Bab 1

15 3 4
                                        

Siapa yang akan menyangka bahwa rasanya di tolak segala universitas negeri akan seperi ini. Ntah dengan kekuatan apa rasanya aku tidak jadi mengakhiri cerita di hidup ini. Padahal kalau dipikir-pikir aku hampir merasa tidak ada harganya lagi disini. Makan terasa hambar, susu kesukaanku yang memiliki rasa coklatpun terasa seperti air kobokan, amis. Tidak berhenti sampai disitu pula. Aku sampai lupa bahwa mimpiku sebenarnya bukanlah tentang masuk universitas negeri. Mimpiku sebenarnya adalah membahagiakan kedua orangtua dan juga mensyukuri nikmat Tuhan.
Lalu bagaimana bisa orangtuaku merasa bahagia melihat anaknya depresi karena masalah yang sebenarnya sudah ada jawabannya. Dan bagaimana Tuhanku murka atas ketidaksyukuranku terhadap hasil yang ia beri.
Dengan sangat berat hati, ku coba melapangkan dada dan menerima segala realita. Ku lihat jam dinding terus berputar, itu artinya untuk apa aku berhenti berjuang dan untuk apa air mata ini terbuang sia-sia.

Akhirnya aku memutuskan mengisi formulir universitas swasta yang berada di Jakarta bagian Timur. Aku mengisi jurusan sesuai hati dan tujuan ku, hukum. Aku menyukai hukum bukan karen ayahku lulusan hukum, atau bukan karena tetanggaku pengacara. Namun karena aku menyukai peraturan dan fakta bahwa kita hidup itu bebas terbatas dengan aturan yang menjaga keseimbangan dan keadilan. Jauh pikiranku untuk menegakkan hukum di Indonesia ini, tapi setidaknya aku dapat menerapkan ilmu ini kelak dikemudian hari.
Lalu aku mengisi pertanyaan klasik seperti pendidikan terakhirku dimana dan juga menyinggung alamat serta profesi orang tuaku.
Setelah aku mengisinya akupun lanjut dalam sesi wawancara dan aku pun disuruh menceritakan kisahku sedari kecil secara ringkas. Akupun menceritakan bahwa aku dibesarkan layaknya anak dari prajurit TNI pada umumnya. Diajarkan begitu keras bagaimana caranya bertanggung jawab, displin, tegas dan berani. Walaupun aku seorang wanita namun perlakuan orangtuaku tidak membedakan itu, jika aku salah maka hukuman yang diberikan haruslah setara. Itulah yang diajarkan orangtuaku bahwa hukum dapat memberikan efek jera. Walaupun tak dapat dan tak ingin ku jelaskan satu satu hukuman apa itu namun yang ingin aku beritahu adalah bahwa betapa bangganya aku dibesarkan dan di didik seperti itu. Kalau bukan orang tuaku yang seperti ini mungkin aku bukanlah gadis yang berani dan mungkin kisah ini akan berbeda.

Seminggu berlalu, namaku Gadis Andara Putri Jerrick dinyatakan lulus di fakultas hukum universitas swasta jakarta. Perasaan dicubit semutpun perlahan memudar. Ketenangan mulai menyelimuti kulit ini. Ayahku, David Jerrick berkata "akhirnya gadis ayah mau kuliah juga. Lulusan swasta bukan berarti mahasiswa yang buruk, mereka mahasiswa hebat yang masih diberi kesempatan menggali ilmu." bundaku yang bernama Liyana Collen pun mengatakan "lihat bunda lulusan universitas swasta di Aceh sekarang s2 di luar negeri. Gak usah takut, swasta bukan neraka kok." lalu senyum senyum itu pun mulai menyadarkan bahwa lembaran barupun siap melukis cerita indah. Adikku, Putra Jerrick yang masih duduk di bangku smp tidak mengerti kenapa aku bisa tersenyum ceria kembali selepas bermuram durja masa kemarin.

6 BULANWhere stories live. Discover now