PROLOG

188 13 3
                                        

"Kakek? Kakek dimana?" tanya seorang anak kecil sedang mencari kakeknya kesana kemari seperti anak linglung.

"Kakek disini nak," berjalan gemetar dengan bantuan tongkat yang telah rapuh. Mengetahui kakeknya yang berjalan kearahnya, anak tersebut pun segera berlari menuju kakek dan memeluk erat pinggang kakeknya. "Ada apa nak kok memanggil kakek?" sambil mengelus-elus kepala anak itu.

"Kakek... ayo main petak umpet? Ayo kek... ayo... " anak itu memohon-mohon dan menarik-narik tangan kakeknya yang telah renta itu.

"Iya nak... iya... " dengan senyum lebar itu yang memberikan isyarat bahwa ia menyetujui permainan kepada anak kecil yang masih berumur 9 tahun tersebut.

"Yes... oke Ulfah yang hitung ya kek? Kakek sekarang ngumpet deh..." suara ceria anak itu membuat kakek bahagia. Kakek pun segera bersembunyi di tempat yang aman. Dengan berjalan pelan dibantu sebuah tongkat yang telah rapuh, kakek tersebut meninggalkan anak itu.

"Tujuh belas..., delapan belas..., sembilan belas..., dua puluh.... Yey... kakek dimana? Ulfah pasti akan menemukan kakek," anak kecil itu pun langsung berlari mengitari rumahnya untuk mencari kakeknya. Disaat mencari kakeknya yang sedang mengumpat entah dimana, ia terkejut, tiba-tiba ia melihat bercucuran darah yang berjejak dan darah tersebut menuju ke suatu tempat.

Anak kecil itu pun segera mencari tahu asal darah tersebut. Dia berjalan dengan perlahan demi perlahan dan langkahnya pun terhenti sejenak dengan sendirinya. Dia menengokkan kepalanya ke sebuah kamar dan ternyata disitulah pusat dari cucuran darah tersebut yang melukai seorang orang tua yang telah renta.

"Kakek!! Kakek! Kakek kenapa? Kakek bangun!" refleks anak kecil itu berlari kearahnya dengan memanggil terus menerus kakeknya yang berlumuran darah, sambil menangis tersedu-sedu.

Kakek yang melihatnya pun tiba-tiba berkata pada anak kecil dengan pembahasan yang sangat mengejutkan, "Nak... maafkan kakek, kakek hanya bisa menemanimu sampai sini saja. Sebelum kakek pergi, kakek ingin memberimu satu permintaan. Uhuk..! uhuk.. Coba kamu buka lemari yang sangat besar itu, di sana banyak sekali peninggalan orangtuamu dan tolong pecahkan teka-teki itu nak, kakek sudah tidak bisa melanjutkannya lagi," suara rintih kakek sambil menunjukkan telunjuknya ke arah sebuah lemari besar. Dengan nafas yang sudah memuncak hingga akhirnya ia menghela nafas untuk terakhir kali dan menutupkan mata selama-lamanya.

Anak kecil itu yang tak mengerti sama sekali maksud dari pembicaraan kakeknya hanya bisa menganggukkan kepala tanpa berkata apapun sambil menahan tangis. Ia pun segera menuruti perintah kakek yang terakhir kalinya. Sambil berjalan perlahan dengan mengusap tetesan air mata menggunakan kedua tangannya, ia membuka lemari besar itu dan dia sangat terkejut bukan main.

"Apa ini?" 

Setelah melihat kotak tua yang berada di lemari besar tersebut, ia langsung menghampiri keadaan almarhum kakeknya lagi, dan ia melihat bercak tusukan benda tajam di bagian jantungnya. Ia terkejut yang kedua kalinya.

Ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat almarhum kakeknya itu yang terbaring di atas pangkuannya. Dia menyesal, sangat menyesal. Tetapi, setelah mendengar pesan terakhir dari almarhum kakeknya, anak itu tidak mau menyesal untuk kedua kalinya.

Ia pun kembali melihat isi dari kotak tua yang berada di lemari besar tadi. Setelah membuka lebar-lebar kedua pintu lemari itu, ia pun segera membuka kotak tua tersebut. Ia sangat penasaran, apa maksud dari ucapan almarhum kakeknya itu mengenai teka-teki orangtuanya. 

Dan semangatnya pun tiba-tiba muncul kembali dengan sendirinya setelah melihat benda-benda tersebut yang terlihat sangat aneh. Sebagai anak kecil yang masih berumur 9 tahun dan sudah dihadapkan dengan kenyataan di luar nalar manusia pasti menurutnya dunia telah hancur. Namun berbeda dengan Ulfah. Ia sungguh penasaran dan langsung berfikir dewasa. Entah terbisiki setan atau apa, seolah-olah ada yang berbisik kepadanya 'Semangat Ulfah kamu pasti bisa, ayo bangkit!'

Dia pun segera menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia menggelengkan kepala berkali-kali untuk menahan semuanya dan bersikap tegar. Tiba-tiba dia mendengar suara loncatan di luar rumahnya dan ia segera menengokkan kepalanya. Dia sangat terkejut lagi, lagi, dan lagi.

"Siapa dia?"

SlagaliceStories to obsess over. Discover now