Kehangatan akan kebersamaan dalam di rumah tua ini
mampu membendung sepi di malam ini
bersama orang-orang terdekat
yang tak kenal ego
Kehangatan rumah tua ini melupakan segala kesibukan
mampu mengalahkan amarah hati dan ego
menikmati secangkir teh bersama sang pembawa kehangatan
ah... nikmat rasanya, lupakan segalanya
Adik kecil loncat-loncat di atas kasur saking gembiranya
nenek sedang asyik menjaga warungnya
Aku, Ayah, dan Ibu menikmati malam yang hangat ini
walaupun kami di bawah atap rumah tua
Kala waktu terus mengalir
sarang laba-laba seolah-olah membungkus kamidalam kerisauan yang tak kunjung usai
rumah tua ini sudah terlalu tua untuk menaungi kami
Kala kehangatan itu mulai memudar
kebersamaan terlah terbungkus oleh kesunyian
terus memudar
hingga menyisakan nyanyian kesepian
Kini semua telah berubah jadi nostalgia
menyisakan sejarah-sejarah batin
yang dulu mampu menjadi sumber kehangatan
tapi kini telah menjadi debu-debu pilu
Tak ada lagi secangkir teh yang membawa kehangatan
kini menjelma secangkir pilu risau
tergeletak menyendiri, tak berarti
ah... hambar rasanya, lupakan kehangatan
Entah kapan bisa seperti dulubersama kehangatan dan kebersamaan
bersama rumah tua yang kini tersisa puing-puing sejarah
tapi kini tak ada gunanya lagi mengingat itu
Ah... bila masih begini
aku akan memeluk lutut di bawah bintang-bintang
ditemani embusan angin sepi
tanpa ditemani orang-orang tercinta
Aku rindu semuanya
[April 2017]
YOU ARE READING
Denting Kehidupan
PoetryKita semua pasti memiliki kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang menjalani kehidupan dengan penuh antusias, ada pula yang penuh putus asa. Untuk itu, mari baca puisi karya saya untuk melihat kembali arti kehidupan itu.
