1. Te quiero

52 4 2
                                        


"Te quiero."

Kemudian sosok itu menghilang di balik kabut.

***

"ELEANOR ANDERSON!" pekik seorang wanita berkacamata tebal di meja guru.

"Uh, oh, hadir!" aku tersentak dari lamunanku, atau lebih tepatnya tidur siang kilatku.

"Ceritakan ulang tentang kekalahan Napoleon di Waterloo!"

Sial, pikirku. Aku dari tadi tertidur di kelas dan sama sekali tidak bisa menceritakan kekalahan Napoleon itu! Mendadak seisi kelas menjadi seperti toples kunang-kunang yang berkelip-kelip.

"Errghh, Maam, saya..."

GUBRAK!

Aku terbangun di ruang unit kesehatan sekolah. Di sana berdiri Lea dan Cara, kedua sahabat sekelasku.

"Akhirnya si bego ini sadar juga," tukas Cara sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

"Apanya yang dimaksud si bego hah?" kataku ngotot.

"Menceritakan kekalahan Napoleon saja tidak bisa," ejek Cara. "Kau ini kan hapalnya hanya kekalahan para lawan John Cena."

"Tentu saja tidak bisa, aku kan tertidur hampir sepanjang kelas!" aku berusaha berkata lebih judes darinya. "Eeeh apa-apaan kau sebut-sebut John Cena?!"

"Sebenarnya apa yang terjadi? Bukannya kau sangat pandai memahami sejarah?" Tanya Lea lembut.

"Aku mengalami mimpi buruk dua hari terakhir ini. Dan mungkin malam ini aku akan mengalaminya lagi."

***

Dalam perjalanan pulang, aku tidak bisa berhenti memikirkan sosok itu. Dia tidak terlalu tinggi, rambutnya cokelat ikal, dan senyum yang menawan. Sosok itu tidak pernah memunculkan dirinya dengan utuh, tetapi aku yakin, dia pasti sangat tampan.

Lebih tepatnya sebuah monster tampan yang menyerangku terus-menerus, bahkan sampai aku tidak bisa menjawab pertanyaan gampang mengenai kekalahan Napoleon di Waterloo!

Aku harus bertemu dengannya, kemudian menghajarnya sekuat tenaga. Kalau boleh menggigitnya seperti anjing herder. Aku tahu itu tidak mungkin, karena aku belum melihat wajahnya secara utuh. Dia lenyap begitu saja, seperti salju yang menempel di ayunan SD Drayton Park menjelang musim semi.

Te quiero.

Aku tersentak lagi. Aku berani sumpah aku mendengarnya tepat di sampingku!

"Eh, kau ini kenapa sih?" seorang teman sekelasku tampak kebingungan melihat diriku tersentak.

"Hai Patrick, aku tidak apa-apa kok. Kenapa kau tiba-tiba berbisik "te quiero"?" tanyaku bingung.

"Ah, saudara sepupuku akan menikah dengan orang Spanyol, dan kupikir itu sangat manis ketika dia mengatakan te quiero untuk anggota keluarganya di telepon. Sepertinya itu frasa yang cukup indah dan aku suka mengulang-ngulangnya," katanya sambil sedikit merapikan rambut keriting anehnya itu. Kalau saja dia gondrong, dia bakal mirip dengan Medusa, hanya saja itu rambut bukan ular-ular kecil.

"Oh, begitu." Kurasakan pipiku memerah dan memanas. Aku tidak mau Patrick melihat sisiku yang freaky ini!

"Ada apa dengan te quiero? Kau ingin aku mengatakannya padamu?" mata biru laut Maldives-nya berkilat-kilat. Dia selalu tahu bagaimana cara memainkan perasaanku, seperti Jerry C mengaransemen lagu Canon-nya Pachelbel menjadi lagu rock bertempo cepat. Kadang dia membuatku terharu, marah, bahkan menerorku dengan kata-kata sederhana dan mata berkilat-kilatnya.

Paint The Town With Our HarmonyWhere stories live. Discover now