Prologue

28 4 1
                                        

           

Kautsar Megantara tau kok dirinya ganteng.

Ganteng banget malahan. Makanya dia nggak heran lagi kalau dia sedang makan di warung bakso, kursi panjang warung bakso mendadak jadi sempit dipenuhi cewe-cewe yang tiba-tiba makan dengan anggun disampingnya. Atau ketika dia pulang sekolah dulu, di sekitar tempat parkir motornya banyak gadis gadis yang tiba-tiba ban motornya kempis. Atau saat dia lari pagi keliling komplek, ibu-ibu komplek menyapanya dengan sapaan "pagi menantuku."

Tapi pagi ini dia nggak sempet mikirin dia ganteng apa nggak, rambutnya udh rapi atau belum, soalnya dia telat dateng ospek yang harusnya mulai pukul 07.00 pagi. Sekarang Megan berdiri di depan gerbang kampus yang tertutup tepat pukul 07.10.

Megan sedang merutuki diri sambil memandangi jam tangannya ketika dari belakang terdengar suara gaduh gabungan antara suara motor dan suara dua orang perempuan dan laki-laki bertengkar.

"YAH ANJIR GUE TELAT KAN MAS, ELAH!" yang perempuan, sepertinya adiknya, turun buru-buru dari motor sambil merapikan seragam hitam putihnya yang kusut.

"Makanya bangunnya tuh lebih pagi, dodol. Bukan salah gue pas mau berangkat tadi gue mules, jam 7 kan emang jam biologis gue??!?" Sang kakak menjitak kepala adiknya.

"Bodo anjir udah sono pulang lagi, hus hus!!!!!!" Usir si adik sambil mendorong motor kakaknya menjauh. Si kakak tertawa sambil menyalakan mesin motornya tak lama kemudian suara mesin motornya hanya terdengar sayup sayup di kejauhan.

Sementara si adik menghampiri Megan sambil terus merapikan baju seragamnya yang kusut, Megan memperhatikan motor si kakak menjauh. Rasanya ia mengenali wajah si kakak... tapi siapa ya?

"Lo telat juga?" Tanya Megan basa basi saat gadis itu berdiri di sebelahnya. Gadis itu mengangkat mukanya sambil menatap Megan, wajahnya tidak bersahabat.

"Menurut lo?" Alisnya terangkat satu sambil memasang wajah jutek. Megan menelan ludahnya, takut.

"Hehehe sama dong gue juga soalnya," ia menjawab pelan. "Lo fakultas apa?" Tanya Megan lagi, berusaha ramah. Kali ini ditambah dengan sunggingan senyum kecil, siapa tahu gadis itu luluh dengan senyum gantengnya kan?

"Teknik." Gadis itu menjawab pendek, sekarang ia sibuk mengotak-atik isi tasnya.

"Oh gue FEB. fakultas kita bareng kan ya di Gor? Nanti bareng aja masuknya yuk" ajak Megan. cewe itu menyernyit. "Lo pikirin dulu deh cara kita masuk lewat gerbang ini gimana, baru ngajak bareng" sahutnya agak ketus. Kemudian ia mengamati Megan agak lama sambil terdiam.

Nah mulai berlaku kan charm gue. Megan membatin dalam hati. Tiba-tiba cewek itu menarik sesuatu dari tasnya dan menyerahkannya pada Megan.

"Pake slayer gue nih, lo belom pake slayer. Ada di ketentuannya kan?" Kata cewe itu datar. Megan terdiam, baru ingat ia lupa memakai slayer sesuai ketentuan seragam ospek. Megan mengamati leher cewek itu, dia juga belum memakai slayer. Megan menggeleng.

"Lo pake apa nanti? Gapapa gue kan cowok kalo dihukum fisik udah biasa, hahaha" Megan sebenarnya paling malas dihukum fisik seperti itu. Dia sanggup dan terbiasa, cuma ya, males aja rasanya pagi-pagi udah keringetan, nanti pomadenya luntur.

"Ambil aja udah, gue cewe, gampang ngeles sama nyolotnya." Cewek itu meraih tangan Megan dan menaruh slayernya di telapak tangan Megan. Megan membaca bordiran di slayer itu. Alaska.

"Kalian mau pacaran di depan gerbang terus atau gimana?!?!?" Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari depan mereka. Mereka berdua tersentak. Berdiri seorang senior laki-laki, ganteng tapi galak. Di nametagnya tertulis: Catra. Komdis. Si Senior mengamati leher cewek itu, Alaska sambil menyernyit.

"Mana slayermu? Kamu gak baca ketentuan?" Tanyanya galak.

"Maaf kak slayernya dipake ibu saya buat alas panci. Saya gak berani marah sama ibu saya kak, surga di telapak kaki ibu soalnya" Alaska memasang raut memelas.  Senior itu mendesah keras.

"Yaudah masuk kalian berdua. Jangan diulang lagi." Serunya sambil membuka gerbang. Alaska menepukan kedua tangannya, senang. Kemudian dia menoleh ke Megan, masih dengan wajah datarnya.

"Gue duluan ya." Katanya, setelah itu ia berlari masuk, meninggalkan Megan yang terperanjat di luar gerbang.

"Kamu niat ospek nggak? Mau masuk nggak sih?" Tanya senior itu, membuyarkan lamunan Megan. Megan mengangguk sambil berjalan masuk ke area kampus.

Alaska ya..... Megan nggak bakal lupa sama nama itu kayanya sih.

KetikaOù les histoires vivent. Découvrez maintenant