Antara Rosario dan Arah Kiblat

172 3 0
                                        


Hujan yang membasahi Jakarta pagi ini tidak menghentikan langkah Gina menyusuri deretan kafe di daerah kota tua. Bukan tanpa alasan ia datang kesini. Dua hari lalu ditengah kesibukan jam kerjanya, sebuah pemberitahuan email muncul di layar komputernya, dan semenjak hari itu, hari-hari nya dipenuhi memori masa lalu.

"Selamat datang, untuk berapa orang?" seorang perempuan membukakan pintu untuk Gina sambil tersenyum.

"Dua" Jawabnya singkat.

"Mau di sofa?"

"Boleh" Gina membuka mantel hujan tebalnya dan menggantungnya di standhanger yang disediakan. Ini pertamakali nya Gina mengunjungi kafe ini, dia ingat terakhir kali mengunjungi kota tua, cafe ini masih berbentuk bangunan tua tak terurus.

"mau pesan apa?"

"Double Espresso ya mbak, tanpa gula dan krim"

"Ditunggu sebentar ya"

Gina mengangguk pelan dan tersenyum. Ia kemudian teringat belum memberi kabar pada sahabatnya, Zulfa. Ia terngiang perkataan Zulfa tadi pagi saat mereka berbincang di telfon. 'Pokoknya kalo ada apa-apa lo harus telfon gue, gue siap dateng' ucap Zulfa dengan nada khawatirnya. Sejak dulu Zulfa yang paling tau tentang dirinya. Semua kisah hidupnya, termasuk kisah cintanya dulu dengan orang yang akan ia temui hari ini.

Sembari mengetik pesan untuk sahabatnya itu, Gina tak hentinya melirik kearah luar jendela. Jaga-jaga jika orang yang sedang ditunggunya datang. Jujur Gina tidak siap, sangat tidak siap. Sudah berbulan-bulan Gina menghindari lelaki ini, menghapus kontaknya, tidak pernah mau bertemu dengannya lagi. Jika saja lelaki ini tidak memohon dengan sangat untuk bertemu, Gina pasti tidak akan datang.

Jam menunjukan pukul 10 lewat 20 menit, 7 menit sejak kedatangan Gina di Kafe ini. Dan lelaki itu belum juga tiba. Double Espresso yang dipesannya sudah datang, lalu dengan perlahan ia menyeruputnya. Gina tersenyum kecil saat cairan hangat masuk ke tenggorokannya, membuat gugupnya sedikit menghilang.

Pandangan Gina teralihkan saat lelaki itu muncul dibalik pintu kaca. Ia memakai kemeja kotak-kotak berlengan panjang berwarna merah. Tidak ada yang berubah dari dirinya, hanya potongan rambut barunya yang membuatnya terlihat semakin dewasa. Sambil membenarkan kacamata, lelaki itu menghampiri perempuan yang tadi mengantarkan Double Espresso padanya. Gina tau bahwa lelaki itu pasti menanyakan keberadaan dirinya. Dengan terbata Gina membuka mulut dan memanggil lelaki itu.

"Aji" ucap Gina singkat. Hatinya terenyuh merasakan rindu saat pertamakali menyebut nama Aji setelah berbulan-bulan lamanya.

Lelaki yang ia ucap namanya menoleh, mereka bertemu pandang.

"Hai Gin" dengan senyum lebar yang dulu membuat Gina jatuh cinta, Aji berjalan menghampirinya.

"Udah lama?" ujar Aji lagi, kali ini dia melingkarkan tangannya memeluk Gina.

Gina memenjamkan mata beberapa detik, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ia rindu dekapan Aji.

"Belum kok, minuman gue aja baru dateng" ucap Gina. Ia sangat menjaga agar suaranya terkesan santai.

"Double Espresso, seperti biasa" celetuk Aji saat melihat cangkir kopi putih dihadapan Gina.

Gina tersenyum, Aji masih ingat rupanya. "Mau pesan apa?" ucapnya

"Bentar ya, gue ke toilet sekalian pesan minum" Aji berdiri dari duduknya kemudian berjalan pergi.

Gina memegang dadanya yang mulai sesak, ia tau bahwa ini akan terjadi jika ia bertemu lagi dengan Aji. Gina memejamkan matanya mencoba untuk tenang. Ia tidak mau terlihat lemah. Keputusannya untuk berpisah dengan Aji 6 bulan yang lalu sudah mantap, dan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa hari ini ia akan menganggap Aji selayaknya teman.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 20, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Short Love StoryWhere stories live. Discover now