#1

48 1 0
                                        

"Jadi bagaimana hubunganmu dengan Rex?" tanya lelaki yang duduk di depannya.

"Ayolah kau jangan berpura-pura tidak tahu," jawab Phoebe setelah meminum hot chocolate yang dipesannya tadi.

"Hahaha...ceritakan saja!"

Duke tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.
Dia hanya tahu bahwa hubungan kedua temannya itu, Phoebe dan Rex sudah berakhir tapi dia tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya.

Phoebe memaksakan sebuah senyum dengan mata yang berkaca-kaca.

"Mungkin kami memang sudah tidak cocok lagi," suaranya terdengar melemah.

Duke mengerutkan keningnya. "Sesederhana itukah? Bee, aku di sini untuk mendengarkan semua curahan hatimu, aku tahu kau pasti sangat membutuhkan teman bicara disaat seperti ini."

Akhirnya Phoebe menceritakan apa yang menjadi permasalahan mereka ㅡmeskipun tidak semuanya. Dia merasa ada beberapa hal yang belum saatnya untuk diceritakan.

"Apa kau masih memiliki perasaan pada Rex?"

"Aku masih mencintainya, sampai saat ini perasaanku padanya masih sama."

Air mata mulai menetes di pipinya. Dadanya terasa sesak.

Duke mencoba menenangkan Phoebe.
"Menurutku Rex juga masih mencintaimu. Aku bisa melihat itu dari sikapnya, saat terakhir aku bertemu dengannya dan dia mengatakan padaku tentang hubungan kalian yang sudah berakhir", ucap Duke meyakinkan.

Jauh dalam hatinya Phoebe merasa senang mendengar hal itu, tapi bayangan tentang kejadian pahit yang sering dia alami membuat hatinya kembali sedih.

Hening.

"Kembalilah dengannya, Bee." Tiba-tiba Duke memberikan saran.

Phoebe hanya menatap temannya itu dengan tatapan penuh kepedihan.

Waktu menunjukkan setengah 8 malam, hampir 2 jam mereka berada di cafe itu. Phoebe merasa ingin segera merebahkan dirinya di tempat tidur dan mengeluarkan seluruh air matanya yang sudah dia tahan sejak tadi, walaupun ada bulir-bulir air mata yang sempat lolos jatuh ke pipinya.

"Aku ingin pulang sekarang."

"Baiklah, aku akan mengantarmu."

Duke mengerti bagaimana keadaan Phoebe saat ini.

Mereka keluar dari cafe menuju ke tempat parkir di mana mobil Duke berada dan langsung memasukinya. Selama perjalanan tak ada yang mengeluarkan suara. Phoebe larut dalam pikirannya sendiri dan Duke fokus menatap jalanan.

☆☆☆

Entah sudah berapa lama Phoebe menangis, bantalnya pun bahkan sudah sangat basah oleh air mata.
Meski sudah 2 bulan hubungannya dengan Rex berakhir, tapi dia masih saja begitu sedih apabila mengingat semua tentangnya. Dia memang harus bertarung melawan dirinya sendiri saat mengambil keputusan mengakhiri hubungan dengan kekasihnya itu. Matanya perlahan terasa berat, lelah dan mengantuk. Dengan kondisi mata yang bengkak karena menangis dia pun tertidur.

Sementara di tempat lain.

Duke duduk di balkon kamarnya. Apakah aku harus senang atau ikut bersedih melihat mereka berpisah? Batinnya. Aku tidak bisa melihatnya bersedih seperti itu, aku hanya ingin melihat dia selalu tersenyum. Menjadi wanita yang penuh keceriaan seperti saat pertama aku mengenalnya. Setelah setahun lebih aku tak bertemu dengannya, akhirnya hari ini aku bisa melihat wajahnya lagi.

Rasa itu masih ada.

Drrttt...Drrttt...

"Halo sayang," ucap Duke setelah menerima panggilan masuk di ponselnya.

"Halo sayang, kamu di mana?" tanya suara di seberang sana.

"Aku di rumah."

"Hmm, Aku merindukanmu."

"Aku juga. Kamu jaga diri baik-baik ya di sana."

"Iya, kamu juga. Anyway, sayang aku mandi dulu ya. Love you."

"Love you too. Bye!"

Duke mematikan sambungan telepon dari kekasihnya, Hilary.
Mereka sudah menjalin hubungan selama 2 tahun. Sekarang Hilary berada di Perancis, mengurus perusahaan keluarga yang ada di sana. Sepertinya mereka tidak akan bertemu dalam jangka waktu yang lama.

Maafkan Choco, ini tulisan pertama Choco jadi agak gak jelas gimana gituuuu😁😁

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 11, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Sweetest SinWhere stories live. Discover now