Sekilas kalo diliat, cowok kurus berambut lurus yang pake seragam SMP masih berkerah kaku itu jelas culun. Rambutnya disisir rapi, terlalu rapi ke samping kiri. Mungkin si penyisirnya menambahkan sedikit gel yang bikin rambut itu nggak akan goyah oleh angin sampai si angin penasaran meniup dengan kekuatan badai. Belum lagi badan kurus agak bungkuknya yang terbungkus oleh seragam SMP berukuran satu ukuran lebih besar. Kulit pucatnya yang mengingatkan sama tokoh di film horror penghisap darah manusia. Terlebih lagi, sikapnya yang selalu terlihat gugup, resah, nggak nyaman, dengan sorot mata yang insecure.
Padahal kalo diliat, tampangnya lumayan unyu. Matanya coklat muda, kalo terpantul cahaya matahari jadi kaya buah kurma belum mateng. Hidungnya mancung bukan hasil oplas pastinya apalagi filler yang lagi ngetrend jaman sekarang. Hidungnya mancung dengan tulang tinggi, ujung bangir menjurus lancip yang sempurna, hidung yang ia dapatkan dari papanya yang keturunan Jerman. Alisnya juga tebel, berkarakter. Hanya matanya sedikit kecil, dengan ujung agak sipit dan bibir mungil warisan sang mama yang berdarah oriental.
Ya, Darryl emang nggak jelek. Tergolong cowok berusia 13 tahun yang kece malah. Gimana nggak kece kalo dalam dirinya mengalir 3 darah bercampur jadi satu; Indonesia-korea-Jerman. Sayangnya Darryl yang terlahir bungsu dari 2 bersaudara ini sejak kecil bukan termasuk anak lelaki yang sehat dan kuat. Penyakit alergi dan asma yang dideritanya sejak lahir membuat Darryl ringkih. Karena kondisinya ini, sang mama pun menjadi sangat protektif dan membentuk pribadi Darryl jadi pribadi yang kurang tangguh dan percaya diri.
Meskipun Darryl bukan anak manja. Hati Darryl sering ingin berontak atas perlakuan mamanya yang super protektif. Dia ingin menjadi seperti kak Kevin, yang keren, jago main futsal, lincah meluncur di atas skateboard, bisa ikut mancing bareng Papa kalo liburan, suka pulang sekolah ujan-ujanan. Darryl iri sekali setiap melihat bekas luka baru di tangan atau kaki kakaknya akibat main bola atau skateboard. Tapi apa daya, Darryl harus tau diri. Dirinya nggak mungkin melakukan semua itu dengan kondisinya sekarang.
Mobil sedan mewah yang dikendarai sendiri oleh mama Darryl berhenti tepat di gerbang sekolahan. Darryl menghela nafas memperhatikan sesaat gedung sekolah yang megah di hadapannya. Tahun Ajaran Baru. Mungkin jadi senior kelas 2 adalah salah satu hal yang ditunggu teman-temannya di SMP BUANALOKA, salah satu sekolah menengah pertama yang ngehietz di Jakarta. Sekilas mata darryl melihat Chris, Aga dan Marsel berjalan dengan gaya sok keren ala slowmotion di film melewati para junior yang sudah selesai masa orientasinya minggu lalu. Time to show off..! saatnya bersikap layaknya selebriti atau jagoan di depan adek adek kelas yang masih cupu dan masih bau sisa seragam SD.
Tapi tidak dengan Darryl. Apa yang mau dibanggakan dari senior macam dia kecuali prestasi akademisnya. Apalagi Darryl liat beberapa junior tubuhnya malah lebih besar dan terlihat lebih gesit dari dia. Kalo sampai Darryl berani angkat dagu atau bersikap arogan di depan mereka, bisa bisa Darryl yang justru di bully sama Juniornya. Membayangkan hal itu Darryl udah bergidik ngeri sendiri.
"sayang. Kok diem aja. Udah mau bel lho sebentar lagi"
ucapan Mama membuat Darryl tersentak dari lamunannya dan spontan membuka pintu.
"see you, ma"
Darryl bergegas keluar dari mobil belagak nggak mendengar protes mamanya "eeeeh kok nggak cium mama dulu..??!!! Darryl..!!"
Oh well, cipika cipiki sama mama kayak kebiasaannya selama ini di depan para juniornya..?? sorry, ma. Darry udah senior sekarang, paling nggak ada satu hal yang bisa Darryl ubah biar nggak terlihat makin cupu lagi di mata mereka.
Darryl berjalan menyusuri selasar di sekolahnya yang cukup besar, matanya sibuk mencari cari dimana kelas barunya. Saat akan berbelok tiba-tiba Darryl mendengar suara kayak ada orang ribut-ribut. Ngerasa keppo, darry membelokkan langkahnya mengikuti arah suara berasal.
"Gak usah songong!! Lo pikir mentang-mentang gw anak baru di sini trus gw takut ama lo semua..? udah jagoan lo mau bully gw..??!!
darryl tertegun. Pandangannya seolah terpaku dengan adegan yang terjadi sekitar beberapa meter di hadapannya. Di sudut agak tersembunyi dekat gudang sekolah, Nampak seorang cewek bertubuh mungil dengan rambut dikuncir kuda sedang murka di hadapan dua siswa SMP yang Darryl tahu seangkatan dengannya namun nggak pernah sekelas. Tapi Darryl tahu pasti apa yang terjadi. Dua siswa ini dari kelas satu memang terkenal pembuat onar. Konon kabarnya waktu SD mereka sering dibully kakak kelas, jadi saat bertransformasi menjadi senior di SMP ini mereka seolah ingin
menunjukkan jati diri mereka dengan ganti ngebully orang lain. How Sad, when people turn into anyone they hate before, rite.
Namun kali ini dua cowok tukang bully itu cuma melongo gelagapan di hadapan cewek mungkin berkulit putih berwajah cukup menarik ini. Ya menarik, karena Darryl belum terlalu focus menilainya cantik. Darryl cukup sibuk memperhatikan betapa beraninya cewek ini, dengan suara melengkingnya yang bisa membuat kecoak manapun terbang seketika, belum lagi mata besarnya yang melotot seolah siap mengeluarkan sinar laser yang akan menghanguskan dua mahluk sok jagoan di hadapannya, yang jelas ukuran tubuhnya tiga kali lipat lebih besar darinya.
Tangan cewek itu mulai mendorong salah satu cowok dengan sikap dan wajah menantang.
"apa lo..? ayo bully gw..? kenapa..? kurang uang jajan dari orangtua lo..? udah jagoan lo..? lo tau nggak gw dari TK udah iku karate hah..? lo tau nggak kelas lima sd gw pernah patahin tangan jambret yang gangguin nenek gw..? nggak percaya..? lo mau coba..? punya duit nggak buat bayar ahli patah tulang..?? hah..? kenapa diem..?"
si cewek jagoan terus mendorong cowok yang makin mundur ketakutan hingga tubuhnya terpojok di tembok gudang.
Si cowok itu gemetar pucat pasi sementara temannya berusaha menengahi.
"udah sik..udah sik.."
spontan kepala cewek itu menoleh ke cowok satunya lagi sambil mendelik makin galak
"udah sik udah sik apaaaa..??!! loe berdua kan tadi ngerampas tas gw, trus lo lempar-lempar ke tengah lapangan, trus loe berdua nggak mau balikin sebelum gw janji bakal kasih duit jajan gw tiap hari..! ya kaann.??!!"
Kedua cowok itu colek-colekkan berusaha saling ngajak kabur, namun dengan cekatan satu kaki si cewek jegal cowok yang satu, sementara satu tangannya pelintir tangan cowok lainnya hingga nggak berkutik.
Kedua cowok makin ketakutan campur kesakitan.
"udah berapa lama loe berdua jadi jagoan hah..? udah berapa banyak korban lo..??"
"nggak kok..nggaaak.." jawab cowok yang tangannya dipelintir dengan wajah sambil menahan tangis antara ketakutan dan kesakitan.
Sementara cowok yang satu udah mati gaya cuma bisa merengek kayak kaset rusak.
"udah sik..maap udah sik..maap.."
si cewek jagoan akhirnya melepas mereka dengan gaya menyentak hingga kedua cowok itu nyaris tersungkur jatuh.
"awas aja lo masih rese!"
tanpa menunggu aba aba kedua cowok itu langsung kabur, secepat kilat, melewati Darryl yang buru-buru menempelkan tubuhnya ke tembok takut ketabrak.
Darryl kembali menoleh ke arah si cewek dan terkesiap, cewek jagoan itu sedang menatap Darryl dengan pandangan tajam.
Nggak tau kenapa Darryl bergidik dan buru-buru mengayunkan kedua kakinya yang terasa berat meninggalkan tempat itu.
Hiiiyyyy....!
YOU ARE READING
BUBBLES
Romanceini kisah tentang DARRYL dan BUBBLES :)) Sadar gak sih, kadang kita gak bisa bedain lho: kita bertahan di sisi seseorang sebagai teman atau sahabat, itu tulus apa engga. Terutama kalo teman atau sahabat kita itu beda jenis. Cowok sahabatan ama cewek...
