Dear Diary,
Ini adalah hari pertamaku menginjakkan kakiku dibumi pertiwi tercinta, Indonesia, setelah 6 tahun aku meninggalkannya. Banyak sekali perubahan yang terjadi, dan ini membuatku sangat gugup dan bersemangat. Aku sudah tidak sabar untuk bisa melepas rindu dengan hal-hal yang biasa ku lakukan sebelum aku pergi belajar di Negara dengan menara Eiffelnya yang indah, pasti akan sangat menyenangkan.
Hal-hal seperti makan mie ayam dekat sekolah, nongkrong di kedai Paman Georgi sambil makan ayam tepung dan mocacino, serta banyak hal lainnya. Untuk hal pertama yang ingin aku lakukan adalah, bertemu dengannya. ^_^ (11 September 2014)
****
"Elfa! Maaf, aku terlambat." Sapanya gugup.
Aku tersenyum tipis. "Oh..! aku juga baru datang, kok. Jadi santailah."
"Iya!" jawabnya. Gugupnya makin terasa.
"Ehm... Aku senang sekali kamu mau meluangkan waktumu untuk menemuiku, terimakasih, ya!" kataku basa basi –lebih tepatnya senang-
"Iya, sama-sama."
"Ehm.. Kabar kamu gimana?" tanyaku lagi, kini aku mulai mereasa dia bukan gugup. Aku sedikit khawatir.
"Baik, kamu?"
Aku tersenyum. "Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik."
"Yah, syukurlah."
"Ehm.. Kalau keluarga, apa kabar? Aku sudah lama sekali tidak bertemu mereka."
"Keluarga baik, ya.. meski sedikit flu akibat perubahan cuaca."
Dia tertawa, tapi kenapa itu terdengar terpaksa.
"Ehm, ya! Kamu banyak berubah juga, lebih rapi, lebih sibuk dan lebih formal juga."
"Biasa saja, pekerjaanku yang mengharuskanku menggunakan dasi dan jas."
"Oh.. yah..." aku mengangguk-anguk sambi tertunduk, aku mulai tersenyum tidak percaya diri. "Itu terlihat bagus di diri kamu." lanjutku.
Sejenak susana membeku, kami berdua larut dalam hidangan yang aku pesan sesaat aku sampai untuk kami berdua. Aku kehabisan kosa kata, sungguh.
"Kalau kamu, sudah punya pekerjaan? Lulusan Paris, pasti mudahlah cari kerja!"
"Emm... ada beberapa perusahaan yang akan ku lamar, dan ada juga yang menawarkan aku pekerjaan. Hanya saja aku ingin santai terlebih dahulu. Aku ingin melakukan beberapa hal yang aku rindukan selama aku di Paris. Kamu mau, kan menemaniku?"
Dia terdiam tertunduk menyembunyikan senyumnya –sedihnya- padahal, aku baru saja mendapat kepercayaan diriku.
"Banyak hal yang telah berubah, El. Semua sudah tidak seperti enam tahun yang lalu." jawabnya dengan senyum berat dibibirnya.
"Oh, iya! Bapak menejer pasti sibuk, hehehe! Yasudah kalau kamu tidak bisa menemani, aku bisa sendiri, kok!" aku memasukkan paincake dengan senyum paksa, aku tidak mau terlihat sedih –menyedihkan-
"Maaf, yah." katanya kemudian. Aku tahu dia tak ingin dianggap sebagai laki-laki yang tidak peka melihat lawan bicaranya tertunduk –menyedihkan- dihadapannya.
"Iya..! ngomong-ngomong kedai Paman Georgi masih ada, kan? aku rindu sekali makan ayam tepung disana."
"Sepertinya, ehm... masih."
"Kamu masih sering datang kesana?"
"Sejak kuliah, aku sudah tidak pernah datang ke sana lagi. Tapi kemarin saat aku ke rumah bos dan sempat melewati kedainya Paman Georgi, sepertinya masih buka."
YOU ARE READING
D e s e m b e r
Short StoryAku Hanya Ingin Kamu Tahu, Jika Aku Tidak Pernah Ingin M e n i n g g a l k a n M u . Ps:Komen yah, aku Mohon TwT (Cerita Ala Indonesia)
