                                        

     "ich bin hungrig" Lirih Prilly di atas tempat tidurnya, dua jam setelah ia terbangun dari koma.

     "Prilly sayang, Prilly ngomong apa nak?" Tanya perempuan paruh baya yang dulu sering di panggil mama oleh Prilly.

     Seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu sambil memegang handphone dan beberapa kali mendekatkan handphone itu di telinga kanannya, ia sibuk berbicara dengan seseorang.

      "Kak, lo ngomong apa sih kak? Jangan aneh-aneh deh kak, ayolah! Di sekolah, Raja cuman belajar bahasa Indonesia, inggris sama bahasa arab. Ngga pake bahasa Jerman." Ucap Raja, adik Prilly yang semakin stres karena Prilly terus berbicara dengan bahasa asing.

     "Mah, Risa lagi di perjalanan. Untung aja dia sudah pulang dari Jerman, mudah-mudahan bisa bantu kita." Ucap papanya Prilly.

     "mama, ich bin hungrig!" Ucap Prilly dengan nada yang agak keras dan tiba-tiba seorang perawat muncul dari balik pintu membawa beberapa mangkuk berisi sarapan dan buah-buahan.

     "schließlich!" Seru Prilly sambil berusaha bangkit, namun cedera pada punggung kanannya membuat ia tak bisa leluasa bergerak.

     "Ya elah, laper kak? Ngomong laper aja susah, ya ampun!" Gerutu Raja sambil menggelengkan kepalanya.

     "Hus! Kamu nih ya, ribut banget dari tadi. Ngga liat kakakmu lagi sakit?" Tegur mama pada Raja.

     "Pelan-pelan nak, tunggu sebentar." Ucap Papa sambil memperbaiki posisi tempat tidur Prilly agar kepalanya bisa lebih tinggi, tanpa pikir panjang Prilly langsung melahap makanan itu tanpa sisa. Tak heran jika ia kelaparan, lebih dari tiga minggu mengalami koma.

     Saat mereka semua serius memperhatikan Prilly, tiba-tiba seorang perempuan muncul dari balik pintu. Dia adalah Risa, kakak sepupu Prilly yang tinggal di Jerman dan kebetulan sedang berlibur di Indonesia.

     "schließen die tür!!" Teriak Prilly histeris sambil menutup matanya setelah melihat kehadiran Risa.

     "Kenapa nak?"

     "Ada apa sayang?!"

     "Lo kenapa kak?!"

     "Beruhigen prilly!" Ucap Risa sambil berjalan mendekati Prilly, ia memeluk Prilly dan mengelus Puncak kepala Prilly untuk menenangkan perempuan mungil itu.

     "Prilly takut, tante, om. Prilly tadi lihat sesuatu di luar, makanya dia berteriak minta pintunya di tutup." Ucap Risa menjelaskan pada Kedua orang tua Prilly.

     "Kok aku jadi merinding ya? Dududu.." Ucap Raja sambil mengusap lehernya.

     "Namanya juga rumah sakit, hal seperti itu pasti banyak disni. Ngga cuman disini, dimanapun juga ada." Ujar papa.

     "Papa ih, jangan gitu ah. Mama jadi takut!!" Ucap mama sambil menepuk pelan lengan papa Prilly.

     "Apasih mama, lebay. Eh, tapi Prilly ngga pernah cerita kalo bisa lihat hantu." Ujar papa.

     "Ho'oh. Kak Prilly malahan manusia paling penakut di rumah, kok bisa sih?" Tambah Raja.

     "seit wann sie können sehen die geist?" Tanya Risa pada Prilly.

     "seit wann sie kommen" Jawab Prilly dengan suara bergetar.

     "Prilly tiba-tiba lihat hantunya waktu aku berdiri di depan pintu, itu ngga masalah kok tante. Aku juga kan bisa lihat hantu, memang sejak Risa jalan masuk ke sini, ada satu sosok hantu perempuan yang ngikutin Risa dan mungkin Prilly juga ngeliat hantu itu!" Ucap Risa.

     Selama dirumah sakit, Prilly hanya berkomunikasi dengan Risa. Risa juga banyak bertanya dengan Prilly tentang semua hal yang dia alami sebelum kecelakaan, saat koma dan setelah bangun dari koma.

     Prilly bercerita mengenai awal mula kecelakaan itu, saat itu Prilly masuk ke dalam toilet. Saat masuk ia seperti menabrak seseorang tepat di depan pintu, padahal tidak ada seorang pun yang keluar dari kamar mandi. Awalnya sempat ragu untuk terus masuk, namun ia harus mencuci wajahnya yang terkena saus tomat lemparan dari Luvi, si ketua geng ule-ule yang terus membully dirinya.

     Prilly yang memang seorang penakut memberanikan dirinya untuk terus masuk dan terus meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah halusinasi, ia memutar keran air dan menadahkan kedua telapak tangannya tepat di bawah moncong keran air. Ia membasuh wajahnya perlahan sambil melihat dirinya pada cermin yang terpampang di tepat hadapannya.

     Sesaat setelah membersihkan wajahnya, tiba-tiba ia merasakan sakit yang begitu hebat pada punggungnya, seperti seseorang baru saja menepuk dengan keras. Prilly berlari keluar dengan nafas yang terengah - engah menuju kelasnya sambil terus memegang pundaknya.

     "Kamu kenapa Pril, kok muka kamu pucat gitu?" Tanya Daniel, laki-laki culun yang satu-satunya teman seperjuangan Prilly di dalam kelas sastra korea.

     "Ngga tau nih, tiba-tiba aja pusing" Jawab Prilly

     "Mau Aku anterin ke UKK? Biar istrahat disana aja, ya?" Tanya Daniel.

     "Ngga usah, gue mau pulang aja. Gue minta tolong izinin gue ya sama dosen, lagian kan cuman sekali ini gue izin, yah? Kalo gitu, gue balik duluan ya!" Ucap Prilly sambil berjalan meninggalkan Daniel yang masih menatap Prilly hingga lenyap dari balik pintu kelas.

     Tak lama kemudian seisi kampus gempar dengan berita yang baru saja menyebar, seorang perempuan tertabrak mobil di depan kampus. Daniel yang juga penarasan pun ikut berlari menuju tempat kejadian, betapa terkejutnya dia ketika melihat korban tabrak lari itu tidak lain adalah Prilly.

     Risa bertanya mengapa bisa Prilly tertabrak, Prilly pun menjelaskan bahwa saat itu ia seperti kehilangan kendali seperti sedang kerasukan. Ia pun tidak merasa bahwa dirinya sudah berada di tengah jalan, dia mencoba menyingkir namun tidak ada daya sedikit pun dari dalam dirinya untuk menghindar sampai akhirnya, brak!

     Risa mengerti mungkin sejak kecelakaan itu mata batin Prilly seolah terbuka, itu sebabnya ia bisa melihat sosok hantu yang terus mengikutinya saat akan masuk kedalam rumah sakit.

     Prilly berkata bahwa sebenarnya ia tidak tertidur saat dokter mengatakan bahwa dia mengalami koma, malahan ia terus berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit itu sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang pria tampan bertubuh tinggi dan memiliki lesung pipi di kedua pipinya.

     Prilly bercerita bahwa waktu itu ia berjalan keluar dari kamar nya dan berjalan menjauh dari ruangan ICU itu, dia melihat seorang pria duduk sambil memeluk kedua kakinya dan menyenderkan kepalanya pada dinding. Prilly berjalan terus sampai ia benar-benar berada di depan pria itu, Prilly terus memandangi pria itu yang memejamkan matanya.

     "was ist, hm? warum sie haben sehen mich so?" (Ada apa, hm? Mengapa kau melihatku seperti itu?). Tanya pria itu dengan mata yang masih tertutup membuat Prilly kaget dan salah tingkah.

     "Sorry" Ucap Prilly dan kembali berjalan.

     "wollen an wo?" (Mau ke mana?). Tanya pria itu dengan mata yang masih terpejam.

     Aneh, Prilly sama sekali tidak menyadari kenapa ia bisa mengerti bahasa pria itu dan Ia pun menjawab dengan lancar seolah sudah sering berbahasa Jerman.

     Prilly berjalan mendekati bangku panjang rumah sakit dan duduk, matanya memandang lurus kedepan tanpa menoleh lagi sedangkan pria itu masih pada posisinya tanpa perubahan sedikit pun.

     Prilly kembali bertanya-tanya pada dirinya sendiri, untuk apa dia terus diam di situ, Padahal ia sama sekali tidak mengenalnya. Pelan-pelan Prilly larut dalam lamunannya yang berisi pertanyaan, tiba-tiba semuanya buyar saat pria itu menarik Prilly berlari bagaikan angin.

     Wooooofff!!!

     "RUN!! RUN!! RUN!!"
























To be continued ~
GIVE ME UR VOMMENT, Vote and comment. 😊

That GhostCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang