Bulan tak pernah berharap untuk ditemani namun semua bintang bermunculan menambah indahnya langit malam, semilir angin menerpa menusuk hingga ketulang, perempuan berambut coklat panjang sebahu itu duduk dalam sepi memeluk erat kakinya dan pada akhirnya ia memutuskan untuk memasuki kamarnya. Malam ini Ia kembali mengeluarkan seluruh emosinya mengenai kehidupannya yang sungguh tak mengerti akan perasaannya.
Berjalan gontai dengan mata sembab meraih cangkir dan menuangkan se-sachet kopi mochacino yang disukainya dengan harap dapat menenangkan jiwanya. Udara dingin memang sangat mendukung untuk saat-saat seperti ini, saat dimana semua impian masa kecilnya tak mungkin ia dapatkan ya! Sangatlah MUSTAHIL!
Tepat pukul tiga dini hari ia terbangun, mengerjapkan matanya yang susah untuk dibuka yang semalam dialiri air mata hatinya. Hening, dingin hanya itu yang dapat di jelaskan selebihnya sangatlah sulit. Ia menarik selimutnya dengan erat dan wajahnya tenggelam kembali melanjutkan mimpinya.
“Shira bunda pengen Shira mainin satu lagu buat bunda”
“Bunda?”
“Bunda?”
Shira mengerjapkan mata “Astaghfirulah mimpi” Shira menghirup napas dengan berat dan kembali teringat akan masa lalunya.
Flashback
“Bunda Shira izin ke rumah Rista hari ini ya Bun” Pamit Shira pada bundanya.
“Lho katanya hari mau latihan biola bareng sama Bunda?” Tanya bunda pada Shira.
“Gimana kalau besok aja Bun?” Pinta Shira.
“Ya udah, hati-hati jangan kesorean pulangnya ya” Ucap Bunda
“Iya Bun makasih, Asslamualaikum” Sembari mencium tangan Bunda.
“Wa’alaikumussalam Warahmatullah”
Shira mengeluarkan motor sport warna hijau kesaayangannya dan bersiap untuk melaju. Rumah Rista tak terlalu jauh dari rumahnya sekitar limabelas menit ia telah sampai di rumha Rista.
……..
Handphone Shira berdering ah ia lupa akan satu hal waktu terasa cepat ia memandangi beberapa detik ke luar jendela kamar Rista semburat merah mengkombinasi langit sore segera Shira mengangkat telfon dari Abangnya.
“Ass..” Belum sempat Shira menyelesaikan salamnya lalu ia dikagetkan oleh penjelasan abangnya.
“Shir kamu dimana? Bunda Shir Bunda…” Isakan abangnya terdengar jelas mengkombinasi sehingga Shira tak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan abangnya.
“Apa Bang? Ngga jel…”
“TUT….TUT…TUT…..”
Abang Kevin
“Shira cepat pulang Bunda pingsan”
“Apa bunda pingsan? Abangnya pasti bercanda karena tabiatnya memang bukanlah orang yang serius tapi mana mungkin abang bercanda sebegitunya sama saja abang mendoakan bunda?” Beberapa menit ia melamun.
“Kenapa Shir?” Tanya Rista.
“Ah nggapapa Ris, um.. udah sore ya Ris, ngga kerasa waktu cepet banget, aku pulang dulu ya by the way makasih ya Ris” Ucap Shira pada akhirnya tersadar akan lamunannya.
“Iya Shir eh iya udah sore, yup” Ucap Rista.
Diperjalanan pulang Shira merasa ada yang tak enak, pikirannya terganggu akan chat abangnya hampir saja ia menyerempet motor yang ada disampingnya. Sesampainya dirumah Shira langsung memburu kamar bundanya dan ternyata benar bunda sedang dalam keadaan tak sadarkan diri.
“Bunda” Ucap Shira lirih memandangi bundanya yang tak berdaya diatas kasur walau hanya pingsan, namun pingsan ini bukanlah pingsan yang biasa bagi seorang penderita aritmia ya Shira ingat sekarang abangnya sudah berubah setelah bundanya difonis menderita aritmia.
Setelah setengah jam berlalu Shira dan abangnya semakin tak tenang ditambah ayah mereka yang sedang sibuk dihubungi sebangai dubes di luar negeri. Akhirnya mereka memutuskan untuk membawa bundanya ke rumah sakit.
“Shir bilang ke Mang Ateng suruh panasin mobil”
Tanpa ba bi bu lagi Shira menuruti perintah abangnya. Sesampainya dirumah sakit Bunda dibawa ke ruangan UGD. Dalam pikiran Shira penuh sesak dengan kekhawatiran pada bundanya. Kapan bunda bangun? Apakah bunda akan baik-baik saja? Argghh.. semua pikiran itu menggangunya hingga dokter keluar dari ruangan UGD.
“Gimana dok keadaan bunda saya?” Tanya Bang Kevin pada dokter.
“Keadaannya belum membaik untuk lebih ditindaklanjuti pasien akan dibawa ke ruang ICU” Jelas dokter
“Baik dok apapun yang terbaik untuk bunda saya, saya mohon lakukan yang terbaik ya Dok” Ucap Bang Kevin dengan penuh harap.
“Kami akan usahakan, untuk itu permisi”
“Iya terimakasih Dok”
“Apa ICU? Apa keadaan bunda terlampau parah?” Ucap Shira pada akhirnya.
“Berdoa yang terbaik Shira, apapun yang terjadi” Ucap Bang Kevin lirih.
Shira menangis, ia menangis pikirannya kembali terpenuhi oleh wajah bundanya yang sendu menentramkan jiwanya berbeda dengan Bang Kevin yang terlihat tegar namun begitu ia menangis didalam lubuk hatinya yang paling dalam hanya saja ia harus terlihat tegar di hadapan adiknya.
Tepat jam sepuluh malam bunda belum juga sadar detak jantungnya terlihat lemah di mesin pendeteksi detak jantung sepi, dingin, hampa Tuttttttt…. Mesin pendeteksi detak jantung itu menunjukkan garis lurus horizontal Shira tak percaya akan mesin itu.
“You’re a liar machine, Bunda get up Bunda I know you’re the strongest mother that I have known come on Bunda” Racau Shira dan berusaha menggoyang goyangkan tubuh bundanya yang sedari tadi tak bergerak sama sekali.
“Suster.. suster… dokter..” Teriak Bang Kevin yang tak kalah shock dengan keadaan yang sedang tak bersahabat, ia berlari keluar.
Beberapa menit kemudian Bang Kevin telah kembali disertai doker dan suster. Suasana semakin mencekam ketika suster melepas alat yang terpasang pada tubuh bunda atas perintah dokter.
“Dok? Kenapa di lepas Bunda masih hidup, bunda perlu bernafas” Isak Shira yang belum bisa menerima keadaan bahwa bundanya telah tiada.
“Maafkan kami, kami telah lakukan yang terbaik” Ucap dokter mencoba menenangkan namun mustahil isakan Shira semakin menjadi.
“Shir udah Shir bunda udah tenang” Bang Kevin yang kini mencoba menenangkan Shira dan memeluknya.
Shira menyesal ia sungguh menyesal saat ini ia mengerti bahwa mesin waktu yang ada pada doraemon hanyalah khayalan belaka karena waktu tidak akan pernah bisa terulang.
Flasback off
“I just want you, Bunda. Always beside me but that is imposible. You always in my very deep heart. Love you” Bisik Shira sembari memandangi pas foto yang tergambar bunda dan Shira sedang bermain biola.
Maaf kalau ada yang typo
Hai hai aku baru di sini, semoga suka ya ^^
Salam Nsh,
KAMU SEDANG MEMBACA
Perindu Bulan
Fiksi RemajaMemilih bukanlah perkara yang mudah bagi Shira apalagi didukung oleh suasana keluarga yang kurang baik, ditambah masalah yang bertubi datang padanya, namun cahaya bulan dan bintang masih memberikan secercah harapan padanya dan membawa perubahan dala...
