Sore hari yang cerah, seperti biasa aku bermain pasir di depan rumahku. Ya, mungkin kalian bingung kenapa aku bermain pasir. Tapi ini adalah kesukaanku, aku lebih suka berkreasi dengan pasir-pasir yang ada di depan rumahku. Aku bisa membuat istana pasir, orang-orangan pasir, kendaraan pasir, dan masih banyak lagi yang bisa aku buat dengan pasir-pasir itu.
Saat aku menggali pasir-pasir itu, terasa ada yang mengganjal sehingga aku tidak bisa menggali lebih dalam. Aku pun menggali dari sisi lain tempat itu, dan aku melihat ada sesuatu yang timbul, tapi aku tidak tahu itu apa karena masih tertutup dengan pasir-pasir. Kemudian aku menggalinya menggunakan mainanku.
Benda itu bentuknya seperti telur, namun berbeda dengan telur yang lain. Telur itu berukuran lebih besar bahkan sangat besar. Setelah aku membersihkan pasir-pasir yang menutupi telur itu, terlihat telur itu berwarna kuning seperti emas dan juga mengkilat.
Aku belum pernah melihat telur yang seperti itu sebelumnya dan aku tidak tahu itu telur apa, dan sejak kapan ada di dalam pasir depan rumahku. Tapi aku akan menyembunyikannya dari ibuku, karena aku takut ibuku merampasnya dan langsung menjualnya untuk kepentingannya sendiri.
Aku berusaha mengangkatnya masuk ke dalam rumahku. Ternyata telur itu lumayan berat. Untung saja aku gendut jadi bisa mengangkat telur besar ini. Aku pun membawanya ke dalam kamarku dan meletakkannya di samping tempat tidurku. Kemudian aku keluar dari kamarku dan membereskan mainan-mainanku yang kutinggal di depan rumah.
Saat aku kembali ke kamar untuk menaruh mainan-mainanku itu, aku langsung terpikir untuk menaruh telur besar itu di dalam peti yang berisi mainan-mainanku. Karena peti itu besar dan melebihi besarnya telur itu, aku pun menyimpannya di dalam peti dan menaruh peti itu di bawah tempat tidurku yang tertutup dengan sprei kasurku yang panjang. Aku berharap saat ibu membersihkan kamarku, ia tidak membuka isi peti itu, karena aku tidak tahu harus menaruh telur besar itu dimana lagi selain disitu.
Aku hanya seorang anak laki-laki dari keluarga miskin di sebuah desa terpencil di Australia bagian Barat. Aku hanya tinggal bersama dengan ibuku. Ayahku sudah lama pergi meninggalkan kami, karena terjadi peperangan antara desa di bagian Barat dengan desa di bagian Selatan.
Pada saat itu, ayahku yang menjadi kepala pasukan terpaksa mengorbankan dirinya sebagai imbalan untuk menyelamatkan pasukan-pasukan dan warga-warga yang hendak dibunuh. Dan akhirnya peperangan itu pun dimenangkan oleh desa bagian Selatan.
Sejak itulah ibuku mulai berubah karena depresi ditinggalkan oleh ayahku. Ibu pun menghilangkan depresinya dengan menghabiskan sedikit demi sedikit harta yang kami miliki hingga akhirnya harta itu benar-benar habis dan kami jatuh miskin hingga saat ini.
Setelah hari dimana aku menemukan telur besar itu di dalam tanah depan rumahku, tepatnya dua minggu yang lalu, membuat rasa penasaranku semakin besar dan aku semakin tidak sabar menantikan kapan telur itu menetas.
Setiap pulang sekolah, aku selalu memperhatikan perkembangan dari telur itu. Namun, belum juga terlihat perkembangannya. Telur itu tetap saja segitu besarnya, tidak bertambah besar lagi. Apa jangan-jangan itu adalah anak ayam raksasa? Atau anak burung raksasa? Banyak sekali pertanyaan-pertayaan yang ada di dalam kepalaku saat ini tentang telur besar itu.
Sempat terpikir olehku ingin meletakkan dimana makhluk yang nantinya akan keluar dari telur besar itu. Aku takut bagaimana jika ibu sampai mengetahui telur yang aku sembunyikan darinya sejak 2 minggu yang lalu? Bisa terancam hidupku.
Matahari perlahan-lahan mulai bersembunyi di pelupuk menyisakan gelap pada langit yang hanya dihiasi setitik cahaya yang tidak begitu cerah, namun warnanya indah, sungguh sangat indah. Malam semakin larut, rasa lelah mulai mengghinggapiku, aku berjalan menuju tempat tidurku untuk beristirahat.
Mataku hampir terlelap saat ku dengar suara gaduh dari bawah tempat tidurku. "Sepertinya ini suara dari dalam peti itu. Tapi masa iya, peti itu bisa berbunyi? Ah, sudahlah, aku lanjut tidur saja."
Namun suara itu semakin terdengar jelas. Aku pun bangun dari tempat tidurku dan menarik peti itu keluar dari bawah tempat tidurku. Kemudian aku mendekatkan telingaku pada peti itu untuk memastikan bunyi itu memang berasal dari peti itu. Tapi, tidak terdengar suara apapun. "Sudah kuduga, ini hanya persaanku saja. Mungkin karena aku terlalu lelah, jadi aku mendengar suara yang aneh-aneh."
Saat aku ingin memasukkan peti itu ke bawah tempat tidurku, suara itu pun terdengar lagi. Ketika aku mendekatkan telingaku ke peti itu, terdengar suara-suara berisik. Apa mungkin telur itu sudah menetas? Dengan rasa takut dan gugup, aku membuka peti itu perlahan-lahan. Tiba-tiba... ada sesuatu yang melompat ke arahku, membuat posisiku yang tadinya duduk menjadi tertidur di lantai dengan makhluk aneh yang belum pernah aku lihat ada di atas badanku saat ini. Untungnya aku tidak berteriak, kalau saja aku berteriak, mungkin ibu akan masuk ke kamarku dan melihat apa yang baru saja terjadi.
Makhluk yang berada di atas tubuhku saat ini adalah makhluk aneh berwarna hijau tua dengan panjang sekitar 25 cm. Makhluk itu menjulurkan lidahnya dan menjilat mukaku. Kemudian aku bangun dan menggendongnya. Dia tidak begitu berat, tidak seperti waktu dia masih di dalam telur. Pada saat itu aku sadar bahwa dia adalah seekor naga.
Sekilas aku menatap jam dinding kamarku yang menunjukkan pukul 11 malam. Aku ingin segera kembali ke tempat tidurku karena takut terlambat bangun esok pagi. Namun, langkahku terhenti saat melihat naga itu perlahan-lahan mengikutiku. Teringat kembali olehku karena naga itu baru menetas, ia pasti lapar. Aku pun keluar dari kamar dengan berjinjit perlahan-lahan, melewati lorong di rumahku menuju dapur untuk mengambilkan sedikit makanan dan minuman yang ada di lemari es untuk naga itu.
Saat aku kembali ke kamar, aku segera memberikan kepadanya makanan dan minuman yang ku ambil di dapur. Naga itu makan dengan lahapnya dan terpikir olehku untuk memberikannya nama. Karena aku tidak tahu apakah dia laki-laki atau perempuan, aku pun memberikan nama yang terlintas di dalam pikiranku saat ini.
Aku pun memanggilnya, "Peter, Peter, lihat aku", namun ia tidak mau melihat ke arahku dan tetap menikmati makanannya. Kemudian aku memanggilnya, "Brow, hei Brow, lihat aku", ia masih tidak melihat ke arahku. Apa karena dia terlalu lapar sehingga dia tidak mau mendengar ku? Atau memang dia tidak suka dengan nama itu? Aku jadi bingung mau memanggilnya apa, tidak mungkin aku memanggilnya naga, karena itu bisa membuat ibu curiga ketika mendengarku memanggil "naga".
Aku masih memikirkan nama yang cocok untuknya sambil berimajinasi. Dan aku memanggilnya, "Jack. Apa kau suka jika aku memanggilmu Jack?", ia masih tidak melihatku. Aku terus mencoba memikirkan nama-nama baru yang bisa membuat ia menoleh ke arahku. "Lary, lihat aku, apa kau suka dengan nama itu?", kemudian ia melihat ke arahku dan berjalan ke tempatku.
Aku pikir ia suka dengan nama itu. Ternyata aku salah, saat aku melihat ke arah piring yang aku berikan padanya, piring itu sudah bersih, tidak ada makanan yang tersisa sedikit pun. Kemudian aku berpikir bahwa ia tidak menyukai nama yang kuberikan barusan. Namun aku salah untuk kedua kalinya.
Saat aku mencoba memanggilnya sekali lagi dengan nama Lary, dia pun melihatku. Lalu aku mengganti dengan memanggilnya Brow, tapi ia malah memperlihatkan mukanya yang mengerikan kepadaku dengan asap yang keluar dari hidungnya dan pergi menjauhiku. Sekali lagi aku mencoba memanggilnya Lary, dan ia pun berbalik arah dan berlari ke arahku.
Aku menggendongnya sambil berkata, "jadi kamu mau dipanggil Lary ya. Mulai saat ini, aku akan memanggilmu Lary dan aku akan merawatmu sampai kamu besar. Aku sayang padamu Lary." Aku bisa melihat wajahnya yang seperti sedang tersenyum melihat ke arahku sambil menjulurkan lidahnya.
Mataku semakin lelah, aku pun kembali ke tempat tidur untuk beristirahat. Tapi, saat mataku hampir tertutup, aku mendengar suara berisik dari bawah tempat tidurku. Aku menyempatkan diriku untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tapi yang ku lihat saat ini adalah naga itu tengah berusaha untuk melompat ke atas tempat tidurku yang cukup tinggi ini. Aku pun tersenyum melihat tingkah lucunya dan membawanya untuk tidur bersamaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
MY BEST FRIEND IS A DRAGON
FantasyNamaku Robert. Aku menemukan sesuatu yang aneh di dalam pasir di depan rumahku. Bentuknya mirip telur. Tapi ini sebuah telur yang sangat besar. Dan ternyata, ayahku juga pernah menemukan telur yang seperti itu waktu dia masih kecil. Saat telur itu m...
