Prolog

27.7K 1.1K 45
                                        


Seorang wanita cantik tengah memandangi sebuah kartu undangan berwarna merah muda. Undangan itu adalah undangan dari mantan kekasihnya yang kedelapan. Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu terus mendengus kesal, melihat undangan atas nama dirinya. Dia cantik, sexy, tapi kenapa tidak ada seorang pria yang melamar, pikirnya. Sebenarnya dia memiliki seorang kekasih, namun setiap kali meminta untuk menikah, kekasihnya selalu mempunyai alasan tersendiri untuk menolak.

"Ya Tuhan kapan aku menikah?" Wanita itu mengacak-acak rambut karena frustasi.

"Kenapa sikapmu seperti orang gila, Retta?" Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu. Wanita itu cantik seperti Retta, wajah dan mata wanita itu hampir mirip. Hanya saja rambutnya sedikit memutih dan ada kerutan tipis di sekitar matanya.

"Ya. Aku gila karena aku tak kunjung menikah."

"Siapa yang menyuruhmu tidak segera menikah? Ajak calon suamimu ke sini, dan kenalkan pada Papa dan Mama."

"Entahlah Mama aku juga tidak tahu." Raut wajah wanita  muda itu berubah muram mengingat sang kekasih yang tak kunjung melamarnya.

"Kau tidak ingin namamu tersemat di sebuah undangan? Henrietta Nathanaella menikah dengan...," Wanita paruh baya itu tidak melanjutkan kata-katanya karena lupa siapa nama kekasih putri kesayangannya.

"Kevin Gavriel, Mama."

"Iya, itu. Tapi jujur saja Mama tidak menyukainya, karena banyak kabar yang mengatakan jika dia adalah seorang playboy." Retta mengembuskan napas panjang mendengar penuturan mamanya.

"Itu hanya kabar burung, jangan didengarkan."

"Terserah dirimu, Mama hanya sekadar mengingatkan." Wanita paruh baya itu mengedikkan bahu.

"Apa sarapanya sudah matang?" tanya Retta bersemangat.

"Turunlah, papamu sedang menunggu."

Mama Retta beranjak dari kamar putrinya, sedang Retta masih betah menatap undangan itu. Akhirnya dia melempar undangan itu karena merasa muak dan juga kesal.

***

Di tempat lain seorang lelaki tampan dengan tatapan mata tajam tengah menyesap kopi, sambil melihat ke arah bangunan-bangunan pencakar langit dari arah jendela kantornya. Sesekali dia menyeringai, entah apa yang membuat lelaki itu bersikap sedemikian rupa.

Tak selang beberapa lama terdengar suara deringan ponsel dari mejanya, dia segera mengambil dan menggeser tombol yang berwarna hijau.

"Apa kau sudah melakukan tugasmu?" tanyanya dengan nada tajam.

"Sudah, Tuan Alexander." Terdengar suara dari seberang telepon.

"Pastikan dia baik-baik saja dan jangan biarkan lelaki mana pun mendekatinya?" Setelah mengucapkan hal itu, lelaki yang dipanggil Alexander itu menutup sambungannya.

"Karena kau hanya miliku seorang, Henrietta Nathanaella. Hanya milik Alexander Raffael." Senyum miring kembali terukir di wajah lelaki itu, senyum yang begitu mengerikan bagi orang yang melihatnya.

My Beloved Brondong(Completed)Stories to obsess over. Discover now