Malam mencekam dengan kegelapan yang hanya disinari terangnya bulan purnama. Suasana dingin mulai menusuk bersamaan dengan suara hewan buas yang tak henti-hentinya meringkik ketakutan. Kaum serigala mengaum dengan lantang dan menyerukan bagaimana kegelapan mulai menyerang Hutang Long yang terkenal angker. Kabut mulai saling mengejar dan seakan ingin bersembunyi dibalik lebatnya hutan atau mereka menyusup memenuhi gua-gua yang berada di dalam hutan.
Sekelabat makhluk putih dengan sinar mata emas begitu cepat berlarian di tengah kegelapan hutan. Bulu-bulunya terlihat halus dengan warna putih susu serta ekornya yang berjumlah sembilan mengepung di belakang makhluk tersebut. Tubuhnya membelah sungai dan semak belukar, menghajar apa pun yang ditemui dan ditangkap mata emasnya. Hingga keempat kakinya melaju pelan ketika tiba di tepi tebing tanpa dasar.
Ia menggeram dengan taring tajam yang dipenuhi darah hewan. Bukan memangsanya untuk dimakan, rubah itu hanya melampiaskan rasa sakit dan semua amarah yang ada dalam tubuhnya. Rasa sakit yang semakin hari tak terkendali dan semakin meraup kesadarannya untuk waktu yang cukup lama.
Mata emasnya tak pernah berhenti menatap bulan purnama angkuh yang bersinar tanpa tertutup awan. Bagaimana bisa alam begitu kejam padanya? Pada rubah yang perlahan berubah menjadi sosok pemuda dengan pakaian serba hitam. Satu persatu ekor sembilannya menghilang bersamaan dengan kaki manusia yang mulai terlihat lemas, bergetar lalu detik berikutnya sosok itu ambruk.
__
Suasana rumah kayu sederhana mendadak bising dengan teriakan seorang pemuda yang memanggil kakek tua bernama Guru Wong. Kakek yang sedang membuat api untuk memanaskan air langsung berlari ke dalam rumah.
"Pangeran.. Pangeran.. Pangeran Seyoungg.. Kau tidak apa-apa ??" Ujar Kakek Wong yang mengguncang pelan pemuda yang tengah berusaha meraih seluruh kesadarannya.
Son, pemuda yang tadi berteriak segera memberikan ramuan obat dari mangkuk kayu yang sudah disiapkan "Ini cepatlah minum obat mu Yang mulia"
Perlahan Seyoung mengangkat kepalanya untuk meminum obat yang diberikan Son padanya.
"Kau sudah seminggu tidak sadarkan diri. Aku kira kau mati, karena kau tak bangun-bangun begitu lama" Ujar Son yang langsung mendapat pukulan dari Kakek Wong. Son benar-benar tak ada hormatnya dengan Pangeran negeri mereka sendiri.
"Jaga ucapanmu Son! Kau mendoakan pangeran Seyoung mati ? Dasar bocah tengik!"
"Yak! Kakek kenapa kau jadi memarahiku ? Bukankah kau juga mengatakan hal itu padaku ? Kau juga mengira Pangeran Seyoung mati setelah kau memeriksa tubuhnya dua hari yang lalu. Apa sekarang kakek benar-benar sudah tua dan pikun ? Astagaa.."
Sekali lagi kakek tua itu memukul kepala Son tanpa rasa kasihan, membuat Son langsung menggerutu dan melangkah keluar setelah Kakek Wong menyuruhnya menyiapkan makanan untuk Seyoung.
Mata kakek Wong menatap Seyoung "Apa kau tidak bisa mengendalikannya lagi yang mulia ??"
Seyoung menoleh lalu mengangguk pelan "Cepat atau lambat aku pasti akan berubah menjadi monster itu selamanya. Aku tidak akan bisa menjadi manusia lagi, karena aku sudah merasakan hatiku perlahan membeku. Dan kau tahu ? Saat malam itu aku mulai haus darah."
Kakek Wong terperangah mendengar apa yang baru saja di ucapkan Seyoung "Tidak yang mulia. Kau tidak akan berubah menjadi rubah selama aku masih bisa membantumu dengan ramuan Etan. Dan selama kau mampu menahan hatimu agar tidak beku. Kau harus berusaha melawan rubah yang ada di dalam dirimu yang mulia. Yakinlah kau tidak akan selamanya terkurung dengan rubah putih itu" ucap kakek tua itu meyakinkan.
Seyoung hanya diam, menatap langit-langit rumah sederhana yang sudah menjadi istananya sejak umur Seyoung 1 tahun. Dan sudah dua puluh tahun ia menjalani hidup sebagai manusia yang berwujud rubah putih ketika bulan purnama datang.
YOU ARE READING
Seyoung (The Half-blood Prince)
Fantasy{masa Revisi# Dia adalah pangeran. Tidak. Dia adalah Iblis. Ya. Dia adalah rubah putih dengan ekor berjumlah sembilan. Darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah seekor rubah, bukan manusia !! Siapa yang ingin berdekatan dengan iblis ? Tid...
