TAKDIR CINTAKU

66 10 10
                                        

Langit senja di luar sana mulai menurunkan rintik-rintik air hujan. Orang-orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Aku juga mempercepat langkahku ke salah satu Cafe yang cukup terkenal di kotaku.

Kodorong pintu kaca Cafe itu dan mencari meja kosong. Mataku melihat meja kosong di pojok sana dekat jendela besar. Kulangkahkan kakiku kesana. Baru saja kududukkan bokongku, seorang pelayan menghampiriku.

"Mau pesan apa, Mba?" tanyanya.

"Nanti saja, saya sedang menunggu teman." jawabku. Pelayan itu segera pamit pergi setelah mendengar ucapanku.

Aku meletakkan tas cokelatku di kursi samping. Dan selanjutnya, aku hanya memandang keadaan luar dari balik jendela. Menunggu seseorang datang. Seseorang itu adalah saudariku. Ia mengajakku bertemu di Cafe ini pada pukul lima sore. Katanya, ada suatu hal yang ingin ia beritahu padaku.

Ia tidak akan datang seorang diri, ia akan mengajak kekasihnya juga. Pada awalnya aku ingin menolak ajakannya, tapi aku tak punya alasan pasti. Aku juga rindu padanya, karena sudah dua tahun ini kami tidak bertemu. Selama ini kami hanya berkomunikasi melalui pesan-pesan singkat.

Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Sepertinya aku terlalu cepat datang. Tapi tak apa. Aku menopang kepala dengan tangan kananku. Suara gemericik gelang ditanganku terdengar. Aku menghiraukannya.

Mataku terpaku pada dua orang anak SMA yang berlarian ke depan toko yang tertutup untuk berteduh. Mereka laki-laki dan perempuan. Seragam putih-abu yang mereka kenakan sedikit basah terkena air hujan. Sang perempuan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan basah. Lalu laki-laki disampingnya mengambil jaket dari tasnya sendiri dan memakaikannya pada perempuan itu. Sepertinya mereka pasangan kekasih.

Aku hanya tersenyum kecut melihat adegan simpel tapi romantis itu. Sejenak, pikiranku terlempar pada peristiwa beberapa tahun silam. Tahun dimana aku masih menjadi siswi SMA.

***

"Sen, Senara!"

Sebuah panggilan memanggil namaku. Aku berhenti melangkah di koridor ini lalu berbalik. Disana, aku dapat melihat laki-laki yang baru saja memanggil namaku. Aku mengenalnya. Dia bernama Galvin Fairuz, si kapten futsal SMA Bakti. Laki-laki yang sebulan ini cukup dekat denganku. Laki-laki yang sudah mencuri hatiku.

"Ya?" aku tak berucap apapun lagi hingga ia berjalan mendekat.

"Boleh bicara sebentar gak? Gak bakalan lama, kok." ucapnya setelah berdiri dua langkah dihadapanku. Aku sedikit mendongak untuk melihat wajahnya karena perbedaan tinggi kami yang terlampau jauh.

Aku mengangguk malu-malu, "Boleh."

Senyuman terukir di wajah tampannya. "Ikut gue kalo gitu." Ia langsung meraih tanganku dan menyeretku pergi. Aku tak sempat protes karena ia telah membimbingku berjalan mengikuti langkah besarnya.

Siswa-siswi lain menatap kami dengan berbagai cara. Ada yang tampak kaget karena mungkin aku dan Galvin sebelumnya tidak pernah sedekat ini. Ada juga yang tersenyum-senyum, sebagian dari mereka berkata ingin diperlakukan begitu oleh pasangannya. Bahkan, ada juga yang menatap kami dengan tatapan mencela.

"Si Senara Tania kelas sebelas itu ngapain deket-deket sama Galvin? Main pegang-pegangan tangan segala. Dasar murahan!"

Aku hanya menunduk mendapat komentar pedas itu. Tak berani membalasnya. Namun, langkah Galvin terhenti. Begitu pula denganku yang berdiri di sampingnya. Galvin menggenggam tanganku semakin erat. Membuat hatiku semakin tak karuan.

Ia menoleh pada perempuan yang sudah berkata pedas tadi. Aku tak mengenal siapa perempuan itu. Tapi kemudian aku mengetahuinya.

"Vera, bisa gak jaga mulut lo?" ucap Galvin.

Takdir CintakuStories to obsess over. Discover now