Bab 1 : Cermin Retak

10 0 0
                                        

Pernahkah terpikir pada diri kalian untuk memiliki seorang kekasih yang banci, gay, dan psikopat?

Tentu tidak, bukan?

Aku pun dulu berpikir seperti itu. Hidupku, meski tidak sempurna, setidaknya berjalan di jalur yang wajar: kuliah, kerja part-time, punya teman baik, sesekali patah hati. Tapi semua berubah ketika aku bertemu dengannya—Frederick Orlando. Sosok penuh teka-teki dengan mata tajam, senyum ambigu, dan sikap yang bisa membuat siapa pun ragu: apakah dia mencintai atau ingin membunuhmu.

Namaku Lyanna Grace Sophia. Usia dua puluh dua. Mahasiswi semester enam di jurusan Psikologi. Ironis, bukan? Aku mempelajari kejiwaan manusia, tapi malah jatuh cinta pada seseorang yang entah berada di sisi mana dalam spektrum waras-gila itu.

Pertemuan pertama kami terjadi di tempat yang tidak biasa—klub drag. Aku tidak berniat datang malam itu. Temanku, Vera, memaksa. Katanya aku terlalu "kaku" dan "membosankan". Mungkin dia benar. Aku butuh sedikit warna dalam hidupku. Tapi aku tak pernah menyangka warnanya akan seintens ini.

Malam Itu

Klub "Eclipse" penuh lampu neon yang menyilaukan. Musik berdentum begitu keras hingga jantungku berdetak mengikuti ritmenya. Aku berdiri canggung di sudut ruangan, memegang mocktail yang sudah mencair separuhnya.

Lalu dia muncul.

Frederick Orlando.

Dengan gaun merah maroon berpayet yang pas membentuk lekuk tubuhnya, wig pirang mengkilap, dan eyeliner tajam seperti senjata. Langkahnya anggun. Dingin. Penuh percaya diri. Aku terpaku.

"Hey, sweetheart," sapanya, bibirnya tersenyum, tapi matanya... kosong.

Aku hanya bisa mengangguk. Seperti ada magnet tak kasat mata, aku terhisap ke dalam dunia yang ia ciptakan. Dunia yang bukan milikku.

Awal yang Tak Lazim

Aku tahu sejak awal ada yang aneh. Frederick bukan pria biasa. Dia tak pernah menyebut dirinya gay, tapi dia tidak tertarik pada perempuan... kecuali padaku. Dia menyukai laki-laki, tapi hanya dalam peran yang dia ciptakan sendiri. Kadang dia jadi "Freddy"—sosok maskulin yang protektif dan mendominasi. Kadang dia jadi "Rika"—persona feminim nya yang genit dan manipulatif. Dan kadang... dia jadi dirinya sendiri. Atau setidaknya, yang dia akui sebagai dirinya.

"Aku ini bukan satu orang, Lyanna. Aku banyak," ucapnya suatu malam sambil menatap ke luar jendela.

Aku hanya bisa menatap punggungnya yang kokoh dalam balutan kimononya yang mewah.

"Lalu... yang mana yang mencintaiku?" tanyaku hati-hati.

Dia menoleh, tersenyum lebar. "Itu tergantung, sayang. Kamu mau dicintai oleh siapa malam ini?"

Aku tak tahu harus menjawab apa.

Psikopat dalam Gaun Sutra

Tanda-tandanya sebenarnya jelas.

Frederick tak pernah membiarkanku terlalu dekat dengan teman-teman pria. Ia menyimpan nomor-nomor mereka dan mengirimi pesan penuh ancaman secara anonim.

Pernah suatu hari, sepulang kuliah, aku melihat boneka kecil tergantung di gagang pintu apartemenku. Boneka itu disayat-sayat dengan benda tajam, matanya dicongkel, dan namaku ditulis dengan darah ayam di dadanya.

Aku menelepon Frederick dengan tangan gemetar.

Dia tertawa.

"Oh, sayang. Kau harus melihat wajahmu sekarang. Aku hanya bercanda."

Tapi aku tahu dia tidak bercanda. Tak sepenuhnya.

Namun entah kenapa, aku tetap bertahan. Mungkin karena aku penasaran. Mungkin karena aku merasa... bisa menyelamatkannya.

Atau mungkin karena aku juga sudah gila.

Frederick dan Masa Lalunya

Masa lalu Frederick adalah lorong gelap tanpa ujung. Ia tumbuh di panti asuhan setelah ibunya—seorang penari kabaret—bunuh diri di depan matanya. Ayahnya tidak dikenal. Atau mungkin terlalu banyak. Di usia remaja, dia sering berpindah-pindah rumah keluarga asuh. Tidak ada yang tahan dengannya lebih dari sebulan. Terlalu "bermasalah", kata mereka.

"Orang-orang tidak mengerti keindahan dalam kekacauan," katanya suatu ketika.

Aku duduk di sampingnya, mendengarkan cerita demi cerita yang terdengar seperti dongeng menyeramkan.

"Frederick... apa kau pernah—" aku ragu melanjutkan.

"Pernah membunuh seseorang?" ia menyelesaikan kalimatku.

Aku mengangguk pelan.

Ia tersenyum. Lama. Dan matanya menatapku begitu dalam.

"Apakah kamu akan pergi jika aku bilang iya?"

Aku tak bisa menjawab.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku bermimpi buruk tentang dia. Tapi saat bangun, aku malah tersenyum.

Aku mulai menyadari, kisah cinta ini bukan tentang bunga dan pelukan. Ini tentang luka dan ketagihan.

Antara Cinta dan Ketakutan

Malam-malamku mulai dipenuhi teror kecil: lampu kamar yang tiba-tiba menyala sendiri, suara langkah kaki di lorong padahal aku tinggal sendiri, atau telepon dari nomor tak dikenal yang hanya berisi suara napas berat.

Tapi bersamaan dengan itu, Frederick menjadi semakin manis. Ia memasak untukku, mengirim bunga, bahkan menulis puisi.

"Aku ingin kamu jadi inspirasiku, Lyanna. Kamu adalah kanvas, dan aku adalah pelukis yang gila," katanya sambil mengusap pipiku dengan ujung jarinya yang dingin.

Kadang, aku ingin lari. Tapi saat aku mencoba menjauh, dia datang dengan sejuta cara untuk membuatku kembali.

"Aku tahu di mana keluargamu tinggal," katanya saat aku menghilang dua hari.

Itu bukan ancaman. Itu pernyataan.

Refleksi di Cermin

Satu malam, aku berdiri di depan cermin.

Wajahku terlihat asing. Mataku sayu, kulitku pucat. Aku bukan lagi Lyanna yang dulu. Aku telah menjadi bayangan dari apa yang Frederick bentuk.

Tapi anehnya... aku tidak membenci perubahan ini.

Aku menyentuh kaca itu, berharap bisa menembus dan menemukan versi diriku yang lama. Tapi pantulan itu tersenyum sinis padaku. Senyuman yang mirip dengan senyuman Frederick.

"Kau mulai menjadi sepertiku," bisik Frederick di belakangku, entah dari mana ia muncul.

Aku tersentak. Tapi aku tak lari. Aku hanya menatapnya—sosok yang kini tak bisa kugolongkan sebagai kekasih, musuh, atau mimpi buruk.

Dia adalah semuanya. Dan Disinilah Kisah Kami Dimulai.

Jika kau pikir kisah ini akan berakhir di sini, kau salah.

Ini baru permulaan.

Frederick bukan hanya sosok menyimpang dalam hubungan kami. Ia adalah kekacauan itu sendiri. Tapi dalam kekacauan, aku menemukan keindahan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Aku, Lyanna Grace Sophia, mencintai pria yang tak bisa dikategorikan.

Dia banci, dia gay, dia psikopat.

Tapi dia juga... milikku.

Dan sekarang, aku akan menceritakan bagaimana cinta yang salah bisa menjadi candu, bagaimana luka bisa menjadi rumah, dan bagaimana gila bisa jadi bahasa cinta.

⸻ Bersambung...

With You Where stories live. Discover now