Apakah kalian pernah merasakan seperti apa yang kurasakan? Selalu dibanding-bandingkan dengannya? Selalu menyembunyikan bakatmu hanya untuknya? Selalu merasa asing saat berkumpul dengan keluargamu? Selalu menjadi yang ketiga hanya untuk mereka? Selalu mengalah hanya untuk mereka? Selalu melakukan apapun untuk mereka meskipun hal itu akan melukai perasaan atau fisikmu?
Semua itu kulakukan hanya untuk kedua saudaraku. Terutama saudara kembarku. Aku tak ingin jika kedua saudaraku kurang merasakan kasih sayang orang tua kita. Biarkan aku yang mengalah untuk mereka. Terdengar bodoh memang. Bahkan sangat bodoh.
Oh, biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri. Meskipun itu adalah keputusan yang sangat bodoh sekalipun. Biarkan aku jatuh di lubang kegelapan yang kubuat sendiri karena sudah memilih untuk membuatnya. Biarkan aku semakin jatuh agar mencapai dasar kegelapanku. Mungkin aku akan menunggu hingga seseorang mengangkatku dari lubang itu. Aku akan menunggu entah seberapa lama aku harus menunggu untuk hal itu. Sampai saat itu tiba, aku akan tetap menunggu.
Tak kusangka hal yang aku tunggu-tunggu telah tiba. Yhaa..seseorang yang akan mengangkatku dari lubang kegelapan dan menutup lubang kegelapanku dengan lubang kebahagiaan yang dirinya buat. Dia sedang berada di sisiku sekarang.
Meskipun pada awalnya aku masih ragu dengan mengizinkannya untuk mengangkatku dari lubang itu. Bukan karena wajah atau perawakannya. Jujur saja jika wajahnya melebihi ketampanan dewa yunani yang dapat membuat semua wanita menoleh dua kali hanya untuk melihat dirinya secara jelas. Meskipun ada sedikit kendala pada perawakannya, terutama pada bagian kakinya. Benar..dia tidak bisa berjalan karena suatu kecelakaan yang menimpa dirinya. Jika kalian berpikir kalau aku ragu karena dirinya tidak bisa berjalan, kalian salah besar. Aku ragu karena aku takut. Takut akan dirinya yang akan mengangkatku dari lubang kegelapanku, lalu setelah itu menjatuhkanku kembali ke dasar lubang itu.
Akan tetapi, entah dorongan darimana. Aku menepiskan segala pemikiran burukku tentangnya. Lalu mencoba untuk mengizinkannya dengan mengangkatku dari lubang itu. Ternyata, pilihanku dengan mengizinkannya untuk mengangkatku dari lubang itu tak salah. Meskipun pada awalnya aku seperti menghadapi sebongkah balok es yang ada di Kutub Utara. Lama waktu berjalan, dirinya memberikanku kebahagiaan, sedikit demi sedikit.
Aku bersyukur karena Tuhan telah menurunkan sesosok malaikat untuk membuka lembaran baru di hidupku. Malaikat itu memberikanku kebahagiaan dengan caranya sendiri. Sehingga membuatku jatuh cinta kepada dirinya yang telah memberiku kebahagiaan yang selama ini aku cari-cari. Aku akan berusaha sekuat tenaga agar malaikat itu tak akan pernah pergi dari hidupku. Tak masalah jika dirinya tak membalas cintaku. Aku akan tetap berusaha demi malaikatku, seseorang yang memberi kebahagiaan di hidupku, dan seseorang yang berhasil membuatku jatuh cinta untuk pertama dan terakhir kali. Justin Drew Bieber.
-Jennifer Kathrine Blue McCann
•••
I know guys, if my story it's really absurd. Did I make a mistakes here? Ahh I'm just trying to speak Eng-- uhh no, I mean type English. Because what? I'm not talking here but typing. HAHHAHH..
Retjeh kan gue..
Well, thanks you for reading it guys:)
-Mrs. Bieber
YOU ARE READING
I'm Happy With You Unconditionally
FanfictionAku tak sempurna untukmu! Aku hanya seorang pria yang tak normal. Hari-hariku pun selalu ditemani oleh kursi roda. Tentu saja dengan keadaanku yang seperti ini kau akan merasakan malu yang luar biasa, malu karena kau akan mendorong kursi rodaku sepa...
