Di sekolah Maya yang termasuk sekolah favorit di kotanya sedang melaksanakan kegiatan CMS atau biasa disebut Class Meeting School dimana kegiatan itu hampir sama dengan kegiatan porseni.
Saat itu sedang berlangsung pertandingan final futsal kelas XE melawan XG yang mana kelas XE itu merupakan kelasnya maka Maya pun bersedia menjadi suporter terheboh saking hebohnya dia memancing seluruh perhatian siswa siswi yang ada di sekolah saat itu. Tanpa peduli dia tetap saja berteriak menyemangati teman-temannya yang sedang bertanding.
Suporter XG yang merupakan lawan dari kelasnya itu memandang Maya seolah tak mau kalah dengannya mereka pun berteriak sekeras mungkin sehingga Maya terpancing untuk berteriak lebih besar lagi.
Saat itu juga Maya melihat temannya yaitu Atika dan Angel diajaknya untuk berteriak " Tik, Jel bantuin gue nyemangatin kelas kita dong. Masa gue doang yang teriak" kataku sambil melirik ke arah lawan.
"Ya lo nya aja yang terlalu semangat May, udah ah males" kata Tika dengan malasnya.
"Ayolah sekali doang kali, lihat tuh suporter kelas XG banyak banget nah masa kelas kita cuma gue doang. Ayo dong temenin gue biar teriakan kita bisa seimbang" kataku sambil memohon.
"Ah iyaiya sekali doang ya" kata Angel. Atika hanya bisa terpaku diam mendengar perkataan Angel.
"Thanks banget Njel, ya udah yuk kita semangatin mereka" kataku semangat.
Tanpa sadar ternyata Atika dan Angel tidak ada di belakangnya. Ya benar mereka kabur ternyata perkataan Angel tadi hanyalah tipuannya saja agar aku tak terus memaksa mereka untuk menjadi suporter.
"Ah ya sudahlah tanpa mereka pun gue bisa menjadi suporter walaupun suara gue gk sebesar anak kelas XG sih"kataku.
Waktu tak terasa sampai akhirnya peluit panjang dari wasit pertanda waktu pertandingan telah usai. Ya akhirnya kelas kami harus menerima kekalahan yang ditentukan dengan tendangan adu penalti. "Jika penjaga gawangnya bisa hati-hati ya pasti gak bakal kebobolan tuh gawangnya" kataku emosi.
Aku mencoba berfikir jernih bahwa itu sudah takdir dari Allah bahwa kelasnya akan mengalami kekalahan. Gimana juga penjaga gawangnya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan gawangnya tapi nasib kelas mereka saja yang belum beruntung.
YOU ARE READING
Sebuah Ungkapan
Short Storyini hanyalah sebuah ungkapan hati yang dirasakan oleh seorang gadis yang kemudian tersadar akan kesalahan yang telah diperbuatnya.
