Kiran, cewek yang paling membenci hujan. Ia pernah memiliki kehidupan yang indah sebelumnya, penuh kemewahan, punya keluarga yang menyenangkan, dan punya wajah yang cantik yang membuatnya menjadi sangat populer disekolah.
Namun sekarang berbeda. Ia tak punya apa-apa lagi. Saat kejadian 3 tahun lalu, membuatnya harus hidup sendiri. Keluarganya tertimpa musibah mengenaskan, pesawat yang mereka tumpangi jatuh dan meledak. Tidak ada satupun yang selamat.
Saat itu Kiran masih mengenakan pakaian smp. Tiba-tiba saat berada dirumah, bibi dan pamannya mengabarkan tentang kematian ayah, ibu, dan saudaranya. Kiran jatuh di lantai, menangis sesegukan. Ia tidak bisa berfikir saat itu. Bibi dan pamannya datang mendekatinya, berjongkok agar mereka dapat melihat wajah Kiran. Bibinya tersenyum, mengangkat dagu Kiran agar Kiran dapat melihatnya.
"Sayang, kau tak perlu menangis." Katanya. Kiran sedikit meredakan tangisnya. Namun Bibinya membisikkan sesuatu ditelinga Kiran membuat Kiran tercengang.
"Sebaiknya kau mencari rumah baru. Karena sepertinya rumah ini akan menjadi milik tante." Katanya. Karin kembali menangis. "Kenapa? inikan rumahnya mama sama papa, tante." Kata Kiran pelan.
Paman dan bibinya tertawa bersama. Lalu berdiri. "Kalau begitu, kau bisa tinggal disini sayang. Tapi.." Bibinya melirik setiap sudut dirumah. "Tak ada kamar untukmu."
"Tapi tante. Aku punya kamar sendiri." Kata Karin sesegukan.
"Tidak. Kamar itu milik anak tante. Laura." Kata Bibinya dan langsung menyuruh Kiran untuk berdiri. "Hm.. tante punya satu kamar." Katanya lalu menarik Kiran menuju ruangan yang sangat diketahuinya.
"Tante. Itu kan gudang!" Teriak Kiran. Bibinya menatapnya tajam. "Ya sudah. Kalo kamu gak nggak mau tidur disini, cari rumah lain!" Bentak Bibinya tak kalah keras. Kiran terus menangis, Ia masuk kedalam kamar penuh dengan barang lalu duduk sambil memeluk lututnya. Bibinya lalu melemparkan Kiran dengan kasur kecil, bantal dan selimut. Lalu pergi meninggalkan Kiran yang masih menangis sesegukan.
Tiba-tiba hujan turun. Membuat Kiran menutup kedua telinganya. Ia sangat takut dengan hujan. "Diam!" Teriak Kiran pada hujan. Namun semakin lama, hujan turun semakin deras. Petir terdengar beberapa kali. Semuanya Hujan, guntur, dan tangisan Kiran menjadi satu. Membuat semuanya semakin bertambah bising. Potongan-potongan kisah Kiran dengan keluarganya berputar seperti potongan film di otaknya, seakan memaksa Kiran mengingat semuanya. Dengan jelas, Kiran melihat bayangan Ayahnya, Ibunya, dan Kakak laki-lakinya, membuat hati Kiran terasa sangat nyeri.
Ditariknya Selimut yang tadi dilempar oleh bibinya, Lalu menutup tubuhnya dan menangis didalam sana. Tanpa satu orangpun disisinya.
YON : etss.. jangan baca sampai ini doang. Kan namanya juga prolog, belum masuk cerita sesungguhnya. Next-----><3
YOU ARE READING
When The Rain Falls
Teen FictionKiran, Cewek yang akan menangis setiap saja hujan turun. Dan kehidupannya tidak berjalan mulus, ketika ia harus hidup dalam tekanan dan perintah. Tidak ada pilihan mengharuskannya ikut masuk dalam kehidupan Kiro, cowok menyebalkan yang begitu cinta...
