Langit oranye kemerahan khas senja menunjukkan waktu malam akan datang. Deraian suara angin berhembus kencang di pepohonan akasia di pinggiran distrik Tenayan Raya.
Suara notif sms berdering pelan dari handphone milik seorang gadis berambut coklat terang itu.
Sender: 0823xxxxxx
"Hai"
Gadis itu menaikkan alisnya.
Acuh tak acuh, gadis itu melempar ponselnya kekasur, lalu beranjak menuju kamar mandi mencuci wajahnya yang sudah kusam---karena seharian di luar.
Seusai dari kamar mandi, ia teringat akan file yang ia terima tadi dari teman sebangkunya di kampus. Lalu menyambar handphonenya di atas ranjang. Telunjuknya dengan sigap membuka kunci layar. Alih alih membuka file manager, matanya teralih pada notif sms.
"Dia lagi." gerutunya malas saat melihat pesan masuk tadi.
Sender: 0823xxxxxxx
"Assalamualaikum"
Lalu ia berpikir.
Dengan malas, ia akhirnya membalas pesan dari orang iseng ini,
"Waalaikum salam"
Meski penasaran, ia mencoba tidak peduli dan mulai membuka aplikasi yg ia ingin cari tadi.
Tak sampai beberapa menit, pesan masuk lagi. Masih dari pengirim yang sama.
"Ini sivi ya?"
Ia menatap datar layar handphonenya. "Dasar typo" gerutunya.
Lalu berpikir sejenak. "Ini anak siapa coba?"
Ia mengetik kasar keypad di kolom reply..
"BUKAN.."----Namun ia menghapusnya kembali, dan..
"Ya. Kenapa?"balasnya sarkastik. Sejujurnya ia tidak ingin menghiraukan orang-orang iseng seperti ini. Tapi kali ini dia ingin tahu.
Lagi lagi dalam sekian detik, pengirim tak dikenal itu membalas pesannya.
"Ini orang pake keyboard otomatis kali ya ngetiknya laju amat." Batin gadis itu heran.
"Gapapa, kok. Cuman nanya doang. Hehe" kali ini gadis itu menatap layar handphone agak lama.
Kalo dilihat-lihat dari bahasa smsnya, kayaknya dia ini kurang lebih seumuran gue deh.
Lalu mengetik lagi di kolom reply.
"Lo siapa?"balasnya to the point. Rasa penasaran menguasai dirinya.
Ia akhirnya menunggu si pengirim misterius itu membalas lagi secepatnya.
Satu menit,
Dua menit,
Tiga menit.
Tak ada balasan.
Ia terus menunggu orang iseng itu membalas pesannya.
"Ah, bodo amat dah"ucapnya malas. Lalu ia melempar handphone asal-asalan ke atas ranjang, dan pergi ke dapur.
Cuaca cerah di minggu pagi ini, ramai orang berlari pagi hingga membuat jalanan padat di kawasan taman kota. Tak jauh dari sana--di halte bis, tampak gadis berambut coklat terang, yang tak lain dan tak bukan adalah Siffy---tengah membaca salahsatu novel dari aplikasi wattpad---yang baru saja ia install kemarin di handphonenya. Sembari menunggu bis datang, ia memilih menghabiskan waktu untuk membuat kesenangannya tersendiri. Kadang, ia juga suka menggambar sambil menunggu bis atau selagi didalam bis. Dia tak peduli apa kata oranglain. Selama dia bisa bahagia, dia tentu akan terus melakukannya, pikirnya.
Ia sedang membaca novel bergenre thriller.
Kini ia wajahnya tengah menegang dan sangat penasaran. Ia terbawa suasana dengan bacaannya, hingga..
Drrttt...drrttt....
"OH MY GODDD!"pekiknya kaget saat handphonenya bergetar di jari jarinya. Hampir saja ia melempar handphonenya. Para penumpang disekitarnya sontak ikutan kaget mendengar pekikan gadis bermata besar itu. Mereka menatap tajam sekaligus heran melihat spontanitas gadis itu. Merasa bersalah, ia tersenyum meringis. Lalu menundukkan kepalanya minta maaf.
Jantung masih berdegup kencang karena kaget, keringat mengalir di pelipisnya. Lalu ia menatap layar handphone-nya lagi. "siapa sih ganggu gue. ngagetin aja. Lagi seru nih."kesalnya sambil mengecek notif dari siapa yang membuat handphonenya bergetar tadi.
"Hai"
"Ya ampun! Ternyata anak ini doang yang sms. Kirain siapa coba"gerutunya dalam hati. Tentu saja ia tidak akan meladeninya. Karena ia sudah bertekad, pikirnya.
Lalu ia membuka kembali aplikasi wattpadnya dan melanjutkan bacaannya.
Di sekolah---Saat bel jam istirahat berbunyi---setelah pelajaran bahasa inggris, Siffy membereskan alat-alat tulisnya kedalam laci, lalu menarik tangan Yuri, teman dekatnya sejak SMP untuk membeli makanan di luar.
Sesampai di McDonald, kini kedua gadis itu tengah menikmati Milo McFlurry, minuman favorit Darren Efron. Ya, mereka bisa berteman sangat baik karena keduanya sama-sama fans beratnya Darren Efron---penyanyi ternama dunia asal Australia. Sebagai fans yang baik dan fanatik banget, tentunya, mereka sangat menyukai apa yang disukai idolanya itu. Bahkan minuman sekalipun.
"Sif!" Sahut Yuri sambil melirik ke arah handphone Siffy bergetar berkali-kali diatas meja coklat yang terbuat dari kaca berbentuk persegi, menandakan ada panggilan masuk. Siffy yang terlalu sibuk menatap layar laptop Yuri—mencari video rekaman sang idola, Darren Efron—serta memcopy-paste ke flashdisk-nya, hingga ia tak sadar handphonenya bergetar tak jauh dari posisinya saat ini.
Lalu, ia menggapai handphonenya asal-asal, melihat nama yang tertera di panggilan masuk itu, dengan sigap ia menekan tombol hijau, dan..
"H-Hal—"baru mulai membuka mulut, panggilan pun terputus.
Tut..tut..tutt..
"Ck. Sialan." decak Siffy frustasi melihat layar handphonenya.
"Siapa sih, Sif?"melihat raut wajah Siffy, temannya yang berambut ikal itupun tak tahan untuk tidak bertanya.
