part 1

20 1 0
                                        

Seperti malam ini aku menatap bintang di langit. Aku merasakan ketenangan setiap melihat bintang.
"Andai aku bisa menggapai bintang," ucapku lirih.
Aku melihat ada bintang jatuh. Kata orang kalau kita meminta permohonan maka akan terkabul. Kupejamkan mataku dan berdo.a dalam hati.
"Andai kamu menjadi takdirku kelak, aku bersedia menjadi akhir dari
penantianmu."
Seberkas cahaya langit itu menghilang dari pandangan. Mata bulatku masih
memandangi langit yang bertabur banyak bintang. Aku mengulum senyum
kedamaian, kini, hatiku telah terpenuhi dengan wajah dan senyummu. Aku
ingin melihatmu tersenyum.
"Bintang di atas sana nggak akan sanggup menggantikan cerah wajahmu,
Indah," katamu yang tiba-tiba ada di sampingku. Aku terhenyak, lalu
mencoba tersenyum ke arahmu. Meskipun hatiku kini telah berlomba-lomba
keluar dari sarangnya.
"Yusha? Kamu ngapain di sini? Bukannya kamu masih di Jakarta?" tanyaku
bingung.
Kamu mengulum senyum, lalu memegang tanganku, "Aku merindukanmu."
Yaallah! Hatiku seperti tertimbun hujan salju. Dingin dan menyejukkan.
Aku menikmati malam ini bersamanya.
Terima kasih tuhan mengabulkan do'aku.
***
Aku mengerjapkan mataku. Di mana aku? Aku memakai tempat tidur berbentuk
bintang. Tiba-tiba datang seorang wanita cantik mempunyai sayap
bintang, baju berbentuk bintang, anting bintang.
"Siapa kamu?" tanyaku bingung.
"Selamat datang di negri bintang, (namakamu)," ucapnya sambil tersenyum dan
menghampiriku duduk di sampingku.
"Sebaiknya kamu tidur lagi, ntar malam kamu akan bertugas."
"Tugas?" tanyaku bingung.
"Sekarang kamu adalah gadis bintang yang mempunyai tugas setiap malam
menghiasi malam hari, Nam."
Apa? Aku gadis bintang. Aku teringat do'aku adalah ingin menjadi bintang
dan sekarang jadi kenyataan. Apakah aku tidak bisa bertemu dengan Harris
lagi dan keluargaku? Mungkin ini hanya mimpi. Kucubit tanganku sakit.
Wanita tadi tersenyum melihatku.
"Sebaiknya kamu tidur, Nk."
Sekarang masih pagi tapi tiba-tiba mataku terasa berat.
Putri Carlista, putri paling cantik di negeri Bintang menaburkan benih
bercahaya di tempat tidur NK. Sekejab, seluruh sisi ranjang itu
terlihat berkelip-kelip, begitu juga dengan NK yang tampak bercahaya.
Nk menggeliat karena merasakan ada sesuatu yang aneh dari dirinya.
Sewaktu NK membuka mata, ia hanya bisa mengerjap tak percaya. Sayap?
NK meraba bagian punggungnya, sayap berbentuk bintang berwarna perak
seperti menempel dengan kulitnya. Tak hanya itu, pakaiannya yang semula
hanya t-shirt merah dengan celana jins belel, berubah menjadi gaun merah
muda yang cantik. NK bangkit dari ranjangnya, lalu mematut dirinya
di depan cermin Bacila, cermin paling cerah di negeri Bintang.
"Wah, ini sayap sungguhan? Benarkah?" gumam NK tak percaya.
NK berputar-putar berulangkali, tanpa mengalihkan pandangannya dari
cermin Bacila.
"Tugas pertamamu peri NK adalah menjaga sepasang suami istri di
negeri Shanders. Mereka membutuhkan penjagaanmu. Sekarang, bersiaplah
menunaikannya, Peri NK," kata Putri Carlista dengan lembut.
Nk tersenyum manis, lalu mengangguk. Ia mengerti sekarang apa yang
menjadi tugasnya.
*
"Putri, aku tidak tahu negeri Shanders?" tanyaku.
"Peri NK, di depan sudah ada yang siap mengantarmu."
Kulangkahkan kaki keluar istana ada kereta dengan kuda putih bersayap
yang siap mengantarku. Tapi siapa pemuda ini? Wajahnya mirip Harris J.
Apakah itu Harris? Cintaku. Kulihat dia menghampiriku.
"Silakan masuk, peri NK."
Aku menurut dan masuk ke dalam kereta. Kereta melayang di udara. Aku
menikmati pemandangan indah selama perjalanan.
Negeri Shanders adalah negeri yang dipimpin oleh Raja Shanders. Raja
yang tidak pernah memperhatikan nasib rakyatnya. Banyak rakyatnya yang
mengalami kelaparan yang berlarut-larut.
NK mengamati setiap rumah daun dari atas.
"Hm, sebelumnya boleh aku tahu namau?" tanya NK malu-malu.
Pemuda itu mengangguk pelan, "Namaku Harlis, Peri Dinda."
"HARLIS?" NK mengerjap tak percaya, kebetulan sekali namanya sama
dengan Harris, cintaku.
"Apa negeri Shanders separah itu?"
Harris memasang wajah duka, "Benar. Raja Shanders bukan raja yang baik.
Aku merasa raja sangat tidak adil."
"Apa rumah itu milik sepasang suami istri yang dimaksud Putri Carlista?"
tanya NK sambil menunjuk sebuah rumah daun yang sangat kecil.
Kondisinya tidak layak pakai, banyak lubang di sana-sini.
"Namanya Nyonya Grandiflora dan Tuan Philifsy. Mereka hanya punya
seorang anak laki-laki, namanya Armedio. Anak itu sangat pemalas, tidak
mau membantu orangtuanya menanam pohon Blueberry. Kau pasti bisa menjaga
mereka. Aku harus pergi sekarang. Putri Carlista sudah menungguku."
NK mengepakkan sayapnya, "Baiklah. Terimakasih, Harlis ."
"Sama-sama."
NK dapat terbang seperti burung, tapi sayang sekali ia belum mampu
mengendalikan sayapnya. Beberapa kali, ia hampir membentur pohon
Blueberry.
*
Walau susah payah akhirnya aku sampai juga di depan rumah itu.
Aku mengamati rumah yang terbuat dari daun berwarna perak yang dapat memancarkan cahaya seperti bintang.
'Rumah bintang,' ucapku dalam hati. Seketika aku sadar tujuanku kemari.
"Permisi!" teriakku tapi tidak ada jawaban.
"Permisi!" teriakku lagi berharap ada yang menyahutku.
Beberapa menit seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun.
'Ini pasti Armedio.'
"Kamu pasti peri NK ?"
"Bagaimana kamu tahu namaku?" seingatku, aku tak pernah bertemu dengan siapa pun semenjak aku pertama kali di Negeri Bintang.
"Semua orang juga tahu, setiap malam kamu melihat kami di langit. Dan peristiwa malam kemarin."
Apa? Jadi setiap malam semua yang di sini memerhatikanku sewaktu aku di bumi.
"Ngapain kamu ke sini?" tanyanya ketus membuyarkan lamunanku.
"Hei, dasar anak kecil! Bicara yang sopan pada yang lebih tua." Aku menasehati.
"Orang tuaku nggak ada, sebaiknya kamu pulang lagi," Armedio menutup pintu.
Dasar! Tidak punya sopan santun.
Dari pada aku berdiam diri disini lebih baik aku mencoba mengitari rumah tersebut.
Sampai di belakang rumah aku melihat sepasang suami istri sedang menanam pohon blueberry. Pasti itu orang tuanya anak bandel tadi. Dasar! Orang tuanya bekerja tapi anaknya malah asyik berdiam diri di rumahnya.
Nyonya Grandiflora dan Tuan Philifsy menyapaku dengan ramah. Aku tertegun melihat mereka begitu baik padaku, padahal mereka belum mengenalku sebelumnya.
Aku membalikkan badanku sebentar, mencoba memberi kejutan padanya. Kuucapkan mantra yang sempat diajarkan oleh Putri Carlista.
"Djavudaqila, berubahlah menjadi buah-buah segar."
Cling! Seketika dalam genggaman tanganku, sekeranjang buah segar yang menggiurkan. Kubalikkan badanku dan memberikannya pada mereka.
"Untuk kalian, langsung dari pohon di negeri Bintang." kataku ramah.
Nyonya Grandiflora menerimanya dengan senyum sumringah.
"Kau baik sekali, Peri NK ."
Aku mengangguk malu, lalu diam-diam kurapikan pekerjaan mereka menanam pohon blueberry. Ah, senangnya bisa membantu mereka.
Aku penasaran dengan kehidupan di negeri Shanders ini. Setelah berpamitan sebentar dengan Nyonya Grandiflora dan Tuan Philifsy, aku segera terbang menyusuri rumah-rumah daun. Benar apa kata Harlis , negeri Shanders sangat tidak makmur. Apalagi mengingat rajanya yang tidak bertanggung jawab. Hatiku meradang sakit, menyaksikan keterpurukan negeri Shanders. Maka dengan keberanian yang memuncak, aku menemui Putri Carlista .
"Apa yang harus saya lakukan Putri? Saya tidak tega melihat mereka yang tersiksa. Berikan saya petunjuk!" aku memohon.
Putri Carlista , mencari sesuatu di saku gaun putihnya. Ternyata sekantong biji yang aku sendiri tidak tahu apa namanya.
"Taburkan biji Civira ini di sekeliling rumah mereka. Maka, akan tumbuh pohon yang berbuah lebat. Mereka bisa menjualnya ke negeri Dizastri."
Aku menerimanya dengan senyum mengembang. "Terimakasih, Putri. Saya akan kembali ke negeri Shanders."
"Baiklah."
*
Aku mengepakan sayapku kembali menuju
negeri shanders. Satu-persatu rumah kudatangi dan meminta izin. Rakyat
negeri ramah kepadaku dengan senang hati mengizinkanku. Kutaburkan
biji-biji di halaman belakang setiap rumah agar tidak ketahuan raja
shanders yang suka merampas kekayaan rakyatnya. Walau sekantong kecil
tapi biji tersebut tak pernah habis sampai rumah rakyat terakhir di
negeri shanders.
Aku segera kembali menuju rumah nyonyo grandiflora dan fhilifsy dan tak
lupa juga aku menaburkan biji tersebut di halaman belakang rumahnya.
***
Hari menjelang pagi. Akhirnya tugasku malam ini selesai. Kukepakan
sayapku menuju negeri Bintang. Tiba-tiba badanku tak seimbang dan aku
jatuh di pohon blueberry yang tak jauh dari rumah nyonya Grandiflora.
Mungkin ini efek dari kelelahan. Astaga! aku menggantung di pohon.
Tolong aku, aku takut ketinggian. Tanganku sudah tak kuat lagi terlepas
dari dari dahan. Kupejamkan mataku dan melayang di udara.
Bruk! Aku tak merasakan sakit.
Kubuka mataku. Ya ampun! Aku jatuh di badan Harlis, seketika aku berdiri.
"Maaf, Harlis." Aku menunduk malu. Harlis diam.
"Kamu pasti capek. Aku antarkan pulang." Harlis tak membalas ucapanku
seolah-olah tak terjadi apa-apa sambil menggandeng tanganku. Aku menurut
saja tanpa protes.
Perjalanan pulang kali ini aku duduk di sebelah Harlis .
"Peri NK , apakah kamu merasa senang di sini?" Harlis membuka
percakapan membuatku tersentak dengan pertanyaannya.
"Ya, aku senang sekali. Walau terasa capek tapi aku menikmati tugas yang
di berikan."
Beberapa menit kemudian kami sampi di istana negeri Bintang.
"Sudah sampai peri NK , selamat pagi."
" Harlis , panggil aku NK saja," ucapku tersenyum.
"Baiklah, NK ."
Aku segera menuju kamarku dan tertidur.
***
BERSAMBUNG

Gadis BintangWhere stories live. Discover now