Chapter 1

91 13 7
                                        

"Good Morning Kak Axel!" teriakku girang sambil berlari ke parkiran yang tak jauh dari gerbang sekolah ketika melihat lelaki tampan pujaan hatiku yang baru datang memasuki sekolah dengan menggunakan motor sport hitamnya.

Setiap pagi aku selalu menunggunya sambil duduk di pos satpam sekolah di samping gerbang, dan tentu masih lengkap dengan tas sekolahku. Aku tak pernah ke kelas sebelum melihatnya dahulu, setiap hari.

Setelah memarkirkan motornnya dan melepas segala atribut yang tak dibutuhkan untuk proses belajar disekolah (baca: helm, jaket, sarung tangan dan masker), Kak Axel langsung berjalan cepat meninggalkanku yang sudah sejak tadi berdiri di samping motornya, yang menunggunya untuk sekedar berjalan beriringan di koridor sekolah.

Ah dicuekin lagi. Tapi tampang cueknya menggemaskan! Makin cinta deh.

Aku berlari kecil menyusulnya dan melakukan aktivitas pagiku seperti biasa, berjalan beriringan dengannya. Ketika sudah disampingnya, aku berjalan tidak santai, kenapa? Karena langkah kakinya begitu lebar, sehingga membuatku harus berjalan agak cepat agar langkah kami sejajar.

Aku meliriknya. Kak Axel masih tetap tampan, tentu dengan muka dingin dan cueknya itu, mengabaikanku. Dari jaman kapan-kapannya dulu, Kak Axel tak pernah menganggapku, miris.

"Kakak telat 6 menit lho dari jam kakak biasa sampe sekolah. Kenapa kak? Telat bangun? Atau kelamaan sarapan? Atau baju belom disetrika? Atau..." aku melirik rambutnya sekilas,

"Ahh kelamaan keramas ya kak?"

Tak ada balasan, dan ekspresi mukanya tetap sama. Batu es emang ni orang, tapi aku suka.

Kami masih berjalan di koridor kelas XI. Tak sedikit pasang mata yang dengan jelas memandangi kami. Tapi ku acuhkan. Dan aku kembali membuka percakapan dengan cowok idamanku satu ini.

"Eh akhirnya ya kak, Line aku kakak read juga setelah sebelas hari dikacangin. Makin lama aja kakak ngereadnya, biasanya kan paling semingguan kak." ujarku sedih.

Dia tetap bungkam.

"Yahh, udah sampe kelas kakak. Semangat ya kak, semoga ujian Fisikanya sukses!" kataku ketika tiba di pintu kelasnya.

Kak Axel langsung masuk ke kelas tanpa melirikku sama sekali. Menyedihkan.

Aku melemparkan senyumku kepada kakak-kakak kelas XII teman sekelasnya kak Axel yang tak sengaja bertatapan denganku. Mereka sudah sangat mengenalku, salah satu fans sejati Kak Axel yang selalu frontal mengejarnya.

Aku melanjutkan langkahku menelusuri koridor dan berbelok kemudian menaiki tangga ke lantai dua di mana kelasku berada.

Kelasku hening. Bukan karena ada guru atau apapun itu, tapi teman-teman kelas ku sedang mengheningkan cipta, menyalin kompak tugas biologi kami.

Aku berjalan santai menuju kursiku. Sudah ada Ana rupanya. Ananda Gisella, sahabatku dari kelas 1 SMP, dan kami selalu sebangku sejak itu.

"Kapan sih Na ngerjain tugas tuh di rumah? Ga pernah berubah tuh kelakuan huuuu" cibir ku ke Ana yang masih serius menyalin tugas.

"Anjir lo Mel. Emangnya kelakuan lo pernah berubah? Ngerjain tugas di rumah bukan karena rajin tapi karena faktor ga mau nyalin di sekolah biar bisa tiap pagi jalan di koridor bareng pangeran batu es lo itu" balas Ana panjang lebar tapi fokus masih ke buku tugasnya.

"Aduh ngena banget" kataku sambil memegang jantungku dengan muka sakit hati yang dibuat-buat.

"Lebay"

"Biarin huuu. Lima menit lagi bel Na, semangat sist" bisikku mengejek ditelinga Ana.

"BERISIK AMELIA!" teriaknya geram dan ku balas dengan tawaku.

RasakuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang