We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

ONESHOT

697 27 18
                                        


"Huruf bercetak 'italic' adalah bayangan (flashback) tokoh wanita dalam cerita."

***

Author P.O.V

Semilir wangi angin khas musim gugur sedari tadi nampak tiada bosan menyibak hamparan daun maple yang menggunung di jalanan. Menerbangkannya perlahan hingga seluruhnya menjadi buyar sesaat kemudian.

Suara kicauan burung-burung terdengar begitu riuh diatas sana, seakan sedang menaruh segala puja terhadap keindahan semesta. Namun, matahari yang bersinar begitu terang nyatanya tak mampu mengikis udara yang kian mendingin ini.

Wangi semerbak bau tanah yang tersiram hujan mengudara begitu saja, menghinggapi cuping hidung seorang wanita cantik berdress biru tosca selutut dan sweater hitam yang terlihat begitu mencolok diantara pemandangan kalem musim gugur.

Mata coklatnya membelalak. Terkesan 'seperti' tengah mengabsen setiap sudut pemandangan indah ini dari sebuah bangku taman cokelat tempatnya duduk.

Musim gugur.. Rasanya semua orang pastilah setuju untuk mengkategorikan musim ini sebagai salah satu musim paling indah di dunia. Ditambah jutaan lembar daun maple kuning kecoklatan yang tersebar di sepanjang jalan semakin terlihat begitu mempesona. Termasuk wanita berparas cantik yang kian lama justru semakin menenggelamkan diri dalam jerat pesona guguran-guguran daun.

Kenangan... musim gugur... Ia tak akan pernah lupa bagaimana istimewanya musim ini karena selalu hadir dengan sejuta harapan bagi wanita itu.

Musim gugur.. Alangkah baiknya jika aktivitas alam ini tak datang lagi..

Soyeon P.O.V

Dapat kurasakan helai-helai surai hitam yang sengaja kugerai menari-nari bebas diatas kepalaku terbawa semilir angin ciptaan musim gugur.

Dingin... Aku benci udara yang membuatku mau tak mau harus mengeratkan sweater hitam ini pada lekuk tubuhku.

Bau hujan... sungguh pastilah kalau musim gugur telah mencapai puncaknya, dan aku pun sebenarnya tak terlalu suka dengan hujan, mereka selalu membuatku menggigil.

Sehelai dua helai daun maple yang berjatuhan bebas dari atas sana sesekali terasa menabrak pangkal rambutku. Dan, aku tak suka.. Karena mereka seringkali meninggalkan jejak kotor yang memaksaku mau tak mau harus segera mencuci rambutku setelah ini.

Dapat kudengar nyanyian merdu burung yang sedari tadi mengalun di angkasa sana. Sayangnya, aku tak suka kehadiran suara itu. Berisik. Tidak bisakah mereka diam sebentar saja? Aku benci.

Lantas kalau aku benci dingin, aku muak terhadap kicau burung, aku tak suka pada hujan, tak rela bercengkrama dengan guguran daun, kenapa aku ada di sini? Kenapa aku berdiam diri di tengah musim gugur yang sama sekali tak ku sukai kedatangannya?

Tentu karena...

"Soyeon~ah..." panggil seseorang yang sepertinya mulai mendekat ke arahku. Suara ini.. aku mengenalnya, tentu. Suara tegas ini sudah terlalu sering hilir mudik menyinggahi lubang pendengaranku hampir bertahun-tahun lamanya. Jadi, mana mungkin aku melupakannya?

"Kau baik-baik saja?" dan aku tak tahu persis apa maksud dari pertanyaan nya itu. Terkesan teramat ambigu, antara menghawatirkan tubuhku yang nyatanya hampir beku kedinginan di naungan musim gugur ini atau bahkan ia malah tengah mengibai.. hatiku?

I Miss U [Korean Story]Stories to obsess over. Discover now