Gadis Yang Tidak Mengerti Kata Balas Budi

385 60 3
                                        

HARI ini tepat seminggu aku bekerja di toko yang baru. Aku pekerja paruh waktu sejak pagi dan tidak pernah meninggalkan toko sebelum jam dua belas. Namun, suatu hari, karena ada sesuatu yang mendesak, kutinggalkan toko sebentar menuju seberang jalan. Seorang nenek-nenek hendak menyeberang ke arah tempatku berdiri. Ia ragu-ragu untuk melangkah dan pada akhirnya yang ia dapatkan hanya suara klakson dari pengguna motor dan mobil.

Aku menunggu jalan sedikit sepi, agar bisa menyeberang lalu membantunya. Tapi aku berdiri sangat lama, jalan tidak pernah sepi-walau sedikit saja. Nenek itu berdiri dengan tongkatnya, wajahnya mengkilap terkena sinar matahari. Aku mendengus, telapak kakiku kepanasan, sandal ruangan yang kupakai seolah meleleh.

Menunggu sangat lama, aku kembali ke dalam toko saat kulihat ada pelanggan.

Pelanggan itu hanya seorang pria yang membutuhkan sampo dan beberapa mie instan. Aku menawarinya apakah ia berkenan untuk mengisi kotak amal di samping meja kasir saat uang pria itu terdapat kembalian. Tapi ia mengambil kembaliannya dari tanganku kemudian melenggang pergi.

Aku melangkah lagi keluar toko, namun yang kucari tidak ada di sana. Nenek dengan tongkat tadi tidak berdiri di seberang jalan sana. Aku celingukan mencarinya, namun tetap tidak kutemukan.

Saat aku kembali masuk ke dalam toko, seorang gadis berseragam biru-putih masuk dan membeli bolpoin juga buku tulis. Ia mengamatiku yang tengah menghitung pembeliannya, dan kumasukkan barang-barang yang ia beli ke dalam plastik.

"Ini kembaliannya, mungkin berkenan untuk amal?" kataku kepada semua pelanggan setiap pembelian mereka terdapat kembalian, sambil kutunjukkan kotak amal bertuliskan Amal Bagi Yatim Piatu di sisi kiri meja kasir.

Gadis itu merogoh sakunya, kemudian menarik kembaliannya dari tanganku. Ia memasukkan semua uang kertas-kembaliannya dan uang yang baru saja dirogoh dari saku-ke dalamnya. Gadis itu tersenyum sebelum pergi, juga mengucapkan terima kasih.

Dan satu yang masih membuatku termenung, ia memasukkan nominal yang bahkan jauh melebihi dari apa yang ia beli.

**

Aku kembali bekerja keesokan harinya, berangkat pagi untuk membuka toko. Jalanan belum seramai saat jam kerja, jadi aku sengaja berangkat lebih pagi untuk sekadar mengitari jalanan toko.

Ketika jam yang ditunjukkan layar ponselku sudah pukul 6.30, aku kembali ke toko dan membalik papan "CLOSE" menjadi "OPEN". Aku menyapu, menata dan mengembalikan barang yang tidak pada tempatnya, membersihkan jendela dan meja kasir.

Bel yang ditempel di pintu berbunyi ketika pintunya terbuka. Seorang gadis yang mengenakan seragam biru-putih menuju ke kulkas dan mengambil tiga botol air mineral dan tiga buku tulis. Aku segera ke belakang meja kasir dan menghitung pembeliannya.

"Ini kembaliannya, mungkin berkenan untuk amal?" kataku.

Ia merogoh sakunya dan mengambil dua lembar uang kertas; lima ribuan. Aku mengernyit saat ia mengambil kembaliannya dari tanganku, kemudian memasukkannya bersama dengan uang lima ribuan tadi ke dalam kotak. Aku segera menyadari bahwa dia adalah gadis kemarin siang yang juga melakukan hal sama. Ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih, kemudian melangkah mendekati pintu.

Aku mencegahnya pergi. "Hei, tunggu!"

Ia menoleh.

"Kamu dari sekolah mana?" tanyaku, merasa bahwa aneh jika aku langsung menanyakan namanya.

Gadis itu mengambil karet rambut dari dalam saku rok birunya, mengucir rambutnya menjadi satu ke belakang dengan cepat sebelum menjawab pertanyaanku. "Aku di sekolah yang enggak pernah bisa Abang temuin."

Gadis yang Tidak Mengerti Kata Balas BudiLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora