"Nikah, yuk?" Terlalu santai.
"Will you marry me?" Oh, itu basi. Ia tahu itu.
"Arghh!" Luke menggeram frustasi di hadapan cermin itu. Tangannya sudah mengacak rambut berantakannya hingga tambah tak beraturan.
Tiba-tiba, pintu kamar Luke terbuka. Sesosok gadis terlihat di ambang pintu.
"Luke? Lo kenapa?" Tanyanya khawatir.
Dengan cepat Luke berbalik, "Lo kenapa di sini?"
Wajah sang gadis meragu, "G-gue tadi denger lo teriak frustasi gitu."
Luke dapat merasakan wajahnya memerah. "I'm okay, Char. Lo bisa keluar, ga?"
Tatapan mata Charlotta sedikit menunjukkan sakit hati, namun kilatan itu menghilang dalam sekejap. "Um, iya," lalu ia berbalik hendak menutup pintu.
"Char," panggilan Luke membuat Lotta berbalik.
Luke berbalik menatap cermin. Ia sempat melihat kilatan sakit hati di mata Lotta, dan ia tak kuasa menahan rasa bersalahnya. Selalu seperti itu. Setiap kali Charlotta mengkhawatirkannya, ia akan selalu menjawab dengan kasar.
"Maaf ya, Char," Luke bergumam lirih.
"Ya..." Lotta bergumam pelan. Saat hendak berbalik, Luke memanggilnya lagi.
"Besok mau dinner, ga?"
"Eh, emang ada acara apa?"
"Ga ada apa-apa sih, kita kan udah lama ga dinner diluar."
Lotta tampak menimbang-nimbang sebentar. "Boleh, sih, tapi kenapa ga hari ini?"
Luke tampak berpikir sejenak, "Gue masih ada kerjaan."
"Oh," Lotta terdiam sebentar. "Tapi baju gue lagi pada di laundry semua. Temenin beli baju, yuk?"
"Lo bisa beli sendiri aja ga? Gue sibuk."
Lotta menatap Luke dengan kecewa, "Sesibuk itu ya? Yaudah deh gue bentar lagi pergi, ya."
Luke hanya bergumam seraya menatap Lotta yang tengah menutup pintu.
Setelah memastikan Lotta takkan memasuki kamarnya, Luke berbalik menghadap cermin.
"Mari kita mulai lagi, Cha-" belum sempat Luke melanjutkan, pintu kamarnya terbuka sedikit. Kepala Charlotta sedikit menyembul dari balik pintu.
Luke hanya berbalik menatap Lotta datar.
"Luke, gue pergi dulu ya,"
Luke bergumam sebagai balasan. Saat Lotta ingin menutup pintu, Luke memanggilnya lagi.
"Lo pergi sama siapa? Naik apa?"
"Sendiri. Kayanya naik bis deh."
"Hm, yaudah." Lalu Luke kembali menghadap cermin.
Terdengar helaan napas dari Charlotta disusul oleh deritan pintu yang ditutup.
Setelah mendengar suara pintu depan yang berdebam tertutup, Luke menghela napasnya kesal. Mengapa ia tidak pernah bersikap manis pada Charlotta, padahal gadis itu selalu bersikap ceria di hadapannya. Mengapa ia tak bisa sebebas itu menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya pada Charlotta?
Luke mendesah kesal sambil mengusap wajahnya kasar. Kisah cintanya dengan Charlotta memang paling bisa membuatnya frustasi.
---
"Charlotta?" Sebuah suara mengalihkan perhatian Lotta dari dress putih yang tergantung rapi di rak. Lotta berbalik dan menemukan figur asing yang terasa familiar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Heart Like Stone
FanfictionKarena setiap orang memiliki sisi yang berbeda untuk orang yang berbeda. Spinoff from Safety Pin by @broodingover
