PROLOG

5 1 0
                                        

자 힘을 내
항상 넌 혼자가
-Have strength
You're not alone-
Angel by Berrygood

Pesta graduation ini sangat membosankan. Tidak ada yang special selain melihat Gandy yang semakin tampan setiap harinya. Namanya memang aneh, sekaligus kelakuannya. Tapi dia memang cowok sejati yang pernah ku temukan. Ini sudah berada di penghujung acara dan aku berhasil menampilkan dance cover dari Red Velvet dan Gfriend. Girlband Korea yang cukup booming saat ini. Saat berfoto dengan rekan X-fab ku, aku melihat Gandy dari kejauhan.

"Hai"
"Hai juga"
"Keren kali dance mu! Gila wee!!" dia menyapa setelah rekanku yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing.
"Yaelah, siapa dulu dong, aku gitu lho..." berusaha menyombongkan diri di depannya.
"Kapan-kapan kolaborasi yuk!" dia berusaha membuat suasana tidak canggung. Bagaimana tidak canggung saat kalian berbicara dengan seseorang yang tahu kalau kalian mencintainya? Ah, rumit sekali kata-kataku. Pada dasarnya, aku menyukai Gandy dan dia mengetahuinya. Kami teman sekelas dari kelas tujuh sampai sembilan. Itu dia kesimpulannya, dan semua hal ini terungkap karena permainan bodoh yang merusak segalanya. "Lah, emang ko bisa ngedance?" aku meledeknya, karena jelas sekali badan kakunya itu tidak dapat digerakkan.
"Yah, ngenyek banget deh... Kaku-kaku gini juga lebih jago khayang daripada ko!" membentak seolah-olah pernyataanku salah. Ehm, pertanyaan. "Yaudah, daripada ributin fakta, mending kita foto bareng, kenang-kenangan... Lumayan aku pindah ke Bali masih bisa liat muka ko..." aku tidak pikir panjang dengan perkataanku. Toh, kita tidak akan bertemu lagi, kan?
"Satu kali jepret satu juta ya..."
"Gila! Ko pikir aku chaebol apa?"
"Apaan chaebol?"
"Konglomerat, udah cepetan deh..."
"Iyaaa... Duh, gak sabaran banget sih..."
Asal kalian tahu, dia itu cinta pertamaku yang gagal.
CEKREK!

***

Hah, aku menghela nafas panjang. Hari yang melelahkan. Aku langsung menyambar kameraku dan melihat hasil jepretan Dio, sepupuku. Dia sedang tidak ada kerjaan, jadi aku menyuruhnya untuk menjadi photographer sementara. Yah, hasilnya tidak buruk juga.

Fotoku dengan Gandy bagaikan langit dan bumi. Aku dengan tinggi 155 cm dan dia 173 cm. Kalian bisa bayangkan, bukan? Tapi setidaknya aku punya fotonya setelah sekian lama. Bahagia. Itu yang ku rasakan.

Sekolah baru, di Bali, bakal seperti apa ya? Ah, it's not important though...

Karena sudah gerah, aku memutuskan untuk mandi.

***

"Kakak, ini surat dari adek... Tapi jangan dibaca ya, nanti aja kalau udah nyampe di Bali. Ini dari Lisa, yang satunya punya Dek Lia..." aku menerima dua lembar kertas yang dilipat acak-acakan. Saat itu juga aku berpikir, apakah aku membuat keputusan yang tepat? Berbagai macam pikiran mengamuk di kepalaku. Apakah aku siap meninggalkan tempat kelahiranku ini?
"Alah... Alay..."
"Ish, yaudah sini balikin suratnya!"
"Ya ya... Jangan marah lah, iya nanti kakak baca di pesawat biar keren..."
"Ih kakak sendiri sok dramatis..."
"Biarin dong, sekali-kali seumur hidup!"
"Berarti adek boleh alay lah... Sekali-kali kan?"
"Alay mu itu udah tiap hari..."
Lisa menunjukkan raut wajah kesal. Dasar, jelas-jelas aku akan merindukan adikku yang bawel ini.

 Dasar, jelas-jelas aku akan merindukan adikku yang bawel ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 04, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PUZZLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang