“Yoshi, ini Amelia, sekretarisku.”
Yoshi yang semula memunggungi kami berbalik begitu mendengar suara Arambi, bos ku, memperkenalkanku.
Semula, awalnya aku melihat senyuman profesional andalan Yoshi, tapi seiring matanya menangkap wajahku, senyuman itu memudar. Wajahnya penuh kekagetan dengan mata yang membulat. Namun lambat laun, sorotan itu membisiki rindu yang seketika membuat aku merinding.
“Amelia.” Aku menyodori tanganku sopan, berpura-pura tidak mengenali mantan kekasih yang menjaid rekan bisnis pak Arambi.
“Yoshi.” Tangannya menjabat tanganku kemudian meremasnya. Dekapan tangannya hangat, tapi yang aku rasakan bukanlah kerinduan yang sama seperti yang ada pada matanya, tapi kepedihan yang masih tertinggal dan sakit hati yang setitik masih membekas.
“Ehem.” Pak Arambi berdehem memutus jabatan tangan yang dengan sangat sengaja diperlama Yoshi. “Bisa kita mulai rapatnya, Yosh?”
Yoshi tersenyum dan mengangguk.
Dua jam aku duduk menyimak rapat pak Arambi dan Yoshi sambil sesekali mencatat hal-hal yang kiranya penting. Dua jam yang benar-benar hampir membunuhku karena rasa tidak nyaman yang diciptakan Yoshi karena terus menerus melirikku. Ketika rapat itu selesai, Yoshi melangkah ke depanku. Ditariknya telapak tangan kananku kemudian dia meletakan secarik note kecil yang terlipat.
Aku menggigit bibir, tidak tahu harus berbuat apa ketika Yoshi telah beranjak keluar ruangan selain melirik bosku yang ternyata tidak memerhatikan. Kutarik napas lega saat pak Arambi melengang keluar ruangan.
“Kamu sudah siap-siap untuk besok bukan?” tanyanya. Kemudian dia melanjutkan ketika telah kuangguki. “Jangan sampai ada berkas saya yang tertinggal.”
Aku menghela napas mengingat perjalanan ke bali besok untuk proyek pak Arambi dengan Yoshi. Masih belum siap bertemu Yoshi lagi. Sebenarnya tidak akan pernah siap, karena aku tidak pernah ingin bertemu lagi dengannya.
🌟🌟🌟🌟
Esoknya, benar-benar saat yang buruk.
Pak Arambi tidak pernah suka ada staffnya yang terlambat, tapi hari ini aku yang terlambat, sekretarisnya. Coba bayangi semarah apa dia saat ini.
Ketika sampai bandara dengan napas yang ngos-ngosan karena lari-larian seperti orang gila, pak Arambi langsung memelototiku dengan garangnya.
“Kamu siapa?” tanyanya.
Aku mendengus pelan. Dalam hati mencibir sikap pemarahnya yang akhir-akhir ini sudah jarang tampil. Tapi hari ini dia kembali menajdi bos Arambi yang pemarah dan tukan melotot.
“Amelia Nuraeni, pak.” Jawabku menunduk. Menghitung ada berapa lantai di bandara.
“Iya, siapa?” nada sarkasnya semakin membuatku merinding.
“Sekretaris bapak.”
“Oh, sekretaris saya?” takut-takut, aku mendongak. Niatnya ingin melihat matanya, tapi tidak berani, jadilah aku menatapi hidung mancungnya. “Saya sangka kamu bos saya, makanya nyuruh saya nungguin kamu disini.”
“Maaf pak, tadi itu—“
Pak Arambi menjauh pergi menghampiri anggota tim sebelum aku sempat mengutarakan penjelasan. Sial.
Bahkan ketika kami sampai di bali pun, pak Arambi yang biasanya bertanya ini-itu bahkan bisa beberapa kali bertanya pertanyaan yang sama, kali ini menoleh padaku pun tidak. Membuatku bertanya-tanya, apakah kesalahanku begitu buruk ketika aku hanya terlambat delapan menit dari waktu yang dia tentukan?
