Gerayangi Sunyi

72 3 1
                                        

"Pentingkah hidup bila tak memiliki arti untuk orang lain?" Prinsip yang selalu digenggam oleh Nova.

Dion mengintip jendela kelasnya, terlihat Bu Riska sedang mengajar.

"Sial, kenapa musti bu Riska coba"

Dia hanya mondar-mandir didepan pintu kelas mem-pertimbangkan hendak masuk kekelas atau tidak, akhirnya dia membulatkan niatnya.

"toktoktok" 

"permisi bu, maaf tadi saya habis di uks disuruh pak budi menolong anak kelas 10 yang baru jatuh" ucap Dion pada bu Riska.

"Ah alasan tuh bu, kesiangan kali, biasa anak manja bangunya pasti siang" ejek Sinta keras.

"Wah parah lu yon, masa pagi udah ngupas pisang aja, kaya gue dong kalo malem jadinya pagi fresh" celatuk Seno.

"Apasih kalian, orang gue beneran abis dari uks, bu Riska percaya kan bu? Makasih bu" ucap Dion menuju bangkunya.

"Eh enak aja main duduk kamu, sini" bu Riska meminta dion menuju depan.

"Sini ikut saya keluar" pinta bu Riska.

salah satu tanda bu Riska telah marah adalah ketika ia meminta muridnya untuk keluar, lantas diomeli lah Dion diluar.

"Aaa mampus lu yon, rasainin tuh"

"Udah kamu jujur aja kamu darimana" tanya bu Riska ketika diluar kelas.

"Maaf bu saya tadi bangun kesiangan, soalnya semalem saya nonton bola" bela Dion.

"Yasudah nanti pulang sekolah temui saya dikantor di meja saya"

"Bu Riska gamarah nih? Wihh makasih ya bu, cantik deh kalo baik gini" goda Dion senang karena ga biasanya bu Riska bisa sebaik ini.

Bu Riska adalah guru akuntansi yang bisa dibilang umurnya relatif muda serta cantik, bu Riska memiliki suami pengusaha batubara yang cukup besar usahanya, tetapi suaminya jarang berada dirumah, ketika dia marah tak pernah ada yang berani melihat nya bahkan batuk saja tak berani dikeluarkan saking galaknya, bahkan pernah Dion disuruh berdiri didepan tiang bendera sambil menali kedua sepatunya dileher hingga bel sekolah dibunyikan.

--------------

*teng-teng-teng* bel sekolah berbunyi.

"Eh sial masih harus urusan sama bu Riska lagi, apa gue kabur aja ya besok bilang kalo gue lupa, eh jangan deh tar malah panjang urusanya" dion berdebat dengan pikiranya sendiri.

"Yaudah deh keruangan bu Riska" keputusan akhir Dion untuk menemui bu Riska

"Dion ,saya kira kamu bakal kabur, duduk gih, ambil kursi didepan" perintah bu Riska.

"Iya bu"

"Kamu emangnya kenapa sih kok langganan terlambat? Ada yang mengganggu jam tidur kamu? Atau emang kamu malas?" Tanya bu Riska.

"Bukan begitu bu, saya beneran semalem liat bola, soalnya Barcelona main, jadi gabakal kan saya tega ninggalin Barcelona sendirian" goda Dion pada bu Riska.

"Kamu ini diajak ngomong serius malah bercanda, oh iya kemaren nilai akutansi kamu 36, kamu ga malu? kalo kamu pengen nilai kamu naik, nanti sore kerumah bu Riska, gratis ibu bimbing sampai bisa"

"Iya deh bu nanti saya pikirin lagi"

"Kalo memang iya ini alamat rumah saya" bu Riska memberi kan catatan alamat rumahnya pada Dion.

" Yaudah kamu pulang gih, sudah jam setengah 3, hati-hati dijalan, jangan ngebut" perintah bu Riska.

"Iya bu, yasudah saya pamit".

Tiba "Rasa Yang Datang Bukan Untuk Singgah"Stories to obsess over. Discover now