Deana sampai di sekolah pada jam 7 lewat 15 menit, itu berarti dia sudah telat. Dia memasuki jalan pintas, yaitu parkiran. Setelah ia masuk kedalam lingkungan sekolah ia diteriaki oleh salah seorang dari sahabatnya.
Ya dia Clara.
"Deaan!!!"
Dengan malas Deana memutarkan badannya.
"Apasi."
"Elu tu tiap hari telat mulu kerjanya."
"Bacod."
"Cape emang ngomong sama elu, uda ah buru masuk kelas sekarang pelajaran Pak chandra."
Tanpa ba bi bu Clara langsung menarik Deana menuju kelasnya.
"Pagi anak a-"
"Pagi Pak Chandraaa."!Deana masuk dengan tampang tak berdosanya itu lalu diikuti oleh Clara.
"Dean!"
Deana yang baru saja ingin duduk langsung berdiri dan mendapati Pak Chandra yang sedang memelototinya.
"Apa pa?"
"Kamu!"
"Ia saya? Kenapa saya cantik? Ia Bapak gausa ngakuin ah kalo saya cantik entar saya jadi malu."
"Berdiri di depan!"
"Ah Pak Chandra bisa aja, kalo bapa pengen deket deket saya bilang aja kali pa, ga usah malu malu." lalu Deana melangkahkan kakinya menuju papan tulis.
Deana mengundang tawa seluruh makhluk hidup yang ada di kelasnya itu.
"Ah Pak Deana ma suka gombal gitu, bapa jangan masukin hati ya, nanti bu Minah ga bukain pintu ntar malem." Clara tanpa berdosa mengatakan itu dan mengundang tawa.
"Clara! Kamu juga berdiri di depan!"
"Dengan senang hati pak," Clara melangkahkan kakinya itu menuju papan tulis dan berdiri disamping Deana.
Pak Chandra melirik Deana dari atas sampai bawah.
"Deana!"
"Kenapa Pak? ko saya lagi? saya kan uda disini pak."
"Kamu ga pernah berubah! tiap hari kamu make celana kesekolah, udah gitu baju kamu ga kamu masukin, terus kamu gapernah ikut upacara! Mau kamu apasih Deana?"
"Yakali Pak saya berubah, saya bukan power ranger kali. Saya tuh buru buru Pak, tadi kan sebelum saya berangkat kesini, kucing si Ucup tetangga saya tu bunting, terus yang ngebuntinginnya kabur gitu aja, terus jadi kejar kejaran deh ngejar kucing yang kurang ajar itu pak."
Semua tertawa melihat Deana yang menjelaskan dengan tampang polosnya itu.
"Udah ah kamu Clara, duduk ya, dan kamu Deana, keluar sekarang!"
"Ah bapak warbiazah deh saya makin sayang, sebenernya si tanpa bapak nyuruh keluar juga saya bakal keluar ko." Deana berjalan menuju mejanya dan mengambil tasnya.
"Astaghfirullah."
"YaAllah Bapak gausa marah marah, entar cepet tua." Deana langsung keluar kelas tanpa memperdulikan gurunya itu.
"Pak." panggil Clara.
"Apa Clara?"
"Mmm saya, mm anu mm."
"Apa? Kamu mau keluar ngikutin Deana?"
"Mmm"
"Sana keluar, bapa beruntung murid seperti kalian ga masuk pelajaran Bapak."
YOU ARE READING
Deana
Teen FictionBanyak kata kasar, mohon di maafkan. Disini menceritakan bagaimana kehidupan seorang Deana.
