Friend (1)

74 15 0
                                        

Seorang gadis kecil menangis tersedu-sedu. Teman-temannya menjauhinya hanya karena ia selalu mendapatkan perhatian dari gurunya. Ia duduk diayunan seraya mendorongnya pelan. Teman-temannya tertawa riang  tanpa mengajaknya. Ia hanya bisa memperhatikan semua itu dari kejauhan. Kesendirian adalah kata yang selalu menemaninya. Tiba-tiba seorang anak  lelaki yang seumuran dengannya mendorong ayunannya. Tidak terlalu kencang. Namun, berhasil membuatnya terperanjak kaget. Hampir saja ia terjatuh, jika tidak memegang pegangan dengan erat.

"Hentikan!" Pekik gadis itu.

Diam. Anak lelaki itu mempercepat ayunannya. Ia tak memperdulikan wajah sang gadis yang sudah mengeluarkan keringat dingin. Gadis itu menangis semakin kencang. Barulah lelaki itu berhenti mendorong ayunan.

Ayunan itu semakin lama lajunya semakin lambat. Sampai pada akhirnya berhenti. Menampakkan wajah sang gadis yang sudah dibanjiri air mata. Kesal. Gadis itu mengusap air matanya. Ia menatap wajah lelaki itu dengan tajam.

Lelaki itu terdiam memperhatikan wajah sang gadis. Imut, pikirnya. Rambut panjang kecoklatan, mata hitam berkaca-kaca, dan pipi chubby. Cukup membuat lelaki itu gemas.

Gadis itu berjalan ke arah lelaki dengan sedikit gontai. Gadis itu mendekat dan menendang tulang kering lelaki itu.

"Hei! Aku sudah berusaha membuatmu tertawa." Ujar lelaki itu kesal.

"Itu membuatku takut." Ujar Gadis itu berteriak.

"Aku kan tidak tahu, jika itu membuatmu takut!"

"Aku tak butuh hiburanmu." Ujar Gadis itu memanyunkan bibirnya.

Keributan mereka terdengar oleh banyak ibu-ibu, termasuk ibu mereka. Ibu mereka langsung menghampiri anaknya yang sangat berisik.

"Lidra! Tidak baik berteriak-teriak." Ujar Linda-ibunya.

"Dia yang mulai duluan!!!" Ujar Lidra tidak terima disalahkan.

"Kau yang mulai!!!" Balas lelaki itu.

"Vallen! Ibu tidak mengajarkanmu berteriak." Ujar Dinda-ibu Vallen.

"Ayo berbaikan!" Ujar Ibu mereka bersamaan.

Vallen mengulurkan lengannya dengan malas. Lidra juga sama, bedanya Lidra tidak mau menatap Vallen. Mereka memegang tangan satu-sama lain dengan tidak ikhlas.

"Maaf." Ujar Lidra dan Vallen bersamaan.

"Aku Vallendra Okta Averill." Ujar Vallen datar.

"Aku Lidra Alexa Denver." Ujar Lidra jutek.

Cepat-cepat mereka melepaskan genggaman tangannya.

Perkenalan itu. Merupakan awal mereka menjadi sahabat. Awal dari kisah mereka. Entah akan menjadi sahabat selamanya atau menjadi Cinta.

*****

Terik matahari tak membuat kedua anak manusia mengeluh. Mereka berada di Taman yang Indah. Dipenuhi dengan bunga-bunga bermekaran. Udara yang sangat segar. Lidra dan Vallen tengah berteduh di bawah rindangnya pohon Mangga.

Vallen memalingkan wajahnya ke arah Lidra. Ia menatap wajah Lidra "Apa yang kau pikirkan?" Tanyanya.

"TK bersama. SD bersama. SMP bersama. Sekarang SMA juga kita sama. Aku senang saat mengetahuinya."

"Tapi pernahkah kau merasa bosan saat bersamaku?" Lanjut Lidra.

Ia menatap wajah Vallen. Menantikan jawabannya. Jujur. Terkadang Lidra merasa bosan ketika mengingat mereka selalu bersama.

Far Away [Re-write]Where stories live. Discover now