Pentingkah permulaan ?
Pagi itu Dion berangkat sangat awal, hal ini sangat bertolak belakang dengan kebiasaan nya yang langganan telat, yang membuat nya berbeda hari itu adalah ada event di sekolah nya, pihak sekolah Dion mengadakan classmeet basket, dimana melalui acara itu dimanfaatkan bagi kakak kelas untuk ajang unjuk kebolehan, adik kelas pun ingin tampil keren di saat-saat seperti ini, memang sejak kecil ia sering bermain basket dengan ayahnya yang sekarang super sibuk, bahkan bertanya kondisi Dion saja tak pernah.
"Pagi pak jas, hari ini rokoknya libur dulu ya, saya kan ga terlambat" sapa Dion pada satpam sekolah .
Pak Jas tersenyum heran melihat Dion yang datang kesekolah sangat pagi dan kepalang bingung, kenapa Dion bisa datang sepagi ini. Dion melangkahkan kakinya melewati ruang guru dan aula dengan penuh dedikasi, hingga ia melihat seseorang sedang melepaskan mukena dari dalam masjid sekolah.
"Cih ,masih aja ada orang yang ke masjid pagi-pagi,mau jadi ustadzah kali" tanpa sadar dengan lantangnya Dion bicara seperti itu.
hingga tak lama...
"Buggg" terdengar sepatu mendarat keras dipunggungnya.
saat itu Dion sangat kaget hingga keluarlah umpatan
"Sakit anjingg,siapa sih yang nimpuk gue?" Sembari menoleh kebelakang mencari asal dari sepatu tersebut yang ternyata dilemparkan oleh Nova yang tadi berada didalam masjid.
"Punya mulut kalo gabisa ngomong manfaat mending diem aja, setidaknya kalo kamu ga sholat gausah komentar apalagi ngejek orang yang sholat" teriak Nova dengan muka kesal.
melihat ekspresi wajah Nova yang seperti itu akhirnya Dion mengurungkan niatnya untuk memperpanjang masalah.
"Nenek lampir sialan" ucap Dion berbisik lalu pergi menuju lapangan basket meninggalkan Nova.
"Dion, buruan sini lu, lama banget kemana aja sih? janjian jam 5 di lapangan malah jam setengah 6 baru nyampe" teriak Seno teman sekelas Dion saat melihat Dion membuka pintu lapangan basket.
"Sorry bro, gue abis ketemu nenek lampir tadi makanya baru sampe" Dion menjawabnya dengan muka agak kesal.
"Ah alesan aja lu, buruan sini taruh tas lu kita mulai latihanya, ntar lawan kita kelasnya Edo jangan sampe kalah" teriak Seno sambil melakukan passing-ball dengan teman lainya.
Setelah itu mereka pun melakukan latihan bersama, dan jadwal mereka main dengan kelas Edo dimulai pada pukul setengah 8.
"Priiiit" pertandingan antara kelas 12 dengan kelas 11 akhirnya dimulai dimana kelas Edo melawan kelas Dion,
"Aaaaa, Dion lu ganteng banget sih, tar abis main ajakin gue ngedate dong"
"Dion kalo lu menang tar gue kasih barang bagus deh" suara riuh kakak kelas cewe meneriaki Dion.
Baru berjalan 10 menit suasana dilapangan sudah sangat panas karena permainan tidak berjalan sehat, provokasi serta planggaran yang dilakukan oleh Edo dan temanya jelas memancing emosi Dion.
"Anjing! bngsat lu, becus maen basket ga sih lu?"
"Bugg" suara pukulan Dion mendarat dimuka Edo
"Mampus lu" ucap Dion.
Sontak melihat hal ini teman-teman kelas 12 Edo yang berada diluar lapangan langsung berlarian memasuki lapangan untuk mengeroyok Dion, sebelum itu pak Joko sudah menodongkan tongkat kasti yang terbuat dari besi ke anak 12 yang hendak masuk, hal ini memaksa kelas 12 yang baru memasuki lapangan lari ketakutan hingga kembali keluar lapangan, pak Joko menghampiri Dion dan Edo lalu menarik rambut mereka berdua
