Part 1

121 8 2
                                        

Tampak seorang anak perempuan kecil sedang duduk termenung di sebuah taman tengah kota. Matanya merah dan bengkak. Pipinya dipenuhi air mata. Ia menangis tersedu-sedu sendirian. Entah apa yang membuatnya begitu sedih. Kemudian datang seorang anak lelaki yang beberapa tahun lebih tua darinya. Dia berlari menuju ke tempat gadis kecil itu berada sambil membawa satu con ice cream. Sesampainya dia di sana, dia memberikan ice cream tersebut pada sang gadis. Gadis kecil itu menghentikan tangisnya. Sedihnya berganti menjadi seulas senyum yang cantik.

Anak lelaki itu adalah teman sekolah sang gadis kecil. Rumah mereka berdampingan di suatu komplek perumahan. Mereka tumbuh dan bermain bersama. Hari-hari mereka selalu mereka habiskan berdua. Sepertinya menghabiskan waktu berdua lebih nyaman bagi mereka, ketimbang harus bermain dengan anak-anak lain yang sudah pasti mengalami banyak kenakalan di usianya.

Libur telah usai dan waktu sekolah tiba. Si gadis kecil tak mau berpisah dengan anak lelaki itu. Setiap bel istirahat berbunyi gadis kecil selalu terburu-buru keluar dari kelas. Ia berlari menuju ke kelas anak lelaki itu.

Kini sampai sudah dia di depan pintu kelasnya. Dengan nafas terengah-engah dia masuk ke kelas itu dan mendapati orang yang dicarinya tak ada di kursinya. Ia sedih. Ia pun duduk sendirian di bangku anak lelaki itu. Meletakkan kepalanya di atas meja, dengan tangan dilipat, digunakannya sebagai bantal. Karena bosan. Ia menggerakkan badannya lalu terdengar suara seperti benda jatuh. Dicarinya asal suara. Ternyata yang terjatuh tadi adalah cokelat. Gadis kecil mengambil cokelat itu. Kemudian dia kembali ke kelasnya sendiri.

Sang anak lelaki yang mengetahui cokelatnya hilang, sempat mencarinya sampai sudut-sudut kelas. Laci-laci bahkan tas-tas temannya pun ia geledahi tapi tak ketemu. Lalu dia duduk dan tersenyum. Dia memikirkan gadis kecil itu. Ya pasti dia, pikirnya.

Di hari yang berbeda anak lelaki itu menaruh cokelat yang sama di tasnya. Ia tak ingin menyembunyikannya dari gadis kecilnya. Dan gadis itu mengambil cokelatnya lagi. Sampai seterusnya dia seperti itu. Anak lelaki itu tak keberatan jika gadis itu mencuri cokelatnya. Ia malah merasa senang dengan kejahilan gadis kecilnya.

Pada suatu waktu, gadis itu ingin mengambil cokelat lagi. Dia masuk dengan mengendap-endap, merogoh-rogoh tas. Kemudian ada seseorang yang masuk ke dalam kelas itu. Melihatnya sedang merogoh-rogoh tas secara diam-diam layaknya pencuri. Orang itu kaget dan berdiri di depan pintu sambil berteriak, "Hei kau! Gadis kecil pencuri!" Hal tersebut mengundang teman-temannya yang lain termasuk anak lelaki itu untuk mengerumuni si gadis kecil. Dia memasuki kerumunan itu.

"Hei, Bro! Lihatlah tasmu diacak-acak oleh dia. Dia ingin mencuri!" teriak salah seorang temannya. Gadis kecil itu menangis tersedu. Dia merasa bersalah, malu, sekaligus terhina.

Dengan santainya dia berjalan mendekati gadis itu. Tak ada rasa marah sama sekali dalam benaknya. Malah dia merasa sedih karena gadis kecilnya dituduh mencuri. Dengan lembut dia berjongkok, mengusap lembut kepala gadis kecil itu. "Kau tidak apa-apa kan?" tanya si anak lelaki. "Tidak usah takut. Ada aku di sini." Si gadis kecil pun memeluk anak lelaki itu. "Hei! Kenapa kau tak menghajarnya saja? Aku benci melihatmu baik dengan seorang pencuri!" Teman sekelasnya berteriak, menekankan kata 'benci,' 'baik,' dan 'pencuri.' Perkataan itu membuatnya merasa layak untuk dihancurkan.

Lalu dengan lantang anak lelaki itu berbicara pada sang gadis kecil. "Apa kau tahu artinya cinta?" sang gadis menggeleng dan terdengar suara bisikan-bisikan halus dari teman-temannya. Mereka menganggapnya aneh. Karena dia berbicara tentang cinta pada seorang pencuri.

"Love is when you steal my chocolate from my school pack everyday.. and I still keep it in the same place!" Si anak lelaki mengucapkannya tanpa ragu.

Teman-teman yang melihatnya tampak melongo. Terkejut dengan apa yang anak itu ucapkan. Kemudian dia merogoh tasnya, mengambil cokelat yang tadi belum sempat ditemukan gadis kecil itu, kemudian memberikan cokelat itu kepadanya. Gadis itu sempat terkejut, tak menyangka. Apa dia barusan mengungkapkan perasaan cintanya padaku? Pikirnya. Ia pun mengucapkan terimakasih dengan lirih dalam pelukan anak lelaki itu.

"Maafkan dia atas kelancangannya. Dia hanya ingin mengambil cokelat dari tasku, bukan tas kalian," ucap anak lelaki itu sembari menuntun gadi kecil kembali ke kelasnya.

Gadis itu duduk di kursinya dan anak lelaki itu duduk di sampingnya. Kini dia sudah berhenti menangis. "Kau harus berjanji tak akan meninggalkan aku," ucap gadis kecil itu sambil tersenyum manis. Anak lelaki itu pun mengangkat kelingkingnya dan mengaitkannya dengan kelingking gadis itu. "Aku berjanji padamu," balasnya. Entah mengapa rasanya nyaman ketika gadis kecil itu sedang berada di dekatnya. Rasanya seperti terlindungi oleh benteng yang kokoh. Ia sangat senang.

Bertahun-tahun, kejadian-kejadian manis selalu mereka lewati bersama. Yah meskipun mereka masih anak-anak, tapi mereka sudah mulai memiliki perasaan yang tulus dari lubuk hati mereka.

Hingga pada suatu hari, gadis kecil itu merayakan ulang tahunnya yang ke-12. Dia mengundang seluruh teman-temannya terutama anak lelaki itu. Si gadis kecil menunggunya sejak awal dengan gelisah. Namun, tak kunjung datang.

"Kau menunggunya?" tanya seorang wanita cantik yang sudah berkepala 3 sambil mengelus rambut anaknya. Gadis itu mengangguk.

"Kemana perginya dia Mommy? Aku merindukannya. Sudah seminggu dia menghilang dan saat aku undang ke ulangtahunku dia juga tidak datang." Gadis itu cemberut, merasa sedih dan diacuhkan oleh lelaki itu. Wanita itu mengusap pundak anaknya. Kemudian mencium kedua pipinya dengan lembut untuk menenangkannya. Lalu gadis itu membalas ciumannya.

Tahun demi tahun berlalu. Gadis itu kini telah beranjak dewasa. Dia masih tidak dapat melupakan lelaki itu yang mungkin kini telah tumbuh sebagai seorang pria dewasa. Dia terus menunggunya. Entah sampai kapan. Hal itu membuatnya merasa hambar saat dekat dengan pria lain. Bahkan untuk mengangkat telepon dari pria lain saja dia tak mau meskipun pria itu adalah temannya sendiri. Dia sangat anti pria. Pria yang bertahun-tahun menghilang itu kini telah membuat hatinya mati rasa.

♥️♥️♥️

Ciao my lovely readers..
Maaf baru upload yang terbaru sekarang.
Udah baru diupload, pendek lagi, belum sama bumbu gak jelasnya + gada bumbu gregetnya :") *duh pesimis bat dah aku wkwk
Yah cuma segini pikiran author buat bagian flashbacknya. Ini aja nggarapnya pas lagi nganggur. Heu heu~
Makasih udah mau baca. Semoga suka dengan ceritanya..

by : ceciliacara

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 11, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

WAITINGStories to obsess over. Discover now