Always

32 10 0
                                        

Angin malu-malu berhembus membuat rambut milik gadis itu menutupi sebagian wajahnya, namun tidak membuat gadis itu bergeming dari tempatnya bahkan hanya untuk menyingkirkan anak rambut miliknya. Dia terpana dengan pemandangan yang ada di depannya. Bunga dengan segala warna dan jenis berkumpul disini seakan dia melihat ujung pelangi di depan matanya. Taman ini benar-benar indah.

"Sudah puas melihatnya?" lelaki yang sedari tadi hanya melihat dari jauh gadisnya akhirnya mendekat dan berbisik tepat di samping telinga kanan sang gadis.

Sera –gadis itu- menoleh kesamping membuatnya langsung bertatap muka dengan lelakinya –Sehun, kemudian tersenyum dan menggeleng pelan. "Belum, ini terlalu indah jika hanya di nikmati sebentar saja"

Sehun ikut tersenyum melihat senyum kekasihnya lalu menyelipkan rambut Sera kebelakang telinganya. "Lalu mau mu apa? Melihatnya terus menerus?"

Yang ditanya memasang pose berpikir lengkap dengan jari yang ada di dagunya seakan dia benar benar sedang berpikir, padahal yang ada di pikirannya saat ini hanya menikmati waktunya bersama sang kekasih seharian ini. "Entahlah" kemudian Sera tertawa bodoh setelahnya.

"Kau ini" balasnya sambil mengacak sayang rambut Sera.

"Yak! Jangan acak rambutku. Berantakan nanti" seru Sera kesal sambil merapikan kembali rambutnya.

"Sau marah padaku hanya karena aku mengacak rambutmu sedikit, lalu bagaimana dengan angin yang dari tadi membuat wajahmu tertutupi rambut?"

"Aku tidak mungkin memarahi angin. Lagipula angin itu hanya lewat dan tidak berniat membuat rambutku berantakan, tidak seperti dirimu"

Sehun membuang nafasnya kasar "sudahlah. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?"

Uluran tangan itu masih mengambang di udara tanpa ada tanda-tanda balasan dari sang kekasih.

"Jangan berlagak romantis" jawabnya sambil melipat tangannya kedepan dada.

"Tapi suka kan?"

Blush!! Pipi Sera seakan terbakar, bukan karena sengatan matahari di awal musim panas ini tapi karena ucapan sederhana Sehun. Sera yakin pipinya sekarang sudah merah seperti tomat.

"Ayo" ajaknya kembali dengan uluran tangan yang mau tidak mau harus Sera balas dengan senyuman malu di bibirnya.

Mereka pun mulai berjalan pelan melewati hamparan bunga-bunga indah. Masih menggenggam tangan masing-masing dan angin masih berhembus malu-malu melewati mereka.

"Kau ingat Yerim?" tanya Sehun membuka percakapan

"Tentu saja! teman kelasmu yang sering membully itukan? Memangnya kenapa dia?"

"Kemarin dia datang padaku"

Sera berhenti. Pikirannya melayang jauh pada seorang Kim Yerim anak donatur terbesar disekolahnya dulu yang sering membully orang lain yang dia anggap tidak layak untuk dia jadikan teman dan fans nomor satu kekasihnya –Oh Sehun

Merasa genggaman pada tanganya berhenti membuat Sehun menoleh kebelakang dan mendapati kekasihnya sedang melihatnya dengan tatapan sengit.

"Mau apa dia menemui mu? Menggodamu lagi?"

Sehun tersenyum tahu bahwa kekasihnya sedang cemburu.

"Tidak. Dia tidak datang untuk mengodaku, dia datang untuk minta tolong"

Sera mengangkat alis bingung "minta tolong apa? Ku kira ayahnya yang punya uang banyak akan mengabulkan semua keinginannya. Kenapa malah minta tolong kepadamu yang hanya seorang dokter biasa?"

"Sera" tegur Sehun lembut sambil memengang kedua bahu Sera megajaknya untuk saling berpandangan menyelami pikiran masing-masing "kau tahu kenapa aku sangat mancintaimu? Karena kau sangat baik hati. Tapi satu yang harus kau ubah tolong jangan lihat sesuatu dari sudut pandangmu saja tapi lihatlah dari sudut pandang orang lain. Ingat kita tidak mengalami apa yang orang lain alami. Kau mengerti?"

AlwaySWhere stories live. Discover now