"Gyu, mau ngikut ga lu? Gue sama Deka mau hunting," tanya seorang cowok bule bernama Vernon, menggangu konsentrasi cowok gelap bernama Mingyu.
"Hunting kemana? Kapan?" Sahutnya tidak tertarik sambil terus mengotak ngatik lensa kameranya. Cowok itu memang sedang sibuk membersihkan lensa si Poni, kamera kesayangannya.
"Gatau nih, rencananya sih, tar Sabtu. Kemananya juga belom fix. Pengennya anak-anak sih, ke Hutan Pinus, biar sekalian touring nih. Kasian Cecep udah lama ga pemanasan naik gunung."
Sekedar info, Cecep itu motor vespa modern berwarna coklat kesayangan si bule.
"Hutan Pinus? Boleh tuh, kabarin aja kalo jadi ya, Non." Ucap Mingyu tanpa mengalihkan pandangannya dari si Poni.
"Ngomong tuh diliat orangnya, Poni aja terus sampe jadi perjaka tua."
Tiba tiba sebuah suara ikut menyahuti obrolan mereka. Suara yang berasal dari seorang lelaki berperawakan tegap, rambut hitam, dan kaki lebar ㅡSeungcheol.
"Paan sih, Cheol." Sahut Mingyu sewot.
"Lah, asep damri malah sewot." Ucap Seungcheol sambil duduk di sebelah Mingyu, tangan dan mulutnya sibuk mengupas kuaci yang ia bawa.
"Serius dah gue, Gyu. Lo gak ada niatan cari cewek lagi?" Tanya Seungcheol serius, sambil tetap memakan kuacinya.
"Udah lah, Gyu. Move aja kenapa sih, ikhlasin Doyeon, udah seneng dia sama Taeyong sekarang." Sambung Vernon menasehati.
Mingyu cemberut, dia paling gak suka kalo udah dipojokin sama temen-temennya kaya gini, serasa dia memang anak yang suka gagal move-on nya menahun.
Padahal, Mingyu gak gitu. Dia cuma tipikal orang yang susah jatuh hati, dan kemarin, saat dia udah jatuh banget sama Doyeon, dia jadian sama Taeyong yang notabenenya temen deketnya Mingyu. Saat tau hal itu, hampir saja si Cecep hancur kena amukannya Mingyu.
Vernon bergidik ngeri saat ingat hari dimana kabar Doyeon sama Taeyong jadian sampai di telinga Mingyu. Mulai saat itu, Vernon bener-bener anti untuk mendekatkan Cecep sama Mingyu.
Pada akhirnya, kegiatan Mingyu untuk ngemandiin Poni selesai. Dia langsung beres-beres perlengkapan si Poni, sekaligus membereskan barangnya dan siap siap untuk pulang, dia udah terlanjur bete sama topik bahasan Seungcheol dan Vernon. Maklum, Mingyu memang anaknya agak baperan.
"Gue cabut deh, kabarin aja kalo huntingnya jadi. Duluan ya, Cheol, Non." Pamit Mingyu.
"Yah anjir pulang duluan," sahut Seungcheol.
"Tar gue kabarin lagi deh di grup ya, Gyu. Oh ya, btw kita cabut sama anak-anak Foca, jadi stay grup ya lo jangan sider mulu," omel Vernon sambil ber-hi 5 ria.
"Iya iya, tau dah pamit gue. Bye." Ucap Mingyu malas sambil melengos pergi.
"Jangan lupa read chat gue, ya! Gue send contact stok gue yang nomor wahid dah!"
Dan, teriakan Seungcheol serta tawa yang lepas dari mereka berdua adalah hal terakhir yang Mingyu dengar.
***
Hari Sabtu,
Hari dimana seharusnya mereka menjalankan rencana untuk hunting foto ke Hutan Pinus.
Namun, itu hanya seharusnya.
Karena nyatanya, hujan deras mengguyur kota Seoul seharian. Mulai dari pagi tadi, hingga jam 10 sekarang ini.
YOU ARE READING
China Town ; Mingyu x Kyulkyung
Short StorySalah gak sih, kalo gue baper cuma karena dia photogenic? . . . . Cr pict to owner © 2017, story by Tofungi
