🏜Ngalay Dikit

7.8K 359 6
                                        

Kaki gue rasanya melayang. Di pagi yang gelap- maksud gue cerah ini, suara burung berkicau riang. Mereka alarm hidup gue setiap pagi. Mengandalkan kakak? Gak mungkin banget sih, dia sangat kebo jauh dibandingkan gue.

"Hari ini, hari apa?" tanya gue ke diri gue sendiri lewat pantulan cermin. Miris ya keseringan sendiri makanya begini.

Yaudahlah, daripada gue terus-terusan meratapi nasib agak buruk ini, lebih baik sarapan dulu. Karena menunggu itu butuh tenaga borrr.

"MANDI DULU BARU BOLEH SENTUH MAKANAN!" wanjing, baru aja gue keluar kamar dan menuju meja makan, kakak pertama gue, Jessica sudah teriak. Kakak tiri lebih tepatnya, soalnya ayah kak Jess menikah dengan Mama makanya marga kami berbeda.

"I-iya ampun, Nyai." untuk senin pagi ini, gue gak mau mencari masalah dulu. Kak Jess kalau marah itu seram, tapi kalau baik udah kayak bidadari.

Gue melepas baju dan menyalakan shower. Seger ya.

"WOYY MANDINYA CEPET WOYYY!!"

Wanjing.(2)

Kenapa sih di rumah gue gak pernah tenang sedetik pun?!

"ADA KAMAR MANDI ATAS KOSONG. DISANA AJA!" balas gue dengan teriak.

"GAK MAU. CEPAT KELUAR!!" gila memang, Sehun -dia lelaki berwajah bule nan cool suka banget berteriak.

"IYA SEBENTAR DULU ANJENG." gue keluar dengan handuk masih bertengger di leher. Untung tadi gue sempat mengambil baju seragam, soalnya kamar gue dan kamar mandi posisinya berdekatan.

"Tuh udah." kata gue dan kak Sehun menyelonong masuk kamar mandi tanpa ekspresi. Masih gak percaya kalau gue punya kakak yang aneh seperti dia.

"KAK NJESS BUAT APAA??"

"Liat aja sendiri." jawabnya. Akhirnya dengan legal gue bisa membuka tudung saji berwarna pink yang terduduk cantik di atas meja makan.

Wah, martabak mie. Tampaknya enak. Bukan tampaknya lagi sih, enak beneran.

Tak terasa gue memakan 3 potong, sisa 3 juga. Waduh, di amuk masa gak ya gue? Mending gue cari aman, berangkat ke sekolah duluan gitu. Muehehehe.

Gue mengambil tas di kamar dan langsung melesat pergi. Tapi sebelumnya gak lupa menaruh stick note di meja makan.

Kakak-kakakku sayang, Hana yang cans nan baik hati namun jomblo ini izin pamit pergi duluan. Ada acara. Maaf ya kalau baklornya sisa 3. Iklasin aja, siapa tau berkah dan dapet pahala.

-H4N4 C4N$ T¡D4K 4L4¥

Kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya.

Meanwhile...

"Hun, lihat kelakuan adikmu." ucap Jessica sambil menunjukkan kertas kecil berwarna hijau pastel. Disana ada tulisan dari Hana.

"Adik kakak juga kali."

"Maksud aku bukan itu. Dia bilang ada acara? Acara apa? Pacar aja gak ada, segala acara-acaraan. Gaya banget anak satu itu." kata Jessica pakai logat batak.

"Iya benar itu. Mana ada laki-laki yang mau dekat dengan dia. Kasian, tetapi hasratku bilang tertawakan saja dia." sahut Sehun.

"HAHAHAHA. Hei, cepatlah kau berangkat. Sudah mau pukul 7. Kalau telat aku gak mau dimintai tanda tangan palsu lagi."

"Hmm... oke. Duluan ya, Kak." pamit Sehun.

***
Lelah juga bersepeda dari rumah ke sekolah. Gue kira dekat, ternyata jauh.

"Tumben amat neng pakai sepeda. Memangnya kakakmu itu kemana?" komentar salah satu satpam, pak Aris.

"Hooh, pak. Lagi menghindari perang dunia 3 ini."

"Berantem?"

"Lebih dari berantem." jawab gue lalu menggoes sepeda lagi dan memarkirkannya di parkiran motor. Soalnya kan sepeda beroda dua.

Setelah selesai memarkirkan, gue berjalan menuju kelas. Beneran ke kelas kok, gak mampir kantin.

"Hana." ada orang yang menyebut nama gue. Gue menengok kesana kemari mencari sumber suara.

Tapi nihil.

"Siapa yang sebut nama gue?"

"Saya." gue menoleh, ada cowok berperawakan tinggi, gue cuman se- dadanya. Gue gak pendek, dia aja ketinggian.

"Ada apa ya?"

"Gak papa. Cuma mau bilang, saya tadi lihat gantungan kunci ini jatuh. Saya baca nama yang ada di sinj, kamu menoleh. Jadi saya pikir ini punya kamu. Nih ambil." katanya sambil menunjukkan gantungan itu.

"Iya itu punyaku. Makasih."

"Sama-sama. Lain kali hati-hati."

"Iya."

Dia langsung pergi. Gue sedang termenung sambil menatap gantungan yang berada di telapak tangan gue.

Padahal nama Hana sudah hampir pudar di sini, dia masih bisa baca ya? Gue aja gak. Plis, bukan berarti gue disleksia ya.

Pasti orang ini kenal sama gue. Pasti.

to be Continued

nganu bener

Kakak Kelas-PCY✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang