MARSHA
Suasana ruang makan pagi itu tampak sepi hanya angin lembut melambai-lambaikan horden putih, juga tampak mbak Lastri yang sedang menyiapkan sarapan, suara kicauan burung terdengar sayup-sayup mengisi kekosongan . Lina ibu rumah tangga dirumah ini baru saja pulang dari jogging pagi bersama ibu-ibu kompleks dan Yudit kepala rumah tangga itu masih saja berkutat dengan korannya saat Marsha putri satu-satunya di keluarga ini turun dari lantai dua rumah.
"pagi pa"
"pagi sayang" pak Yudit hanya menurunkan sekilas korannya untuk membalas sapaan putrinya itu
"kamu nonton drama korea lagi sampai subuh ? Lihat tuh matamu, seperti panda" todong Mama tiba-tiba ,aku hanya tersenyum menangapi ucapan Mama itu .
"sepuluh hari lagi kamu udah mau nikah loh Sha, kamu harusnya istirahat"
"iya ma, Marsha ingat kok" jawabku malas masih sambil mengoles selain cokelat pada roti panggangku.
"selamat pagi Om, Tante" suara berat cowok itu membuat aku dan mama berahli padanya , yah siapa lagi kalau bukan Billy, aku menatap sosok Billy yang masih berdiri dimuka pintu rumah , cowok itu tampak sangat tampan dengan kaos berkera berwarna putih celana jeans biru tua dan sepatu santai berwarna cokelat tua.
"hey" Billy mengelus kepalaku lembut sebelum duduk dikursi sampingku
"Bill, kamu sudah makan belum ? " tanya mama kali ini
"kebetulan belum nih Tan "
"yaudah makan dulu, papa juga" bu Lina menggambil koran dari pak Yudit dan menjauhkannya dari pria itu
"lah kapan datang Bil? "
"udah dari tadi kali pa" jawab bu Lina ketus. Melihat itu aku dan Billy hanya tertawa ringan.
Billy Stefanus Starvis , pengusaha muda dibidang properti , kulit putih bersih, berwajah indo campuran dari mama nya yang asli Bandung dan Daddy nya yang tulen bule Jerman. Membuat Billy sempurna dengan proporsi tubuh tinggi nan tegap, belum cukup semua itu, ia adalah cowok paling sabar yang mungkin pernah diciptakan oleh Tuhan.
"hari ini kalian ngambil undangan kan?"
"iya ma" aku menjawab pelan pertanyaan yang lagi-lagi tentang persiapan pernikahan.
Aku menatap Billy yang sedang makan sekilas, aku sudah mengenal cowok itu selama dua tahun sebelum akhirnya kami memutuskan menikah, sebenarnya aku dan Billy bertemu karena kencan buta yang diatur oleh orangtua kami, hingga akhirnya kami menjadi sepasang kekasih, menghabiskan waktu selama dua tahun bersama Billy terasa begitu cepat, sampai pada tiga bulan lalu kedua keluarga memaksa untuk kami segera menikah dan seperti biasa, Billy, cowok sabar itu dengan setia mengikuti kemauan orangtuanya dan orangtuaku. Sejujurnya jika harus menunggu lima tahun lagi untuk menikah aku tidak mempermasalahkannya sama sekali.
"loe masih ragu ?" tanya vera setelah mendengar ceritaku tentang billy
"gue bukannya ngeraguin perasaan Billy sama gue ver, tapi gue ragu sama perasaan gue sendiri"
"Sha, sejauh yang gue lihat, loe itu cuman terlalu membangun pagar pembatas antara loe dan Billy, cobalah untuk lebih terbuka sama dia"
"jujur ya Ver, sampai saat ini gue masih belajar untuk bisa sayang sama dia, seperti dia sayang sama gue"
"Sha, pikirin semua baik-baik, ini masalah hidup loe selanjutnya, loe udah tunangan sha"
"gue takut perasaan gue ke Billy hanya perasaan yang muncul hanya karena gue terbiasa Billy ada didekat gue tiap hari, hanya perasaan ketergantungan aja"
"menurut gue nih ya Sha, coba deh loe gak ketemu sama Billy seminggu aja, loe lihat apa hati loe nyariin dia atau enggak, dari situ loe baru ngambil keputusan"
Obrolanku bersama Vera minggu lalu itu sukses membuatku terus kepikiran dan hasilnya semalaman aku tidak bisa tidur bukan karena begadang menonton drama korea seperti yang dituduhkan mama tadi.
Aku meneguk air putihku kembali rasanya tenggorokkanku begitu kering dan setelah menarik nafas aku mencoba untuk membicarakan keputusan yang aku ambil dengan pemikiran matang semalaman.
"ma, pa, bill" aku bisa mendengar sendiri suaraku serak ditenggorokan.
"aku mau ngomong serius" aku bisa merasakan Bily menegang disampingku, mungkin dia tau ini adalah berita buruk.
"ngomong apa sha?"
"Marsha, mau ke Bali seminggu ini ,Marsha mau sendiri dulu"
"kamu jangan aneh-aneh dong Sha, persiapan kamu dan Billy kan belum sepenuhnya selesai"
"Tapi pa, Marsha be.." belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Papa sudah memotongnya.
"papa tetap tidak setuju, kita gak tau apa yang akan terjadi seminggu kedepan , mungkin saja kamu bisa celaka disana, atau tiba-tiba kamu berubah pikiran, papa tidak ingin mengambil resiko apapun"
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, diam-diam aku mengintip pada Billy yang kali ini tampak sudah tenang. Lalu cowok itu terbatuk sehingga tatapan Papa terahli padanya.
"Om, kalau memang Marsha ingin sendiri dulu, billy benar-benar tidak mempermasalahkannya. Urusan pernikahan sudah 90% selesai hanya tinggal merapikan sana -sini saja. Gaun pengantin dan cincin pun Marsha sudah mencobanya, jadi jika Marsha mau ke Bali selama seminggu ,ini tidak akan menjadi masalah"
aku hanya bisa melongo mendengar ucapan Billy , bahkan cowok ini sama sekali tidak berpikir negatif tentangku , boleh taruhan jika hal ini terjadi pada cowok lain meraka akan berpikir jika sebenarnya aku ingin kabur ke Bali dan lari dari pernikahan .
"Bill, aku.."
"Gak pa-pa sha" dia tersenyum dengan tatapan penuh dengan rasa pengertian, sampai rasanya aku ingin menangis mengigat tujuanku pergi ke Bali untuk memikirkan kembali tentang perasaanku padanya selama ini yang artinya bisa saja aku membatalkan pernikahan setelah itu.
Dan entah karena papa yang sangat percaya kepada Billy atau alasan lain yang aku tidak tahu, Papa mengizinkanku berangkat ke Bali sendirian tanpa Billy tanpa Vera.
YOU ARE READING
My Heart Chose You
RomanceSeminggu menjelang pernikahannya Marsha memilih untuk pergi ke Bali dan memikirkan kembali perasaanya kepada tunangannya, Billy ,tetapi semua menjadi semakin rumit ketika di Bali Marsha bertemu kembali dengan pria dari masa lalunya, pria yang selalu...
