01.00

66 3 6
                                        

Sakit. hanya itu yang dirasakannya.

Di atas salju seonggok tubuh terbaring dalam genangan darahnya sendiri. Gemeletuk antara retakan tulang seolah berdengung dalam telinganya.

Dia sekarat.

Kematian terasa begitu dekat, seolah berusaha menggapai tubuh remuknya untuk didekap dalam keabadian yang sunyi dan gelap.

Lalu sang keabadian tersenyum padanya, menaungi dengan sayap legam yang terbuang dari surga. Mengulurkan tangan untuk menariknya dalam rengkuh hangat sang pendosa



Secara harfiah.

Ya, sayap legam itu benar benar terbentang di atasnya, menghalau keping dingin salju yang perlahan jatuh pada wajah yang memutih dingin.

"Kau akan mati, mau ikut dengan ku?" suaranya yang sedalam palung tergelap memecah sunyi. Bagai geraman makhluk buas yang mengirim jiwa sang mangsa ke sudut terdalam hatinya untuk bersembunyi

Takut. Ia tau makhluk di sisinya kini bukanlah manusia. Ia pernah mendengarnya, tentang pangeran pangeran surga yang dibuang karena sebuah dosa, berubah menjadi makhluk gelap yang begitu indah tapi juga berbahaya.

Legenda mengatakan 'mereka akan datang pada darah yang menyucikan sayap sayap para pendosa, mengembalikannya pada cahaya yang tinggi dan bersedia untuk tetap berada di bawah naungan penyelamat mereka'. Terdengar indah memang, seolah terdengar seperti takdir yang harus dipenuhi oleh orang yang terpilih. Sayangnya ramalan itu hanya membelokkan makna untuk sesuatu yang disebut "menukar jiwa".

Dan dengan tatapan sendu sang keabadian ia akhirnya jatuh dalam gelap yang kekal.

"Tolong, bawa aku bersamamu."







































Jungkook tersentak bangun, nafasnya terburai dan tubuhnya mandi keringat. Mimpi buruk barusan buruk sekali, yang terburuk selama musim dingin. Terasa sangat nyata dan terlalu nyata, dia masih ingat dengan jelas mobil yang menabraknya, tulang tulang rusaknya yang remuk terlindas dan nafasnya yang putus putus dan genangan genangan darah dan pria tampan itu.

Helaan nafas leganya jelas terdengar di dinding dinding kamar. Semua itu mimpi, tidak akan ada pria tampan yang menciumnya dan membawanya jauh dari kematian.

"Tidur mu nyenyak?" dan sekarang pria itu menyapa dari mulut pintu dengan salah satu celana panjang miliknya.

Jungkook hampir tidak sadar kalau dia menahan nafas saat melihat sayap sayap yang menekuk seperti sayap burung bangkai itu terlipat di balik punggungnya, terseret seret saat dia berjalan mendekat dan warnanya sepekat tinta arang karena berlatar tembok kosong. Tidak ada jeritan kaget atau tangisan takut atau makian atau lainnya, Jungkook memantung, terpesona.

Bahkan saat lututnya menjejak ranjang dan wajahnya menjadi teramat dekat Jungkook hanya meremas seprei semakin keras. Begitu sekelumit daging yang lembut mendarat di pundaknya barulah Jungkook sadar dirinya tidak berbalut pakaian.

"Bau mu manis sekali." suara pria asing itu begitu akrab, hangat dan menyapa seperti uap teh di pagi hari.

"Selamat sore, Jeon Jungkook." kali ini wajah mereka berhadapan. Amat sangat dekat sampai ujung hidung mereka bergesekan, sampai Jungkook bisa mencium bau yang manis dan getir dari dengukan nafasnya, nyaris seperti brendi atau wine atau sesuatu yang seperti itu. Hangat dan mengundang tapi juga tajam dan memabukkan.

Jungkook yang lebih dulu membuat jarak, memalingkan wajah dan beringsut mundur sampai punggungnya bertemu kepala ranjang. Dipikirnya pria ini mabuk.

"Maaf" dia sedikit menjauhkan wajah dan mencium sebelah lutut Jungkook yang menekuk berbalut selimut "Apa aku menakuti mu?"

"Aku tidak suka disentuh." tukasnya cepat. Padahal Jungkook tidak bermaksud bicara setajam itu.

Dari sudut matanya Jungkook melihat sayap sayap hitam yang semula menekuk itu mengembang. Mengurungnya dalam sangkar bulu legam dan suara rendah pria yang bersamanya tidak lagi terdengar bersahabat.

"Tatap aku." katanya.

Jungkook benar benar tumpul sejak dia menanyakan keadaannya dari ambang pintu. Otak jeniusnya tidak lagi mampu mengolah informasi dengan semestinya, kepala nya benar benar kosong sampai suara itu mengulang perintahnya.

"Lihat ke arah ku, Jeon Jungkook." perintah terakhir membuat Jungkook patuh dan menatapnya.

Mata mereka bertemu dalam satu garis dan irisnya berpendar kebiruan seperti permata, wajahnya diterpa sisa sisa jingga matahari mencetak bayangan bulu mata di atas tulang pipinya. Dia menatap Jungkook seolah berseru 'tidak seharusnya kau keberatan' dengan lantang, namun saat ia hendak menciumnya lagi Jungkook menempatkan jari jari tangannya di atas tulang pipinya yang terpahat sempurna dan rahang rahang tajamnya. Lalu Jungkook jatuh semakin dalam pada kubang pemujaan tak berujung pada rupa adonisnya, pada bahu bahu kokohnya, pada jari jarinya yang menjadi pucat di atas kulitnya yang kecoklatan, pada sayap sayap obsidian miliknya, dan semuanya.

"Apa kau ini?"

"Apa menurutmu aku ini?"

"Malaikat?"

"Ya, aku akan jadi malaikat untukmu."

"Siapa namamu tuan malaikat?"

"Siapa kau akan memanggil ku?"

"Kau menyuruhku memberi mu nama?"

"Ya, kalau kau berkenan."

"Kau boleh memilih sendiri namamu."

"Kalau begitu aku memilih V."

"V?"

"Ya?"

"Apa yang kau inginkan dariku? Aku tidak punya apapun untuk diberikan padamu."

"Aku ingin mencium mu, bolehkah?"








1-12-2019

DEALING With THE DARKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang