Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

ONE

425 36 2
                                        


Irene tidak terlalu menyukai musim panas. Musim panas memaksanya untuk berkeringat lebih banyak dibandingkan dengan hari-hari di musim lainnya. Kegiatan sehari-harinya yang memang membuatnya mudah berkeringat juga tidak membantu sama sekali. Saat musim panas, Irene akan mengganti pakaian hingga lima kali sehari. Itu berakibat pada stok pakaiannya yang mudah habis dan ia harus mencuci dan menyetrika pakaian lebih banyak lagi. Intinya, musim panas membuat Irene menjadi lebih mudah lelah karena pekerjaannya menjadi lebih banyak dari biasanya.

Ritual itu belum dimulai saat ini. Meskipun saat ini sudah memasuki musim panas, tapi suhu udara belum mencapai titik panas yang ekstrem. Wajar saja, karena saat ini masih berada di minggu ketiga musim panas. Alih-alih panas, hujan lebih sering turun belakangan ini dan tidak ada terik panas sama sekali. Jangma―hujan saat musim panas―biasanya berlangsung hingga akhir bulan Juli, jadi Irene senantiasa membawa payung di dalam tas slempangnya.

Irene menghela napas melihat awan mendung yang nampak di balik jendela ruang kelas tempatnya berada saat ini. Suasana hatinya sedang tidak baik, mendung seperti awan di luar sana. Harusnya ia bisa bersantai di kamarnya dan bergelung di balik selimut, seperti yang telah ia rencanakan kemarin sebelum matanya terlelap. Tapi nyatanya kini ia harus terjebak di sini, di salah satu ruang kelas milik Fakultas Seni Musik, untuk mengikuti rapat kepanitiaan Dies Natalis kampusnya.

Irene melirik sinis pada Seulgi yang sedang tertawa―bersama entah siapa namanya―di sebelahnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Seulgi mendaftarkannya secara diam-diam dalam kepanitiaan ini dan akhirnya ia terpilih menjadi anggota seksi acara. Irene tidak tahu sama sekali kelakuan sahabatnya itu dan tiba-tiba saja tadi pagi ia menerima pesan singkat dari nomor asing yang memberitahunya bahwa akan ada rapat perdana kepanitiaan Dies Natalis universitas mereka sore ini. Ia terkejut, tapi lalu ia mengabaikan pesan itu begitu saja karena ia merasa tidak pernah mendaftar dalam kepanitiaan tersebut. Namun Seulgi mengajaknya ke gedung Fakultas Seni Drama saat kuliah mereka berakhir untuk mengikuti rapat dan akhirnya Irene tahu bahwa tersangka di balik ini semua adalah Kang Seulgi.

Bukannya Irene benci untuk terlibat dalam kegiatan seperti ini. Ia salah satu mahasiswi yang cukup aktif dalam mengikuti kegiatan kemahasiswaan seperti kepanitiaan. Hanya saja ia sadar, belakangan ini ia kehilangan me time karena terlalu sibuk. Ia baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai salah satu panitia di sebuah kegiatan di Fakultas Seni Tari minggu lalu. Ia juga tengah giat-giatnya berlatih tari agar bisa lolos seleksi dan tampil di pentas musim dingin tahun ini. Belum pula kesibukannya di senat fakultasnya.

Alasan lainnya adalah ia tidak nyaman untuk terlibat dalam kepanitiaan skala besar seperti ini. Biasanya ia hanya mengikuti kegiatan kepanitiaan di ruang lingkup fakultasnya saja, yang artinya ia hanya bekerja sama dengan mahasiswa di Fakultas Seni Tari saja. Namun kali ini ia harus bekerja sama dengan mahasiswa dari fakultas lainnya, yaitu Fakultas Seni Musik, Fakultas Seni Drama, Fakultas Seni Visual, dan Fakultas Seni Tradisional. Bagi orang-orang yang suka bersosialisasi, hal ini tentu dimanfaatkan untuk mencari kenalan sebanyak-banyaknya. Namun bagi orang yang tidak terlalu suka bergaul dan tidak banyak bicara seperti Irene tentu membuatnya merasa sedikit tidak nyaman.

Pertemanan Irene terbatas pada orang-orang di fakultasnya saja. Ia memang anggota senat, tapi bukan berarti pergaulannya luas. Ia akrab dengan orang-orang di senat, ia mengenal cukup banyak mahasiswa jurusan pertunjukkan tari yang merupakan jurusannya, beberapa mahasiswa jurusan teori tari, dan beberapa mahasiswa jurusan koreografi. Ia juga tahu beberapa mahasiswa di fakultas lain yang memang terlalu eksis dan teman-teman sekelompoknya saat orientasi mahasiswa setahun lalu. Hanya sekedar tahu, tidak sampai berkomunikasi.

Dan kini ia berada di satu ruangan yang isinya kebanyakan terlihat asing di matanya. Ia tahu ketua panitia yang tengah berdiskusi dengan panitia intinya yang sedang duduk di depan papan tulis menghadap ke arah panitia-panitia lainnya. Namanya Kim Junmyeon, mahasiswa tingkat tiga Jurusan Akting Fakultas Seni Drama. Laki-laki itu sangat eksis karena terkenal sangat tegas dan berwibawa. Irene juga tahu gadis yang duduk di sisi Junmyeon. Senior cantik yang satu jurusan dengannya dan sangat ahli soal surat menyurat, bernama Im Yoona.

CrosswalkStories to obsess over. Discover now